Gempa NTT: TNI Kerahkan Hercules dan KRI, 14 Tewas dan 2.000 Warga Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- TNI mengerahkan pesawat Hercules dan kapal perang untuk mempercepat evakuasi dan distribusi logistik di Nagekeo, NTT.
- Data BNPB mencatat 14 korban jiwa, 54 rumah rusak berat, dan sekitar 2.000 warga mengungsi akibat gempa.
- Fokus penanganan kini bergeser pada verifikasi data dan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi di Manggarai dan Manggarai Timur.

Gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (tanggal) telah menewaskan sedikitnya 14 orang dan memaksa sekitar 2.000 warga mengungsi. Militer Indonesia langsung mengerahkan aset berat, termasuk pesawat Hercules dan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), untuk mempercepat evakuasi dan penyaluran bantuan ke wilayah terdampak yang tersebar di beberapa kabupaten.
Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal Muhammad Nas, dalam keterangan resminya menegaskan bahwa pengerahan Hercules dan KRI adalah bagian dari upaya mobilisasi personel dan logistik secara cepat. "TNI mengerahkan Hercules dan KRI untuk membantu penanganan bencana serta mendukung kebutuhan masyarakat terdampak," ujarnya. Penggunaan kedua alat utama sistem persenjataan (alutsista) itu akan disesuaikan dengan dinamika di lapangan, mengingat medan di NTT yang berbukit dan tersebar.
Prajurit yang diterjunkan berasal dari sejumlah satuan kewilayahan, antara lain Kodim 1603/Sikka, Kodim 1612/Manggarai, Kodim 1602/Ende, dan Yonif Teritorial Pembangunan 834/Wakanga Mere. Mereka bergabung dengan tim gabungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, Polri, serta pemerintah daerah. Koordinasi lintas instansi ini dinilai krusial, mengingat dampak gempa tidak hanya terkonsentrasi di satu titik, tetapi meluas ke beberapa kabupaten.
Berdasarkan data BNPB yang dihimpun hingga Sabtu pukul 12.30 WIB, korban jiwa tersebar di tiga kabupaten: Manggarai dengan enam orang, Manggarai Timur lima orang, dan Sikka tiga orang. Selain itu, dua orang dilaporkan luka berat dan sebelas lainnya luka ringan. Angka ini masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan. Kerusakan fisik yang paling parah tercatat di Kabupaten Manggarai, disusul Manggarai Timur, yang menjadi prioritas utama dalam pendistribusian bantuan.
Kerusakan infrastruktur turut memperumit akses logistik. Sebanyak 54 rumah rusak berat, sembilan rusak sedang, dan sebelas rusak ringan. Fasilitas publik pun tidak luput: lima puskesmas atau klinik, satu sekolah, satu gudang Bulog, tiga tempat ibadah, dan enam kantor pemerintahan dilaporkan mengalami kerusakan. Kondisi ini menuntut penanganan yang tidak hanya berfokus pada evakuasi korban, tetapi juga pemulihan layanan dasar bagi masyarakat yang bertahan di lokasi.
Bagi warga Indonesia, gempa NTT ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, terutama di kawasan timur yang memiliki keterbatasan infrastruktur. Pengiriman bantuan melalui jalur udara dan laut menjadi keniscayaan, dan peran TNI di sini sangat vital. Masyarakat pun menanti kepastian data korban dan jaminan bahwa bantuan akan menjangkau daerah-daerah terpencil yang selama ini sulit diakses.
"TNI terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Polri, BNPB, BPBD, Basarnas, dan instansi terkait lainnya agar penanganan bencana berjalan cepat dan terpadu," kata Mayjen TNI Muhammad Nas, menegaskan komitmen sinergi antarlembaga.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan akurasi data dan distribusi bantuan yang merata, terutama bagi ribuan warga yang mengungsi. Akankah koordinasi yang sudah berjalan baik ini mampu menjawab kebutuhan darurat yang terus berkembang? Publik menunggu langkah konkret pemerintah dalam memulihkan kondisi NTT, tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk kesiapan menghadapi potensi gempa susulan.



