Arsenal Juara Bertahan Premier League: Antara Kutukan Sejarah dan Ambisi Arteta
Baca dalam 60 detik
- Arsenal memulai musim 2026/27 sebagai juara bertahan, menghadapi tekanan psikologis yang sering menggagalkan upaya back-to-back.
- Persaingan musim ini makin ketat dengan lima tim besar berganti manajer, sementara Arsenal justru mempertahankan stabilitas di bawah Mikel Arteta.
- Cedera William Saliba menjadi ujian besar bagi lini pertahanan Arsenal, sementara rival-rivalnya seperti Chelsea dan Manchester United tampil agresif di bursa transfer.

Arsenal mengawali musim 2026/27 dengan status juara bertahan Premier League, sebuah posisi yang belum pernah mereka alami sejak 2004/05. Namun, sejarah menunjukkan bahwa mempertahankan gelar adalah tantangan yang jauh lebih berat daripada merebutnya, dan The Gunners kini dihadapkan pada kutukan yang telah menjegal banyak juara sebelumnya.
Dalam dua dekade terakhir, hanya dua manajer yang berhasil mempertahankan gelar Premier League secara beruntun: Sir Alex Ferguson dan Jose Mourinho. Dominasi Pep Guardiola bersama Manchester City sempat membuat hal itu tampak mudah, tetapi kepergiannya musim panas ini membuka kembali ketidakpastian. Sebelum era Guardiola, gelar berganti tangan delapan musim beruntun, menunjukkan betapa sulitnya mempertahankan supremasi di liga paling kompetitif di dunia.
Faktor psikologis menjadi penghalang terbesar. Setelah musim panjang yang penuh tekanan, pemain juara sering kehilangan motivasi. Leicester City adalah contoh nyata: setelah dongeng 2015/16, mereka nyaris terdegradasi musim berikutnya. Seorang pemain The Foxes saat itu menggambarkan perasaan juara seperti mendaki Everest, lalu diminta memanjatnya lagi setelah turun. Mantan pemain sayap Premier League, Andros Townsend, menilai Arsenal akan kesulitan mengulang pencapaian musim lalu karena kompetisi yang semakin ketat. Liverpool, misalnya, selalu gagal mempertahankan gelar dalam dua dekade terakhir, bahkan finis di luar empat besar setelah juara.
Meski demikian, Arsenal memiliki keuntungan yang tidak dimiliki rival-rivalnya: kontinuitas. Mikel Arteta memasuki musim ketujuhnya, sementara Manchester City, Liverpool, dan Chelsea berganti manajer. Manchester United dan Tottenham juga punya pelatih baru yang baru menjalani musim penuh pertama. Di bursa transfer, Arsenal tidak banyak berubah, hanya mendatangkan Christos Tzolis dan Bruno Guimaraes. Arteta percaya Guimaraes akan menjadi katalisator baru. "Dia menggambarkan dirinya sebagai seorang pejuang, dengan kualitas, intuisi, dan kepemimpinan yang akan menyalakan sesuatu yang berbeda di tim ini," ujarnya. Namun, cedera William Saliba yang diderita di Piala Dunia menjadi pukulan telak. Bek Prancis itu akan absen dalam waktu lama, mengganggu duet solidnya dengan Gabriel Magalhaes yang menjadi fondasi pertahanan Arsenal musim lalu.
Sementara itu, para pesaing justru tampil agresif. Chelsea, di bawah Xabi Alonso, menggelontorkan dana besar untuk Morgan Rogers, Maxence Lacroix, dan Marco Palestra, plus veteran Jordan Henderson dan Danny Welbeck untuk memimpin ruang ganti muda. Manchester City, yang kini ditangani Enzo Maresca, kehilangan Rodri tetapi berpotensi menggantinya dengan Enzo Fernandez. Manchester United memperkuat lini tengah dengan Youri Tielemans dan Andrey Santos. Tottenham, dengan Roberto de Zerbi, menghabiskan lebih dari £200 juta untuk Sandro Tonali dan Mateus Fernandes. Bahkan Aston Villa, juara Europa League, mengalami perombakan besar-besaran dengan kepergian beberapa pemain kunci.
Jadwal awal musim juga bisa menjadi penentu. Berdasarkan peringkat kekuatan global Opta, Manchester United memiliki lima laga pembuka termudah, sementara Arsenal dan Manchester City mendapat tingkat kesulitan yang sama. The Gunners akan menjamu Coventry, lalu bertandang ke Aston Villa, menjamu Chelsea, dan menutup dengan laga tandang melawan Sunderland dan Brighton. Sementara City memulai dengan menjamu Bournemouth, lalu ke Crystal Palace, menjamu Coventry, bertandang ke Old Trafford, dan menjamu Sunderland.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, persaingan ini menarik karena banyak pemain yang akrab dengan liga-liga Eropa. Kehadiran pemain seperti Bruno Guimaraes dan Morgan Rogers di klub-klub besar tentu menambah daya tarik. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana Arsenal menghadapi tekanan sebagai juara bertahan. Mampukah mereka mematahkan kutukan sejarah, atau justru rival-rival yang baru bangkit akan merebut takhta? Musim ini akan menjadi ujian sejati bagi Arteta dan anak asuhnya.



