Reuni 40 Tahun: Menteri Kesehatan Singapura dan Sahabat BMT Terungkap, Kisah di Balik Pengakuan Palsu
Baca dalam 60 detik
- Menteri Kesehatan Singapura, Ong Ye Kung, bertemu kembali dengan sahabat lamanya di masa wajib militer setelah 40 tahun berpisah, dalam acara 'On The Red Dot'.
- Pertemuan itu mengungkap bahwa pengakuan Eric Sim atas pelanggaran di BMT ternyata palsu, demi menyelamatkan seluruh peleton dari hukuman.
- Kisah ini menyoroti pentingnya ikatan persahabatan yang terbentuk dalam situasi sulit, serta refleksi kedua pria tentang peluang yang terlewat di masa muda.

Setelah empat dekade berlalu, Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung akhirnya dipertemukan kembali dengan sahabat lamanya, Eric Sim, yang dulu menjadi teman sekamar sekaligus rekan seperjuangan selama wajib militer (National Service/NS). Momen haru itu terekam dalam program dokumenter "On The Red Dot" bertajuk "Finding", yang menampilkan kisah-kisah pertemuan kembali warga Singapura dengan orang-orang yang pernah dekat di masa lalu. Bagi Ong, pertemuan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan juga pengingat akan ikatan yang terbentuk dalam tekanan dan bagaimana sebuah pengakuan palsu justru menjadi bukti kesetiaan.
Keduanya dipertemukan pada 1987 saat sama-sama berusia 18 tahun dan menjalani Pelatihan Dasar Militer (BMT) di Pulau Tekong. Nasib mempertemukan mereka karena tanggal lahir yang sama, 15 November 1969, yang menjadi dasar penetapan sistem "buddy" di peleton. Ong yang kala itu berpostur kurus dan Sim yang juga sama-sama kecil langsung akrab. "Kami berdua terlihat tidak ambisius," kenang Ong. Mereka memilih untuk tenang dan tidak menonjol di antara rekan-rekan yang bercita-cita masuk Sekolah Kadet Perwira (OCS). Bagi Ong, memiliki teman yang ambisius justru akan membuat BMT lebih berat.
Namun, di balik ketenangan itu, tersimpan penyesalan. Sim, yang kini berprofesi sebagai pelatih karier dan penulis buku psikologi bisnis, mengaku sebenarnya pernah bercita-cita masuk OCS, tetapi merasa tidak mampu secara fisik. "Kadang hidup seperti itu: kamu menolak kesempatan sebelum kesempatan menolakmu," ujarnya. Ong pun mengangguk setuju, merenungkan bahwa dirinya juga seharusnya bisa lebih memanfaatkan peluang di masa muda. Keduanya sepakat bahwa BMT adalah "pelajaran hidup yang penting" tentang tidak menolak kesempatan.
Momen paling mengharukan terjadi ketika Ong menceritakan sebuah insiden lama: suatu kali peleton mereka dihukum push-up dan angkat kaki karena ditemukan tulang ayam di kloset. Hukuman baru berhenti setelah Sim mengaku. Selama ini Ong mengira Sim benar-benar pelakunya. Namun, Sim justru tidak ingat kejadian itu dan yakin dirinya tidak mungkin membuang tulang ayam karena tidak memakannya. Ong kemudian menyadari bahwa pengakuan Sim adalah bohong demi menyelamatkan peleton. "Itu tindakan yang berani," puji Ong. Sim pun membenarkan bahwa itu skenario yang lebih mungkin.
Bagi Ong, pertemuan ini menegaskan pentingnya sistem buddy dalam NS. "Ini adalah seseorang yang Anda bangun kepercayaan dan ikatan dengannya, dan itu mungkin bertahan seumur hidup," katanya. Sim juga mengaku selama ini ingin menghubungi Ong, tetapi mengurungkan niatnya karena menganggap menteri itu sibuk. Ia hanya diam-diam berinteraksi dengan unggahan media sosial Ong. "Ini kejutan besar bahwa dia yang memulai ini," tutur Sim, "menunjukkan bahwa hubungan kami tidak berakhir setelah BMT."
Kisah ini mengingatkan kita pada nilai persahabatan yang terbentuk dalam situasi sulit, di mana kepercayaan dan solidaritas diuji. Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini juga relevan dengan semangat gotong royong dan ikatan kebersamaan yang sering terbentuk dalam momen-momen sulit, seperti saat menjalani pendidikan atau pelatihan militer. Meski berbeda konteks, esensi tentang kesetiaan dan pengorbanan untuk sesama tetap universal. Ke depan, pertanyaan yang muncul: apakah kita masih bisa mempertahankan ikatan serupa di tengah kesibukan dan jarak yang memisahkan?



