Polisi Antiteror Inggris Bebaskan 5 Warga Negara dengan Jaminan di Pangkalan RAF Fairford, Tak Ada Bahan Peledak
Baca dalam 60 detik
- Tidak ditemukan alat peledak rakitan dalam tiga van yang digeledah di dekat Pangkalan Udara RAF Fairford, tetapi sejumlah bensin disita polisi.
- Lima warga negara Inggris yang ditangkap akhir pekan lalu dibebaskan dengan jaminan, memicu spekulasi publik dan pernyataan pejabat Amerika Serikat.
- Penyelidikan masih berlangsung dan otoritas tidak menutup kemungkinan keterlibatan aktor asing atau proksi dalam insiden tersebut.

Kepala Kepolisian Antiteror Inggris, Laurence Taylor, membela keputusan membebaskan dengan jaminan lima warga negara Inggris yang ditangkap terkait insiden mencurigakan di dekat Pangkalan Udara RAF Fairford, Gloucestershire. Polisi memastikan tidak ada alat peledak rakitan (IED) yang ditemukan di dalam tiga van yang diperiksa, meskipun sejumlah bahan bakar bensin disita sebagai barang bukti.
Kelima pria tersebut ditangkap pada dini hari Minggu setelah seorang penduduk melaporkan aktivitas mencurigakan yang melibatkan tiga kendaraan di sekitar pangkalan yang selama ini menjadi lokasi penempatan aset militer Amerika Serikat. Penangkapan itu dilakukan atas dugaan pelanggaran terorisme dan bahan peledak. Sebanyak 85 rumah tangga di desa Whelford terpaksa mengungsi ke pusat rekreasi setempat saat tim penjinak bom dan polisi antiteror dikerahkan ke lokasi.
Taylor menjelaskan bahwa keputusan pembebasan dengan jaminan diambil berdasarkan pertimbangan investigatif yang matang dan pengalaman penegakan hukum. "Keselamatan publik menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan investigasi," ujarnya, seraya menambahkan bahwa kelima pria tersebut tetap dalam pengawasan dan harus mematuhi syarat ketat selama proses hukum berlanjut. Ia juga memahami bahwa langkah ini mengejutkan banyak pihak, namun menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak diambil secara sembarangan.
Insiden ini menyita perhatian karena tiga van tersebut memiliki logo perusahaan transportasi bahan bakar yang sah, namun perusahaan itu kemudian membantah memiliki kendaraan tersebut. Bantahan ini memicu spekulasi di media sosial dan komunitas lokal bahwa para pria tersebut mungkin adalah pencuri bahan bakar. Spekulasi semakin meluas setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan bahwa peristiwa itu merupakan ulah "aktor asing", tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Presiden Donald Trump sebelumnya juga menyatakan "terkejut" atas pembebasan para tersangka.
"Kami mempertimbangkan segala kemungkinan, termasuk bahwa tindakan ini mungkin dilakukan oleh proksi atau individu yang secara sadar maupun tidak sadar bekerja untuk negara asing," kata Taylor.
Kekhawatiran akan keterkaitan dengan Iran mencuat setelah pada Maret lalu pemerintah Inggris memberikan izin kepada Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan tersebut bagi "operasi defensif spesifik ke Iran". Kedutaan Iran di London dengan tegas menolak dan mengecam spekulasi yang disebutnya tidak berdasar dan berniat jahat. Pada Senin, Wali Kota Greater Manchester Andy Burnham memanggil rapat komite darurat Cobra yang dihadiri pejabat kepolisian dan keamanan senior untuk membahas potensi kaitan geopolitik tersebut.
Warga setempat mulai kembali ke rumah mereka pada Selasa setelah beberapa hari mengungsi. Seorang tukang daging di Fairford, Mark Richings, mengatakan bahwa aktivitas di tokonya berjalan normal meski sedikit lebih sepi. "Kami hanya menjalani hidup seperti biasa. Tidak banyak yang bisa kami lakukan jika memang terjadi sesuatu," ujarnya kepada Press Association. Sementara itu, Pastor Michael Robertson dari Gereja Katolik St Thomas menuturkan bahwa sejumlah umat khawatir, tetapi secara umum situasi tetap terkendali. Ia juga menyebut banyak warga Amerika yang bertugas di pangkalan menjadi anggota jemaat tetap.
Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung dan polisi belum mengungkap motif pasti di balik insiden tersebut. Pemerintah Inggris menghadapi tekanan untuk menjelaskan apakah peristiwa ini merupakan bagian dari ancaman yang lebih luas dari aktor negara asing. Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat berdampak pada keamanan global, termasuk bagi warga negara Indonesia yang berada di luar negeri. Pemerintah perlu memantau situasi dan memastikan perlindungan bagi WNI di Inggris, sekaligus memperkuat kewaspadaan terhadap potensi radikalisasi dan ancaman terorisme lintas negara. Akankah investigasi ini mengungkap jaringan yang lebih besar, atau justru berakhir tanpa kesimpulan jelas?



