Migrasi Ngengat Bogong di Australia Pulih, Ilmuwan: Sinyal Pemulihan Spesies Terancam
Baca dalam 60 detik
- Ratusan laporan kemunculan ngengat bogong membanjiri platform sains warga di pesisir New South Wales selama sepekan terakhir.
- Populasi serangga endemik Australia itu sempat merosot hingga 99,5% antara 2017 dan 2019, namun musim semi ini menunjukkan lonjakan signifikan.
- Para peneliti memperingatkan ancaman El Nino kuat yang dapat menggagalkan tren pemulihan dalam dua tahun ke depan.

Gelombang migrasi ngengat bogong (Agrotis infusa) kembali terlihat di langit pesisir New South Wales, Australia, memicu antusiasme di kalangan ilmuwan yang menilai fenomena ini sebagai indikasi awal pemulihan spesies yang terancam punah tersebut. Selama akhir pekan, ratusan laporan penampakan diunggah ke platform iNaturalist milik inisiatif sains warga Bogong Watch yang dikelola Invertebrates Australia.
Musim semi menandai dimulainya perjalanan tahunan ngengat ini menuju gua-gua sejuk di Pegunungan Alpen Australia, dengan jarak tempuh mencapai 1.000 kilometer. Manajer proyek Bogong Watch, Linnea Emneby, mengungkapkan bahwa puluhan relawan yang bertindak sebagai "sentinel"—menggunakan lampu perangkap non-letal—melaporkan kepadatan populasi yang tinggi. Tiga rumah tangga di NSW masing-masing mencatat puluhan ngengat pada Senin, sementara satu sentinel melihat lebih dari 200 individu pada Minggu malam.
Menurut Dr Marissa Parrott, ahli biologi reproduksi dari Zoos Victoria yang menjalankan program Moth Tracker, lonjakan tahun ini melampaui ekspektasi. "Laporan terus berdatangan. Salah satu anggota tim saya sampai menangis karena kegirangan pagi ini," ujarnya. Parrott menambahkan bahwa dalam bulan September saja, jumlah penampakan ngengat bogong telah melampaui total sepanjang tahun lalu. "Kami berharap ini menandakan pemulihan yang lebih kuat bagi spesies yang terancam punah ini."
Meski demikian, Parrott mengingatkan bahwa pemulihan ini belum merata. "Angka besar memang ada di NSW dan ACT, tetapi Victoria masih tertinggal," katanya. Ia menduga cuaca yang lebih basah dan sejuk telah menciptakan kondisi ideal bagi perkembangbiakan ngengat. "Mereka datang dalam gelombang," tambahnya, seraya menyebut bahwa migrasi ke Alpen membutuhkan waktu beberapa hari hingga minggu.
Ngengat bogong memiliki peran ekologis dan kultural yang signifikan. Selain sebagai penyerbuk, serangga ini menjadi sumber makanan utama bagi mountain pygmy possum, mamalia karnivora kecil yang berstatus kritis. Kemampuan navigasi ngengat ini juga unik: mereka adalah satu-satunya invertebrata yang diketahui menggunakan peta bintang sebagai kompas. Pada 2000, kawanan ngengat yang tertarik cahaya stadion Olimpiade Sydney begitu besar hingga petugas cuaca sempat mengira itu awan hujan.
"Sementara angka saat ini terlihat bagus dan patut kita syukuri, kami tetap khawatir dengan apa yang akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan," ujar Parrott, merujuk pada El Nino kuat yang membawa kondisi lebih kering dan panas.
Bagi publik yang menemukan ngengat bogong saat migrasi, para ahli menyarankan untuk mematikan lampu luar yang tidak perlu, menghindari insektisida, dan mengunggah penampakan ke platform Moth Tracker atau Bogong Watch. "Jika ada yang masuk ke rumah, pindahkan dengan hati-hati ke luar. Mereka tidak merusak, tidak memakan pakaian, dan justru membantu penyerbukan tanaman," pesan Parrott.
Konteks Indonesia
Fenomena migrasi ngengat bogong di Australia memiliki resonansi bagi Indonesia, terutama dalam konteks konservasi serangga penyerbuk dan ketahanan ekosistem. Indonesia dikenal sebagai rumah bagi berbagai spesies ngengat dan kupu-kupu endemik, beberapa di antaranya menghadapi tekanan serupa akibat perubahan iklim, hilangnya habitat, dan penggunaan pestisida. Keberhasilan pemulihan populasi ngengat di Australia dapat menjadi pelajaran tentang pentingnya pemantauan jangka panjang berbasis sains warga—sebuah pendekatan yang mulai diadopsi di beberapa daerah di Indonesia, meskipun masih terbatas.
Selain itu, dinamika El Nino yang diprediksi menguat turut memengaruhi pola migrasi dan siklus hidup serangga di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Penurunan populasi penyerbuk dapat berdampak langsung pada sektor pertanian dan ketahanan pangan. Oleh karena itu, data dari program seperti Bogong Watch dapat menjadi acuan tidak langsung bagi peneliti Indonesia dalam mengantisipasi fluktuasi populasi serangga di masa depan.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah ngengat bogong akan terus pulih, tetapi sejauh mana kebijakan konservasi Australia—dan negara-negara lain—mampu mengintegrasikan perlindungan spesies terancam ke dalam kerangka hukum yang mengikat. Tanpa langkah tersebut, lonjakan populasi musiman ini bisa jadi hanya jeda sebelum penurunan berikutnya.



