Tragedi Terowongan PLTA di India: 7 Tewas, 3 Masih Hilang
Baca dalam 60 detik
- Longsor terowongan proyek listrik tenaga air di Uttarakhand, India, menewaskan sedikitnya tujuh pekerja dan memicu operasi penyelamatan besar-besaran.
- Insiden ini menyoroti risiko tinggi proyek infrastruktur di kawasan Himalaya yang rawan geologi dan gempa, dengan catatan kecelakaan serupa sebelumnya.
- Kejadian ini menjadi pengingat bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, akan pentingnya standar keselamatan ketat dalam pembangunan infrastruktur di daerah rawan bencana.

Sedikitnya tujuh pekerja tewas setelah terowongan yang sedang dibangun di proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Vishnugad-Pipalkoti di distrik Chamoli, Uttarakhand, India, runtuh pada Kamis malam (13/8). Insiden ini memicu operasi penyelamatan besar-besaran, dengan 12 dari 22 pekerja yang berada di dalam terowongan berhasil dievakuasi dalam keadaan hidup, sementara tiga lainnya masih dinyatakan hilang.
Menurut pejabat distrik Gaurav Kumar, runtuhnya terowongan terjadi setelah air dan puing-puing secara tiba-tiba membanjiri lokasi. Tim penyelamat dari Pasukan Tanggap Bencana Nasional dan Negara Bagian, Polisi Perbatasan Indo-Tibet, serta pemadam kebakaran dikerahkan untuk mencari pekerja yang masih tertahan. Komandan tim NDRF, Amrit Lal Meena, mengungkapkan bahwa saat timnya tiba, volume air di dalam terowongan sudah sangat tinggi dan terus meningkat, mempersulit upaya evakuasi.
Kecelakaan ini kembali menyoroti tingginya risiko proyek konstruksi di kawasan Himalaya, yang dikenal memiliki geologi rapuh, aktivitas seismik tinggi, dan kondisi bawah tanah yang tidak dapat diprediksi. Di India, kecelakaan konstruksi kerap terjadi akibat benturan antara pembangunan infrastruktur yang cepat dengan kelalaian keselamatan dan cuaca ekstrem. Sebelumnya, pada Februari lalu, ledakan di tambang batu bara di Meghalaya menewaskan sedikitnya 18 pekerja. Pada 2023, bagian terowongan di Uttarakhand runtuh dan menjebak 41 pekerja selama 17 hari sebelum akhirnya dievakuasi.
Insiden ini menjadi pengingat bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang tengah gencar membangun infrastruktur di daerah rawan bencana. Proyek-proyek seperti bendungan, terowongan, dan jalan tol di pegunungan kerap menghadapi tantangan geologis serupa. Di Indonesia, sejumlah proyek infrastruktur di Papua dan Sulawesi juga berisiko tinggi terhadap longsor dan gempa. Kasus di India ini menegaskan pentingnya penerapan standar keselamatan yang ketat, pemantauan geoteknik secara berkala, dan kesiapan tim tanggap darurat untuk meminimalkan korban jiwa.
Para ahli keselamatan konstruksi menilai bahwa insiden berulang di proyek-proyek Himalaya menunjukkan perlunya audit keselamatan yang lebih ketat dan penggunaan teknologi pemantauan real-time untuk mendeteksi pergerakan tanah atau rembesan air sejak dini. โKita tidak bisa hanya mengandalkan prosedur standar; kondisi geologi yang ekstrem membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif dan proaktif,โ ujar seorang analis infrastruktur yang enggan disebutkan namanya.
Ke depan, pemerintah India perlu mengevaluasi ulang desain dan metode konstruksi terowongan di kawasan rawan bencana. Pertanyaan yang muncul: apakah proyek-proyek semacam ini akan terus berjalan tanpa perombakan besar dalam standar keselamatan? Atau justru insiden ini akan menjadi momentum untuk mereformasi regulasi konstruksi di India, sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara lain yang tengah membangun infrastruktur di medan serupa?



