27 Ton Logistik Dikirim ke NTT, Pemerintah Kerahkan Ribuan Personel: Darurat Gempa Flores Masuk Fase Percepatan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah telah mengirimkan 27 ton bantuan logistik ke NTT melalui beberapa kloter penerbangan Hercules hingga Sabtu malam.
- Lebih dari 3.500 personel TNI/Polri dikerahkan ke Flores untuk evakuasi dan pemulihan pascagempa M7,7.
- Presiden Prabowo memerintahkan jajaran menteri dan kepala lembaga untuk langsung meninjau lokasi bencana, memastikan respons cepat dan terkoordinasi.

Pemerintah memastikan arus bantuan untuk korban gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mengalir, dengan total 27 ton logistik telah dikirim hingga Sabtu malam. Langkah ini merupakan bagian dari percepatan penanganan pascagempa yang menewaskan sedikitnya 47 orang dan melukai puluhan lainnya di sejumlah kabupaten di Pulau Flores.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan, pengiriman dilakukan melalui beberapa kloter penerbangan Hercules pada hari yang sama. "Ini adalah kloter terakhir penerbangan hari Sabtu. Dari total 27 ton logistik sudah terkirim ke NTT dengan berbagai kloter penerbangan Hercules di hari itu juga," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu.
Tak hanya logistik, pemerintah juga mengerahkan sumber daya manusia dalam jumlah besar. Sebanyak 3.500 personel TNI dan Polri diterjunkan ke berbagai daerah di Flores, termasuk Manggarai, Maumere, dan daerah terdampak lainnya. Mereka bertugas membantu proses evakuasi, pencarian korban, serta pemulihan infrastruktur vital.
Presiden Prabowo Subianto, menurut Teddy, telah memerintahkan para pejabat tinggi untuk langsung terbang ke lokasi bencana pada hari kejadian. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, Kepala BNPB Suharyanto, serta Kepala Basarnas Mohammad Syafii menjadi bagian dari rombongan yang ditugaskan memastikan penanganan berjalan cepat dan tepat sasaran.
Selain itu, unsur Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PLN, Pertamina, dan Telkom juga diterjunkan. Mereka bertugas memulihkan layanan energi dan komunikasi yang sempat terganggu, sekaligus memastikan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi. Ini menunjukkan pendekatan lintas sektor yang diusung pemerintah dalam merespons bencana.
Data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Sabtu pukul 18.48 WIB mencatat 47 korban jiwa. Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan merinci, korban terbanyak berada di Kabupaten Manggarai dengan 24 orang, disusul Manggarai Timur 17 orang, Sikka 3 orang, Ngada 1 orang, dan Ende 1 orang. "Selain korban ini, petugas mengevakuasi dan melakukan perawatan medis terhadap para korban luka-luka," katanya.
Gempa yang mengguncang Kabupaten Nagekeo pada Sabtu subuh itu sempat memicu peringatan dini tsunami dari BMKG. Namun, peringatan tersebut dicabut pada pukul 07.30 WIB. Meski demikian, dampak kerusakan dan korban jiwa tetap signifikan, terutama di kawasan pesisir dan permukiman padat.
Bagi masyarakat Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi, mengingat NTT berada di kawasan cincin api Pasifik. Kecepatan respons pemerintah dalam 24 jam pertama menjadi kunci untuk meminimalkan korban lebih banyak. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, TNI/Polri, dan BUMN patut diapresiasi, namun tantangan ke depan adalah memastikan distribusi bantuan tepat sasaran dan pemulihan jangka panjang, termasuk rehabilitasi infrastruktur dan psikososial bagi penyintas.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah bagaimana pemerintah memastikan kelangsungan hidup warga yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian dalam beberapa pekan ke depan. Akankah bantuan logistik diikuti dengan program pemulihan ekonomi yang berkelanjutan? Ini menjadi pekerjaan rumah yang tak kalah penting dari penanganan darurat itu sendiri.



