Kobayashi Sowan ke Yasukuni, Ketegangan Asia Timur Kembali Memanas
Baca dalam 60 detik
- Eksekutif senior LDP, Takayuki Kobayashi, mengunjungi kuil kontroversial Yasukuni pada Minggu, sehari setelah sejumlah pejabat kabinet dan pimpinan partai lainnya melakukannya.
- Kunjungan ini memicu reaksi keras dari China dan Korea Selatan, yang melihatnya sebagai pembenaran atas masa lalu agresi Jepang.
- Perdana Menteri Sanae Takaichi, meski tidak hadir secara fisik, tetap memberikan persembahan dan melakukan ritual penghormatan dari kejauhan, menandakan sikap yang tidak berubah.

Takayuki Kobayashi, salah satu pejabat tinggi Partai Demokrat Liberal (LDP) Jepang, pada Minggu (16/8) mengunjungi Kuil Yasukuni di Tokyo, sehari setelah sejumlah anggota kabinet dan pimpinan partai lainnya melakukan hal yang sama dalam rangka peringatan 81 tahun berakhirnya Perang Dunia II. Langkah ini langsung memicu kecaman dari Beijing dan Seoul, yang selama ini menganggap kuil tersebut sebagai simbol militarisme Jepang di masa lalu.
Kobayashi, yang menjabat sebagai kepala kebijakan LDP, tidak ikut serta dalam kunjungan Sabtu lalu karena harus menangani dampak hujan deras di daerah pemilihannya, Prefektur Chiba. Namun, keesokan harinya ia datang sendirian ke kompleks kuil yang menjadi pusat kontroversi itu. "Saya datang sebagai anggota keluarga," ujarnya kepada wartawan, merujuk pada kakeknya yang gugur dalam perang. "Saya memperbarui tekad untuk melindungi kehidupan rakyat Jepang."
Kunjungan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik. Sebelumnya, Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi dan tiga menteri lainnya telah lebih dulu mengunjungi kuil tersebut pada hari Sabtu. Perdana Menteri Sanae Takaichi, meski tidak hadir secara langsung, tetap mengirimkan persembahan ritual (masakari) ke kuil. Ia juga melakukan gerakan penghormatan ala Shinto dari aula Nippon Budokan yang berjarak beberapa ratus meter dari Yasukuni, dengan membungkuk dua kali, bertepuk dua kali, dan membungkuk sekali ke arah kuil. Tindakan simbolis ini dinilai sebagai bentuk pembiaran atas simbol-simbol masa lalu yang menyakitkan bagi negara-negara tetangga.
Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar urusan internal Jepang. Sebagai negara yang pernah merasakan dampak pendudukan Jepang, publik dan pemerintah Indonesia tentu mencermati bagaimana Tokyo memperlakukan sejarah. Meski hubungan bilateral Indonesia-Jepang saat ini erat dalam bidang ekonomi dan investasi, simbol-simbol seperti Yasukuni dapat menguji sensitivitas historis di kawasan. Pengamat hubungan internasional menilai bahwa kunjungan pejabat tinggi Jepang ke kuil tersebut dapat memicu sentimen negatif di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, meski respons resmi pemerintah sejauh ini cenderung hati-hati.
Kobayashi sendiri dikenal sebagai tokoh garis keras di LDP. Sebelum menduduki jabatan partai, ia pernah menjabat sebagai menteri keamanan ekonomi. Pada pemilihan presiden partai tahun lalu, ia kalah dari Takaichi. Kunjungannya kali ini, menurut analis, merupakan upaya untuk memperkuat basis dukungan di kalangan konservatif, sekaligus menunjukkan loyalitas pada tradisi partai. Namun, langkah tersebut berisiko memperdalam jurang diplomatik dengan China dan Korea Selatan, yang telah lama menuntut Jepang untuk lebih introspektif terhadap masa lalunya.
Yasukuni, yang didirikan pada era Meiji, menjadi simbol kontroversi karena menganugerahkan status dewa kepada 14 penjahat perang Kelas A, termasuk Perdana Menteri masa perang Hideki Tojo yang dieksekusi pada 1948. Bagi Beijing dan Seoul, kunjungan pejabat Jepang ke kuil ini dianggap sebagai pembenaran atas agresi masa lalu. Kementerian Luar Negeri China dan Korea Selatan telah mengeluarkan pernyataan keras, mengecam tindakan tersebut dan mengingatkan Jepang akan komitmennya untuk merefleksikan sejarah.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah Takaichi akan mengambil langkah lebih lanjut untuk meredakan ketegangan, atau justru membiarkan simbol-simbol lama terus mengemuka. Dengan ekonomi regional yang saling terhubung, stabilitas politik Asia Timur menjadi prasyarat bagi pertumbuhan bersama. Indonesia, sebagai mitra strategis Jepang dan anggota ASEAN, tentu berharap kedua negara besar itu dapat mengelola perbedaan sejarah tanpa mengorbankan kerja sama yang telah dibangun. Namun, tanpa adanya rekonsiliasi yang tulus, isu Yasukuni akan terus menjadi duri dalam hubungan bilateral di kawasan.



