Kebijakan Trump Buka Galangan Kapal Asing, Hanwha dan Fincantieri Melonjak: Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Saham Hanwha dan Fincantieri menguat setelah Trump mengizinkan pembangunan kapal perang AS di galangan asing.
- Kebijakan ini membuka peluang bagi Korea Selatan dan Italia, namun memicu kekhawatiran industri dalam negeri AS.
- Indonesia perlu mencermati peluang alih teknologi dan investasi di sektor maritim, seiring perubahan lanskap geopolitik.

Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka keran pembangunan kapal perang bagi galangan asing langsung mengerek harga saham dua raksasa maritim dunia. Saham Hanwha Ocean dari Korea Selatan melesat 5,6 persen, sementara Fincantieri asal Italia menguat 3,2 persen pada Jumat (14/8). Pasar merespons positif memorandum keamanan nasional yang ditandatangani Trump sehari sebelumnya, yang untuk pertama kalinya mengizinkan galangan asing membangun kapal perang AS di luar negeri.
Kebijakan ini lahir di tengah tekanan waktu untuk mempercepat pengadaan kapal perang AS yang selama ini tersendat. Berdasarkan memorandum tersebut, investor asing yang menanamkan modal besar di galangan AS dan melatih tenaga kerja lokal diberi izin sementara untuk membangun hingga dua kapal di galangan induk mereka. Tiga tipe kapal yang boleh dibangun di luar negeri meliputi kapal tempur permukaan, kapal tanker pengisi logistik, serta kapal roll-on/roll-off (Ro-Ro).
Hanwha disebut sebagai kandidat terkuat. Bryan Clark, peneliti senior di Hudson Institute, menilai komitmen finansial Korea Selatan yang luas menjadi faktor penentu. Hanwha, yang mengakuisisi Philly Shipyard pada 2024, telah berjanji mengucurkan dana 5 miliar dolar AS untuk memperluas galangan di Pennsylvania. Investasi itu merupakan bagian dari kesepakatan dagang Seoul-Washington. Juru bicara Hanwha Defense USA menyatakan pihaknya masih mengkaji detail memorandum tersebut.
Fincantieri, galangan terbesar di Eropa, juga tak kalah agresif. Mereka telah menginvestasikan lebih dari 800 juta dolar AS untuk galangan di Wisconsin dan Bay Shipbuilding. Baru-baru ini, perusahaan itu memenangkan kontrak senilai 30 juta dolar AS untuk pengerjaan awal kapal Medium Landing Ship, bagian dari program yang bisa mencakup 35 kapal. Meski demikian, Fincantieri belum memberikan komentar resmi.
Clark memperkirakan kebijakan ini pada tahap awal akan lebih fokus pada produksi tanker dan kapal Ro-Ro, bukan kapal perang. Alasannya, biaya dan kompleksitas untuk mendesain ulang kapal perang agar sesuai dengan rantai pasok AS sangat tinggi. Sementara itu, kebijakan ini justru mempersulit tawaran Hanwha untuk mengakuisisi operasi Austal di AS. Jika penjualan terjadi, induk Austal di Australia bisa kehilangan kesempatan membangun dua kapal secara domestik. Saham Austal sendiri naik 5,6 persen pada hari yang sama.
Menurut Clark, Australia kemungkinan besar tidak akan berinvestasi besar untuk memenuhi syarat karena komitmennya pada pakta kapal selam AUKUS. Di sisi lain, Shipbuilders Council of America, yang mewakili perusahaan galangan AS, memperingatkan bahwa kebijakan ini justru melemahkan industri dalam negeri.
Bagi Indonesia, kebijakan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, Indonesia bisa menarik investasi asing di sektor maritim, terutama dari Korea Selatan dan Italia yang kini semakin agresif. Di sisi lain, Indonesia perlu memastikan transfer teknologi dan penguatan industri pertahanan dalam negeri agar tidak tertinggal. Pertanyaannya, akankah Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat kedaulatan maritimnya?



