Kekalahan dari AC Milan Jadi Alarm: INEOS Wajib Belanja Bek Kiri demi Selamatkan Musim Man United
Baca dalam 60 detik
- Penampilan buruk Luke Shaw saat Man United takluk 4-2 dari AC Milan memaksa manajemen memprioritaskan rekrutan bek kiri baru.
- Lewis Hall menjadi target utama dengan banderol mencapai Rp1,1 triliun, menyusul kegagalan Harry Amass dan Shaw dalam uji coba.
- Tanpa tambahan pemain di pos kiri, peluang Man United bersaing di Premier League musim ini dinilai bakal terancam.

Kekalahan telak 4-2 dari AC Milan dalam laga uji coba pramusim di Polandia, Sabtu (15/8/2026), bukan sekadar hasil buruk bagi Manchester United. Lebih dari itu, performa lini belakang, khususnya Luke Shaw, telah memaksa pemilik klub, INEOS, untuk segera membuka keran transfer sebelum bursa musim panas ditutup.
Pertandingan yang mempertemukan Man United dengan mantan manajer mereka, Ruben Amorim, berjalan sengit. Sempat unggul lewat gol cepat Harry Maguire, Setan Merah justru kebobolan empat gol di babak kedua. Tiga gol tambahan Milan menjadi bukti betapa rapuhnya pertahanan tim asuhan Michael Carrick, yang kini memegang kendali taktis setelah kepergian Amorim ke San Siro.
Fokus utama kritik tertuju pada Shaw. Bek kiri berusia 31 tahun itu tampil di bawah standar: gagal memenangi satu pun duel darat, tidak melakukan tekel, dan kehilangan bola tujuh kali. Ia juga kerap lengah, membiarkan Samuel Chukwueze leluasa menciptakan peluang bagi Milan. Penampilan yang oleh media lokal diberi nilai 3/10 ini menjadi sorotan tajam, terutama karena ia adalah pemain paling senior di lini pertahanan.
Masalah di pos bek kiri sebenarnya bukan hal baru. Beberapa hari sebelumnya, Harry Amass, pemain muda yang diharapkan menjadi solusi jangka panjang, juga kesulitan menghadapi Wilfried Gnonto dari Leeds United. Kombinasi dua performa buruk ini mempertegas kebutuhan mendesak akan bek kiri baru. Nama Lewis Hall dari Newcastle United pun kembali mencuat sebagai target utama, dengan nilai transfer diperkirakan mencapai 60 juta poundsterling atau sekitar Rp1,1 triliun.
Keputusan Carrick untuk tidak menarik Shaw keluar lebih awal, meski performanya jelas menurun, dianggap sebagai sinyal halus kepada manajemen bahwa ia membutuhkan amunisi baru. Ini bukan sekadar soal hasil uji coba, melainkan tentang kesiapan tim menghadapi kompetisi yang lebih ketat. Musim lalu, Shaw memang tampil penuh di 38 laga Premier League, namun kontribusi ofensifnya minim: hanya satu gol dan satu assist. Gaya bermainnya yang cenderung aman membuat lini serang kehilangan daya gedor dari sisi kiri.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi ini menarik untuk dicermati. Man United memiliki basis penggemar yang besar di Tanah Air, dan kebijakan transfer klub selalu menjadi perbincangan hangat. Kegagalan mendatangkan pemain berkualitas di posisi krusial sering kali berujung pada hasil mengecewakan, yang pada akhirnya memengaruhi kepercayaan diri tim dan performa di lapangan. Jika INEOS gagal bergerak cepat, bukan tidak mungkin musim ini akan menjadi musim yang panjang dan penuh frustrasi bagi pendukung setia di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Di sisi lain, kekalahan ini juga menjadi ujian bagi Carrick. Meski baru menjabat, ia dituntut mampu membenahi pertahanan yang menjadi titik lemah. Apakah ia akan berani menepikan Shaw dan memberi kepercayaan pada pemain muda? Atau justru memilih bertahan dengan pemain senior yang sedang menurun? Keputusan ini akan menentukan arah kebijakan transfer dan strategi tim ke depan.
Dengan bursa transfer yang masih terbuka hingga akhir bulan, tekanan kini berada di pundak INEOS. Investasi besar di lini belakang tampaknya tak terelakkan. Namun, pertanyaan besarnya: apakah mereka akan mengeluarkan dana besar untuk Lewis Hall, atau mencari alternatif lain yang lebih murah? Keputusan ini tidak hanya akan menentukan nasib Man United di musim 2026/2027, tetapi juga menjadi sinyal keseriusan pemilik baru dalam membangun tim yang kompetitif.



