Gempa Magnitudo 7,7 Guncang Flores: 20 Tewas, Ratusan Bangunan Roboh
Baca dalam 60 detik
- Guncangan dahsyat magnitudo 7,7 di lepas pantai Flores menewaskan sedikitnya 20 orang dan merobohkan bangunan di tiga kabupaten.
- Peringatan tsunami sempat dikeluarkan namun dicabut setelah pemantauan menunjukkan tidak ada perubahan signifikan pada permukaan laut.
- Akses jalan Trans-Flores terputus akibat longsor, menghambat evakuasi dan distribusi bantuan di wilayah kepulauan NTT.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di laut lepas pantai Flores, Nusa Tenggara Timur, mengguncang kawasan itu pada Sabtu dini hari. Sedikitnya 20 orang dilaporkan tewas, sementara puluhan bangunan runtuh dan warga panik berhamburan ke tempat yang lebih tinggi. Guncangan keras ini kembali mengingatkan betapa rapuhnya wilayah kepulauan Indonesia di hadapan kekuatan alam.
Berdasarkan data Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer, sekitar 68 kilometer utara-barat laut Kota Ende. Getarannya terasa hingga ke sejumlah wilayah di Pulau Flores, bahkan sampai ke Bima di Nusa Tenggara Barat dan sebagian Sulawesi Selatan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan tsunami untuk wilayah pesisir, namun kemudian mencabutnya setelah pemantauan menunjukkan tidak ada perubahan signifikan pada permukaan laut.
Kepala Badan Pencarian dan Pertolongan Maumere, Fathur Rahman, mengungkapkan bahwa tim penyelamat telah menemukan 20 jenazah di tiga kabupaten yang paling parah terdampak, yaitu Sikka, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur. Delapan di antaranya tertimbun longsor di Desa Reok, Manggarai. Enam warga lainnya dilarikan ke rumah sakit dengan luka serius, sementara dua orang masih hilang diduga tertimbun material lumpur yang turun dari perbukitan.
Kepala Kepolisian NTT, Rudi Darmoko, menyebut gempa menyebabkan kerusakan parah dan melumpuhkan aliran listrik di sejumlah kota dan desa. Hal ini menghambat arus informasi dan mempersulit upaya pencarian serta evakuasi. "Kami terus mengumpulkan laporan kerusakan dan korban, tetapi komunikasi terganggu," ujarnya. Longsor yang dipicu gempa di Kabupaten Ende juga memutus Jalan Trans-Flores, jalur darat sepanjang sekitar 700 kilometer yang menghubungkan Labuan Bajo dan Larantuka.
Rekaman televisi lokal memperlihatkan pasien di beberapa rumah sakit dievakuasi ke luar gedung sebagai langkah antisipasi. Staf medis memindahkan peralatan seperti tempat tidur, standar infus, dan tabung oksigen ke area terbuka, lalu mendirikan tenda darurat untuk pelayanan kesehatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerjunkan helikopter untuk mendukung logistik dan operasi tanggap darurat, mengingat kondisi geografis NTT yang terdiri dari banyak pulau dan akses transportasi yang sulit.
Di tengah kepanikan, sejumlah saksi mata menuturkan kerusakan yang mereka lihat. Yohanna Embu, warga Kabupaten Sikka, mengatakan banyak bangunan rusak dan ruang tunggu terminal pelabuhan Maumere ambruk. Di tempat lain, mahasiswa Seminari Ritapiret di Sikka yang sedang mengikuti misa pagi berlarian keluar saat atap aula roboh. Rektor seminari, Pastor Guidelbertus Tanga, menceritakan satu imam mengalami patah kaki setelah melompat dari lantai dua gedung. Getaran juga memicu kepanikan di Labuan Bajo, pintu gerbang menuju Taman Nasional Komodo, serta menyebabkan kerusakan di Bima dan sebagian Sulawesi Selatan.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan sejarah gempa dan tsunami di kawasan timur Indonesia. Pada 1992, gempa dahsyat di Flores memicu tsunami yang menewaskan sekitar 2.500 orang. Tahun 2018, gempa magnitudo 7,5 di Palu menimbulkan tsunami lokal dan likuifaksi yang menelan lebih dari 4.400 jiwa. Sementara itu, tsunami Mentawai 2010 dan gempa Samudra Hindia 2004 yang memakan 230.000 korban di berbagai negara masih membekas dalam ingatan kolektif.
Indonesia, yang terletak di Cincin Api Pasifik, memang menghadapi ancaman seismik yang tak terhindarkan. Namun, kesiapsiagaan dan ketangguhan infrastruktur menjadi kunci untuk meminimalkan korban. Pertanyaannya, apakah sistem peringatan dini dan tata ruang wilayah di daerah rawan bencana seperti Flores sudah cukup mumpuni menghadapi gempa susulan yang masih mungkin terjadi?



