Hobi Jadi Sumber Cuan: Mahasiswa Manfaatkan Kesenangan untuk Tambah Penghasilan
Baca dalam 60 detik
- Fenomena side hustle di kalangan mahasiswa makin marak, dengan hobi seperti makeup, nail art, dan kuliner menjadi ladang penghasilan tambahan.
- Kemudahan akses platform digital dan biaya modal rendah mendorong anak muda memulai usaha tanpa meninggalkan bangku kuliah.
- Para pelaku menekankan pentingnya manajemen waktu dan adaptasi terhadap persaingan, sementara sosiolog melihat pergeseran paradigma karier dari tangga menuju portofolio.

Menjelang musim wisuda, para makeup artist (MUA) di berbagai kota besar Indonesia kebanjiran pesanan. Momen ini menjadi ladang cuan bagi mereka yang mampu merias wajah calon wisudawati agar tampil memukau. Salah satunya adalah Natasya Amelia Syahdila (21), mahasiswi di kawasan Cimanggis, Depok, yang mengubah hobinya menjadi bisnis menguntungkan.
Natasya, pemilik usaha Natasya Makeup, mengaku memulai perjalanannya sejak duduk di bangku kelas 5 SD, saat ia memberanikan diri merias temannya untuk lomba fashion show. Hasilnya, sang teman meraih juara dua, dan sejak itu minatnya terhadap tata rias terus tumbuh. Setelah menempuh pendidikan di SMK jurusan tata kecantikan kulit, ia mulai menerima klien pertamanya dan akhirnya mendirikan usahanya sendiri pada 2023. Kini, di sela-sela kuliah, ia mampu menerima lebih dari 30 klien per bulan dengan penghasilan Rp3 juta hingga Rp5 juta.
Namun, perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu mulus. Pada awal berkarir sebagai freelancer, pendapatan Natasya hanya berkisar Rp500 ribu hingga Rp1 juta per bulan. Bahkan, pernah ada masa sulit ketika ia hanya memiliki uang Rp200 ribu untuk bertahan hidup selama sebulan. Alih-alih menyerah, ia justru memanfaatkan media sosial, khususnya TikTok, untuk mempromosikan jasanya. Strategi ini membuahkan hasil, dengan pesanan yang bisa mencapai delapan klien dalam sehari. โSehari bisa dua client, bisa sampai tiga client, ataupun bahkan sampai delapan client satu hari dari pagi sampai sore,โ ujarnya.
Kisah serupa datang dari Sisilia Rosadi (22), pemilik jasa nail art Artsilylove. Berawal dari hobi menghias kuku teman-temannya sejak SMP, Sisilia kini menjalankan usaha tanpa mengikuti kursus formal, hanya bermodal video tutorial di YouTube. Dengan harga pertama Rp50 ribu, ia kini bisa meraup Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per hari, meski tak jarang juga sepi pesanan. Baginya, mengerjakan nail art bukan sekadar pekerjaan, melainkan juga terapi relaksasi. โMenurut aku tuh kalau misalkan kerjain nail art begitu menurut aku tuh itu healing banget karena kita fokus kan, jadi enggak pikirin ke mana-mana dan aku enggak pernah merasa terbebani,โ jelasnya.
Sementara itu, Natasyah Aulia (23) memilih jalur kuliner sebagai side hustle-nya. Berawal dari modal Rp500 ribu dan hobi memasak, ia kini mengelola bisnis piscok, dimsum, dan frozen food. Untuk menyeimbangkan kuliah dan usaha, ia mengandalkan sistem pre-order (PO) sehingga produksi dan pengiriman bisa disesuaikan dengan jadwal akademiknya. Ia bahkan kerap melakukan COD pada malam hari setelah pulang kuliah. Natasyah menyadari persaingan yang semakin ketat, sehingga ia berfokus pada keseimbangan harga dan kualitas. โKalau mau bersaing, menurut gue kita harus menyesuaikan harga dan kualitas. Harganya harus sesuai, tapi kualitasnya juga tetap bagus, jadi pembeli merasa apa yang mereka bayar itu worth it,โ katanya.
Menurut sosiolog Rakhmat Hidayat, fenomena ini bukan sekadar kreativitas anak muda, melainkan respons terhadap perubahan kondisi sosial-ekonomi. Biaya hidup yang meningkat, masa pendidikan yang makin panjang, dan sulitnya mendapatkan pekerjaan tetap mendorong mahasiswa mencari penghasilan tambahan. Di sisi lain, biaya untuk memulai usaha kini semakin rendah, cukup dengan ponsel dan media sosial. Rakhmat juga menyoroti perubahan cara pandang generasi muda terhadap karier. โGenerasi sekarang itu membayangkan karier lebih cepat. Sebagai kumpulan kemampuan dan pengalaman yang mereka bawa ke mana-mana. Bukan tangga, tapi portofolio,โ ujarnya.
Namun, media sosial juga memiliki sisi gelap. Tekanan untuk sukses semakin terasa karena keberhasilan orang lain terus dipamerkan. Rakhmat mengingatkan bahwa cerita sukses yang terlihat hanyalah sampel yang telah tersaring. โYang berhasil bercerita, yang gagal diam,โ katanya. Selain itu, mengubah hobi menjadi pekerjaan juga memiliki konsekuensi, di mana aktivitas yang semula bebas bisa berubah menjadi kewajiban ketika sudah bergantung pada pesanan.
Bagi Natasya, Sisilia, dan Natasyah, kuliah tetap menjadi prioritas utama. Usaha yang mereka jalankan belum menggantikan pendidikan, melainkan berjalan berdampingan. Mereka berhasil membuktikan bahwa hobi bisa menjadi sumber penghasilan tanpa harus mengorbankan masa depan akademik. Pertanyaannya, apakah fenomena ini akan bertahan lama atau hanya tren sesaat? Yang jelas, dengan semakin mudahnya akses digital, peluang untuk mengubah hobi menjadi cuan akan terus terbuka lebar bagi generasi muda Indonesia.



