Korban Obat Kesuburan: Bintang NFL Nazeeh Johnson Disanksi Enam Laga
Baca dalam 60 detik
- Nazeeh Johnson, pemain cornerback Titans, dijatuhi hukuman larangan bermain enam pertandingan karena melanggar kebijakan zat terlarang NFL.
- Johnson mengklaim hasil positifnya berasal dari obat kesuburan yang dikonsumsinya bersama istrinya, tanpa sepengetahuan bahwa kandungannya masuk daftar terlarang.
- Kasus ini menyoroti pentingnya verifikasi medis bagi atlet, terutama di tengah meningkatnya penggunaan terapi reproduksi berbantuan.

Nashville, Tennessee โ Nazeeh Johnson, pemain cornerback Tennessee Titans yang baru bergabung dari Kansas City Chiefs, harus menerima kenyataan pahit: ia dijatuhi sanksi larangan bermain enam pertandingan reguler tanpa gaji oleh NFL. Penyebabnya, ia dinyatakan positif menggunakan zat terlarang yang termasuk dalam kebijakan peningkatan performa (PED). Namun, Johnson bersikeras bahwa dirinya tidak sengaja melanggar aturan, karena zat tersebut berasal dari obat kesuburan yang ia konsumsi bersama istrinya.
Johnson, yang dua kali meraih gelar Super Bowl bersama Chiefs, mengungkapkan bahwa ia dan istrinya menjalani perawatan kesuburan setelah dokter menyatakan ia mengalami infertilitas. Dalam pernyataannya di platform X, ia mengaku tidak mengetahui bahwa obat yang diminumnya mengandung substansi yang masuk daftar hitam NFL. "Saya tidak sadar ada kandungan dalam obat itu yang masuk daftar terlarang, dan saya dinyatakan positif PED," tulisnya. Ia pun menyampaikan pesan kepada rekan-rekan pemain NFL, terutama yang baru masuk liga, agar tidak mengonsumsi apa pun tanpa melalui proses persetujuan resmi terlebih dahulu.
Kisah Johnson menjadi pengingat bahwa atlet profesional berada dalam tekanan besar untuk menjaga kondisi fisik, namun juga harus berhati-hati dengan setiap zat yang masuk ke tubuh mereka. Dalam kasus ini, dimensi emosionalnya terasa lebih dalam: Johnson mengungkapkan bahwa pasangan mereka baru saja kehilangan bayi beberapa minggu lalu. "Kami kehilangan bayi kami beberapa minggu lalu, dan ini adalah masa yang sangat sulit bagi saya dan istri. Untungnya, kami masih punya sembilan sel telur yang baik, jadi kami berharap bisa membangun keluarga," ungkapnya. Kombinasi antara duka pribadi dan sanksi profesional membuat kasus ini menjadi sorotan publik.
Menurut analis olahraga, kasus Johnson menyoroti celah dalam sistem pengawasan obat di NFL. Banyak pemain yang mungkin tidak menyadari bahwa obat-obatan umum, termasuk yang diresepkan untuk kondisi medis tertentu, dapat mengandung zat yang dilarang. NFL sendiri memiliki proses pengecualian terapeutik (TUE) yang memungkinkan pemain menggunakan obat tertentu dengan izin khusus, namun prosesnya seringkali rumit dan memakan waktu. Johnson, yang baru bergabung dengan Titans pada Juli lalu, mungkin belum sempat mengurus izin tersebut sebelum menjalani tes.
Bagi penggemar NFL di Indonesia, kasus ini mungkin tampak jauh, namun ada pelajaran yang bisa diambil. Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan reproduksi, banyak pasangan di Indonesia yang menjalani program bayi tabung atau terapi hormon. Obat-obatan seperti clomiphene atau gonadotropin, yang umum digunakan dalam terapi kesuburan, ternyata masuk dalam daftar zat yang dilarang oleh badan anti-doping dunia (WADA) karena dapat meningkatkan produksi testosteron. Atlet Indonesia yang menjalani program serupa harus ekstra hati-hati dan berkonsultasi dengan dokter serta pihak federasi untuk mendapatkan pengecualian medis sebelum mengonsumsi obat-obatan tersebut.
Johnson sendiri masih diizinkan mengikuti seluruh aktivitas pramusim, termasuk pertandingan, sebelum sanksinya mulai berlaku pada 30 Agustus. Titans akan memulai musim reguler pada 13 September, dan Johnson baru bisa kembali memperkuat tim pada 19 Oktober. Ini berarti ia akan melewatkan enam laga awal musim, termasuk beberapa pertandingan penting melawan tim-tim unggulan. Kehilangan Johnson di lini pertahanan jelas menjadi pukulan bagi Titans yang berharap tampil kompetitif di musim ini.
Kasus ini juga membuka diskusi tentang bagaimana NFL menangani kasus-kasus yang melibatkan obat-obatan non-atletik. Beberapa pihak menilai bahwa NFL terlalu kaku dalam menerapkan aturan, tanpa mempertimbangkan konteks medis pemain. Namun, NFL berdalih bahwa aturan tersebut diperlukan untuk menjaga integritas kompetisi. Pertanyaannya, apakah NFL akan mempertimbangkan revisi kebijakan agar lebih manusiawi, terutama untuk kasus-kasus yang melibatkan obat kesuburan? Atau justru sebaliknya, pemain harus lebih proaktif dalam memeriksa setiap zat yang mereka konsumsi? Yang jelas, bagi Johnson, ini adalah pukulan telak yang harus ia hadapi dengan tabah, baik di lapangan maupun dalam kehidupan pribadinya.



