Anhar Lubis, Dokter Hewan yang 30 Tahun Berjuang Menyelamatkan Gajah Sumatera dari Jerat dan Konflik
Baca dalam 60 detik
- Dokter hewan asal Aceh ini telah mendedikasikan tiga dekade untuk menangani satwa liar, dengan fokus pada gajah sumatera yang terancam punah.
- Melalui Forum Konservasi Leuser, Anhar tidak hanya melakukan tindakan medis tetapi juga menjadi penengah konflik antara manusia dan satwa liar di tengah menyempitnya hutan.
- Anhar kini mulai melatih generasi baru dokter hewan, memastikan keberlanjutan upaya konservasi satwa liar Indonesia di masa depan.

Pada suatu sore di Juni 2019, Anhar Lubis dan timnya menemukan seekor anak gajah sumatera betina terperangkap jerat kawat baja di dalam goa di Aceh Timur. Kaki depannya hampir putus, tubuhnya dehidrasi, dan ia nyaris tak berdaya. Momen itu bukan sekadar penyelamatan biasa; bagi Anhar, ini adalah puncak dari perjalanan panjang yang telah ia tempuh selama lebih dari tiga dekade sebagai dokter hewan satwa liar.
Anhar, yang lahir di Meulaboh pada 1968, telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk merawat satwa liar terluka, terutama gajah sumatera. Sejak 2006, ia menjadi dokter hewan utama dalam Elephant Health Care Program yang dijalankan Vesswic, setelah sebelumnya menangani gajah di Yayasan Gajah Sumatera. Perjalanan karirnya dimulai dari Medan Zoo pada 1996, di mana ia belajar anatomi, perilaku, dan psikologi berbagai satwa, sebelum kemudian bergabung dengan Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) pada 2001.
Menurut Anhar, merawat gajah memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan satwa lain. "Ukuran tubuhnya besar, kebutuhan ruang hidupnya luas, dan mereka hidup dalam kelompok dengan ikatan sosial yang kuat," ujarnya. Namun, tantangan terbesar justru datang dari konflik dengan manusia. Hutan yang semakin menyempit membuat gajah kehilangan ruang jelajah dan sumber makanan, sehingga mereka kerap memasuki kebun warga dan dianggap sebagai ancaman.
"Setiap kali gajah masuk kebun, selalu ada risiko dibunuh, diracun, atau dipasang jerat," kata Anhar. Kisah Salma, anak gajah yang ia selamatkan, adalah contoh nyata dari persoalan jerat yang tak pandang bulu. Jerat yang dipasang untuk babi atau rusa bisa berakibat fatal bagi gajah, menyebabkan luka parah, infeksi, bahkan kematian. Bagi Anhar, menemukan gajah terjerat berarti berpacu dengan waktu; semakin lama satwa bertahan, semakin besar risiko lukanya.
Pengabdian Anhar tidak lepas dari risiko. Pada April 2022, ia nyaris kehilangan nyawa saat menyelamatkan harimau sumatera yang terjerat di Tapanuli Selatan. Harimau itu menyerangnya sebelum obat bius bekerja, menyebabkan luka gigitan di punggung dan cakaran di lengan serta paha. Anhar harus dirawat intensif di rumah sakit. Meski begitu, ia tidak pernah jera. "Satwa liar bukan musuh, melainkan makhluk yang bertahan hidup dengan naluri," kenangnya.
Penghargaan datang silih berganti. Pada 2022, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta ASEAN Centre for Biodiversity memberikan apresiasi atas dedikasinya. Namun, Anhar tetap rendah hati. "Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma dokter hewan yang cinta hutan dan isinya," ujarnya. Rudi Putra, Conservation Advisor FKL, menyebut Anhar sebagai sosok yang "milik Indonesia" karena selalu siap membantu di mana pun ada satwa yang membutuhkan pertolongan, bahkan rela turun langsung meski posisinya memungkinkan untuk bekerja di balik meja.
Kini, Anhar mulai fokus pada regenerasi. Ia melatih sejumlah dokter hewan muda di FKL, berbagi pengalaman dan pengetahuan agar perjuangan konservasi tidak berhenti di generasinya. "Dia bukan hanya menyelamatkan satwa, tetapi juga menyiapkan orang-orang yang akan meneruskan perjuangan," kata Rudi. Pertanyaannya, akankah upaya ini cukup untuk menghadapi ancaman yang terus tumbuh seiring laju deforestasi dan perluasan lahan? Di tengah keterbatasan sumber daya dan meningkatnya konflik, masa depan gajah sumatera masih menggantung. Namun, dengan sosok seperti Anhar, ada secercah harapan bahwa mereka tidak akan hanya menjadi tontonan di film dokumenter.



