Ben Shelton Pertahankan Gelar Canadian Open, Sinyal Kebangkitan Tenis AS Jelang US Open
Baca dalam 60 detik
- Petenis Amerika Serikat, Ben Shelton, sukses mempertahankan gelar juara Canadian Open usai mengalahkan Brandon Nakashima di partai final dengan skor 6-3, 7-6 (4).
- Kemenangan ini menjadi gelar Masters 1000 kedua Shelton dan yang ketujuh sepanjang kariernya, sekaligus menandai final sesama petenis AS di turnamen tersebut untuk pertama kalinya sejak 2003.
- Prestasi ini dianggap sebagai sinyal positif bagi tenis putra AS menjelang US Open, turnamen yang belum pernah dimenangkan petenis tuan rumah sejak Andy Roddick pada 2003.

Ben Shelton mengukuhkan dominasinya di ajang Canadian Open dengan menundukkan rekan senegaranya, Brandon Nakashima, pada partai puncak yang berlangsung Kamis (13/8) waktu setempat. Unggulan kelima itu menang dua set langsung, 6-3 dan 7-6 (4), sekaligus mempertahankan gelar juara yang ia raih tahun lalu.
Kemenangan ini bukan sekadar mempertahankan trofi. Shelton mencatatkan namanya sebagai juara Canadian Open pertama sejak Novak Djokovic pada 2016 yang mampu menjuarai turnamen tanpa kehilangan satu set pun. Ia juga menjadi petenis pertama sejak Rafael Nadal pada 2019 yang berhasil mempertahankan gelar di ajang ini.
Pencapaian ini terasa lebih istimewa mengingat musim Shelton sepanjang tahun ini diwarnai serangkaian hasil mengecewakan. Ia tersingkir di babak pertama Wimbledon, kalah di putaran kedua Roland Garros, dan hanya meraih satu kemenangan dalam empat turnamen Masters 1000 pertamanya musim ini. Namun, di lapangan keras Kanada, performa terbaiknya kembali muncul.
"Bisa bermain seperti yang saya lakukan pekan ini, melewati seluruh pertandingan tanpa kehilangan satu set pun, itu menunjukkan kerja keras yang saya lakukan dan juga ketangguhan mental saya," ujar Shelton usai laga. "Musim ini tidak mudah bagi saya, jadi bisa tampil di level tertinggi seperti ini, saya tidak bisa berkata-kata."
Dari sisi persaingan, partai final kali ini menjadi yang pertama mempertemukan dua petenis Amerika Serikat di level Masters 1000 sejak Andy Roddick mengalahkan Mardy Fish di Cincinnati pada 2003. Fakta ini menjadi angin segar bagi tenis putra AS yang sejak lama haus gelar Grand Slam. Terakhir kali petenis AS menjadi juara tunggal putra US Open adalah ketika Roddick menang pada tahun yang sama.
Bagi publik tenis Indonesia, prestasi Shelton ini layak menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa konsistensi dan mentalitas juara tetap menjadi kunci di tengah dominasi petenis Eropa. Terlebih, dengan gaya bermain agresif dan servis kuat, Shelton bisa menjadi inspirasi bagi petenis muda Asia Tenggara yang bercita-cita menembus level tertinggi tenis dunia.
Nakashima, yang tampil di final Masters 1000 pertamanya, memberikan perlawanan sengit di set kedua. Ia berhasil memaksa tiebreak, tetapi Shelton tampil lebih tenang dan menutup laga dengan forehand winner yang memukau. Meski kalah, penampilan Nakashima menunjukkan kedalaman skuat tenis putra AS saat ini.
Dengan kemenangan ini, Shelton diprediksi akan menjadi salah satu unggulan utama di US Open yang akan digelar akhir bulan ini. Pertanyaannya, akankah ia mampu mengakhiri puasa gelar Grand Slam bagi petenis AS? Atau justru akan muncul kejutan dari petenis lain seperti Nakashima yang kini semakin percaya diri?



