Lomba 17 Agustus untuk Disabilitas di Bali: Merayakan Kemerdekaan dengan Melatih Motorik dan Kebersamaan
Baca dalam 60 detik
- Puluhan penyandang disabilitas di Denpasar mengikuti enam lomba khas 17 Agustus yang dirancang untuk melatih motorik dan ketahanan fisik.
- Kegiatan ini merupakan bagian dari layanan gratis Yayasan Peduli Kemanusiaan Bali yang menjangkau 237 penerima, dari balita hingga lansia.
- Perayaan ini menegaskan bahwa semangat kemerdekaan dapat dirayakan secara inklusif, sekaligus menjadi momentum edukasi publik tentang potensi difabel.

Denpasar, 15 Agustus 2026 — Puluhan penyandang disabilitas fisik di Denpasar, Bali, merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan cara yang tidak biasa: mengikuti lomba makan kerupuk, merangkak, dan estafet bendera yang dirancang khusus untuk melatih saraf motorik dan ketahanan tubuh. Lebih dari sekadar seremonial, kegiatan ini menjadi bukti bahwa perayaan kemerdekaan dapat menjadi ruang inklusif bagi semua warga negara.
Enam jenis lomba digelar di lingkungan Yayasan Peduli Kemanusiaan (YPK) Bali, Sabtu (15/8), melibatkan penerima layanan gratis yayasan tersebut. Lomba makan kerupuk, merangkak mengambil mainan donat, kelereng, memasukkan pensil ke botol, estafet bendera, hingga merangkak mengambil bendera—semuanya dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Koordinator Edukasi YPK Bali, Ni Wayan Wulan Aprilianti, setiap permainan mengandung muatan terapi: melatih fokus, koordinasi tangan-mata, serta kekuatan fisik secara bertahap.
“Lomba ini juga bertujuan menjalin kebersamaan dan solidaritas,” ujar Aprilianti. Pernyataan itu menegaskan bahwa di balik kemeriahan, ada misi sosial yang lebih dalam: membangun rasa percaya diri dan interaksi sosial bagi para penyandang disabilitas yang kerap terpinggirkan. Para peserta, yang terdiri dari anak-anak hingga dewasa, tampak antusias mengenakan atribut merah putih—pita di kepala, busana bernuansa patriotik, hingga bendera kecil yang digenggam.
Bagi sebagian peserta, ini adalah pengalaman pertama. Bagus Bhibil, remaja 15 tahun, mengaku baru kali ini mencoba lomba makan kerupuk. “Lombanya seru. Semoga Indonesia makin maju dan tidak ada lagi korupsi,” katanya dengan polos. Senada, Bayu Dimas (17) yang sebelumnya hanya menjadi penonton, kini turut berlaga. “Kerupuknya tidak habis, tadi main cepat-cepat tapi seru,” ujarnya sambil tertawa.
Kegiatan ini bukan acara dadakan. YPK Bali telah lama dikenal sebagai lembaga yang memberikan layanan gratis bagi difabel, mencakup fisioterapi, kelas edukasi informal, keterampilan melukis tiup, musik, hingga paduan suara. Total ada 237 penerima layanan, dengan rentang usia dari satu tahun hingga 65 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa kebutuhan terapi dan pendampingan bagi disabilitas di Bali masih besar, dan perayaan seperti ini adalah salah satu cara untuk menjaga semangat mereka tetap hidup.
Di tengah hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan yang kerap didominasi oleh lomba-lomba konvensional, inisiatif YPK Bali menawarkan perspektif berbeda: bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika setiap warga negara, tanpa kecuali, dapat berpartisipasi dan merasa dihargai. Ini sejalan dengan semangat Indonesia yang inklusif, namun masih menyisakan pekerjaan rumah besar dalam hal aksesibilitas dan kesetaraan kesempatan bagi difabel.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah perayaan serupa akan digelar di daerah lain, tetapi bagaimana pemerintah dan masyarakat dapat menjadikan momen seperti ini sebagai katalis untuk kebijakan yang lebih ramah disabilitas—mulai dari infrastruktur publik hingga lapangan pekerjaan. Jika semangat 17 Agustus ingin dimaknai secara utuh, maka inklusivitas harus menjadi bagian dari narasi kemerdekaan itu sendiri.



