Gibran Minta Maaf atas Keracunan MBG di Batang, Janji Evaluasi Tata Kelola
Baca dalam 60 detik
- Wakil Presiden Gibran Rakabuming menyampaikan permohonan maaf langsung kepada orangtua siswa SDN Pasusukan, Batang, yang anaknya diduga keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Pemerintah berkomitmen menuntaskan investigasi secara transparan dan membentuk penanggung jawab lintas sektor untuk mengoordinasikan penanganan korban.
- Insiden ini menjadi ujian kredibilitas program prioritas nasional yang menelan anggaran besar, menuntut perbaikan tata kelola agar tidak terulang.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming mengunjungi Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada Senin (28/9/2026) untuk menemui orangtua siswa SDN Pasusukan yang anak-anaknya diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makan bergizi gratis (MBG). Dalam pertemuan itu, Gibran menyampaikan permohonan maaf secara langsung dan berjanji memperbaiki tata kelola program.
"Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian ini. Bapak-Ibu berhak khawatir dengan kondisi saat ini dan saya sangat memahami kekhawatiran Bapak-Ibu semua," ujar Gibran, dikutip dari keterangan resminya.
Permintaan maaf itu muncul setelah salah satu orangtua siswa, Faizun, meminta pemerintah mengevaluasi total penyelenggaraan MBG. Menurutnya, kejadian serupa tidak boleh kembali menimpa anak-anak. Gibran merespons dengan menyatakan bahwa tata kelola program harus dibenahi agar insiden serupa tidak terulang.
"Kami akan carikan solusi terbaik, Pak. Yang jelas tata kelolanya harus diperbaiki sehingga kejadian-kejadian seperti ini tidak terulang lagi," kata Gibran.
Gibran menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan korban tanpa penanganan. Ia memastikan seluruh anak yang terdampak mendapatkan perawatan yang diperlukan dan keluarga memperoleh kepastian. Selain itu, ia mendorong proses investigasi segera dituntaskan serta pengawasan diperkuat.
"Jika saya berada di posisi Bapak-Ibu, tentu saya juga akan khawatir ketika anak saya keracunan. Oleh sebab itu, hari ini saya datang langsung ke sini untuk memastikan korban tertangani dengan baik, keluarga mendapat kepastian, investigasi dituntaskan, dan pengawasan diperkuat," tuturnya.
Ia juga meminta pemerintah daerah, khususnya bupati, menunjuk penanggung jawab atau person in charge (PIC) lintas sektor. PIC tersebut bertugas mengoordinasikan penanganan mulai dari aspek kesehatan, layanan pendidikan, hingga kebutuhan keluarga korban.
"Proses investigasi sedang berjalan, tapi saya pastikan dilakukan dengan cepat dan hasil investigasi akan diinformasikan kepada Bapak-Ibu secara terbuka dan transparan. Kejadian ini tidak boleh berulang," tegas Gibran.
Insiden di Batang menjadi sorotan karena program MBG merupakan salah satu agenda prioritas pemerintah yang menyedot anggaran besar. Kasus keracunan ini tidak hanya berdampak pada kesehatan anak, tetapi juga berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap kualitas penyelenggaraan program. Bagi pelaku usaha, khususnya UMKM yang menjadi pemasok bahan pangan, kejadian ini menjadi peringatan akan pentingnya standar keamanan pangan dan rantai pasok yang terverifikasi.
Pengamat kebijakan publik menilai bahwa evaluasi tidak cukup berhenti pada permintaan maaf. Diperlukan audit menyeluruh terhadap prosedur pengadaan, penyimpanan, dan distribusi makanan. Transparansi hasil investigasi menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan, sekaligus memastikan bahwa program yang bertujuan meningkatkan gizi anak tidak menjadi bumerang politik.
Dari sisi anggaran, program MBG telah mengalokasikan dana signifikan dari APBN. Jika kasus serupa terus berulang, bukan tidak mungkin muncul desakan untuk meninjau ulang mekanisme penyaluran, termasuk kemungkinan melibatkan auditor independen. Investor dan pelaku pasar akan mencermati bagaimana pemerintah menangani krisis ini, karena stabilitas program sosial berdampak pada iklim investasi dan persepsi risiko.
Ke depan, publik akan menantikan hasil investigasi yang dijanjikan transparan. Pertanyaannya, apakah perbaikan tata kelola akan benar-benar diimplementasikan atau hanya menjadi respons sementara? Tanpa langkah korektif yang terukur, risiko insiden serupa di daerah lain tetap terbuka.



