Unai Emery dan Kutukan Piala Super: Ujian Terakhir di Salzburg
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Aston Villa, Unai Emery, kembali berpeluang meraih trofi Piala Super Eropa setelah tiga kali gagal, saat timnya menghadapi PSG di Salzburg.
- Pertandingan ini menjadi ulangan perempat final Liga Champions musim lalu yang berakhir dramatis, dengan Villa nyaris membalikkan keadaan meski akhirnya tersingkir.
- Dengan banyaknya perubahan skuad dan pemain inti yang absen, Villa diprediksi akan tampil dengan komposisi berbeda, menguji kedalaman tim asuhan Emery.

Pelatih asal Spanyol itu telah tiga kali merasakan pahitnya kekalahan di ajang yang kerap dianggap sebagai pemanasan musim ini. Dua kekalahan terjadi saat menangani Sevilla, masing-masing dari Real Madrid pada 2014 dan Barcelona setahun kemudian. Satu lagi diderita bersama Villarreal, ketika kalah adu penalti dari Chelsea di Dublin pada 2021. Kini, di Red Bull Arena, Salzburg, Rabu (13/8) malam WIB, Emery kembali diberi kesempatan untuk memutus rentetan kegagalan tersebut.
Pertandingan ini bukan sekadar laga biasa. Aston Villa datang sebagai juara Europa League, sementara PSG menyandang status kampiun Liga Champions. Namun, bagi Emery, laga ini memiliki makna lebih personal. Ia pernah menukangi PSG pada 2016-2018, dan kini harus berhadapan dengan mantan klubnya. Lebih dari itu, ini adalah kesempatan keempatnya untuk mengangkat trofi yang belum pernah ia sentuh sepanjang karier kepelatihannya.
Pertanyaan yang mengemuka: apakah Piala Super Eropa sekadar laga persahabatan bergengsi, atau benar-benar memiliki nilai? Perbandingan dengan Community Shield di Inggris sering kali muncul. Namun, bagi Emery, trofi tetaplah trofi. "Itu adalah kesempatan. Trofi adalah sesuatu yang bisa memberi kami momen spesial. Bermain untuk trofi adalah tujuan kami sebagai profesional," ujarnya dalam konferensi pers sebelum laga, seperti dikutip BBC Sport.
PSG sendiri datang dengan status favorit. Mereka baru saja menjuarai Liga Champions dua musim beruntun, dan pelatih Luis Enrique telah merasakan manisnya Piala Super tahun lalu. Namun, para pemain PSG menolak anggapan bahwa mereka akan meremehkan laga ini. Gelandang Vitinha menegaskan timnya tetap lapar akan kemenangan, meski mengakui persiapan musim panas mereka sedikit terganggu. "Kami masih lapar akan kemenangan dan trofi. Sangat sulit mempertahankan level seperti ini, tapi kami tetap lapar," kata pemain asal Portugal itu.
Bek Marquinhos juga menekankan pentingnya laga ini untuk menjaga mentalitas juara. "Hanya karena kami memenangkan banyak hal di musim-musim lalu, bukan berarti itu mudah. Kami tahu akan ada banyak rintangan," ujarnya. Bahkan, PSG sempat mengeluhkan ukuran ruang ganti di Red Bull Arena dan UEFA harus menyediakan ruangan tambahan. Detail kecil yang menunjukkan betapa seriusnya mereka menangani laga ini.
Bagi Aston Villa, laga ini menjadi ujian sejati setelah musim lalu mereka nyaris menciptakan kejutan besar di Liga Champions. Dalam perempat final 2024-25, Villa sempat tertinggal agregat 1-5 di leg kedua di Birmingham, namun mampu bangkit dan menang 3-2 pada malam itu. Meski akhirnya tersingkir dengan agregat 4-5, performa tersebut menjadi bukti bahwa Emery telah mengubah Villa menjadi tim yang mampu bersaing dengan raksasa Eropa.
Namun, komposisi tim Villa kali ini jauh berbeda. Sejak laga itu, beberapa pemain kunci telah hengkang, seperti Morgan Rogers, Lucas Digne, dan Youri Tielemans. Amadou Onana cedera hingga tahun depan, sementara Boubacar Kamara baru pulih dari cedera lutut serius. Emi Martinez, Ezri Konsa, dan Ollie Watkins bahkan tidak ikut serta karena masih menjalani libur setelah Piala Dunia. Alhasil, hanya empat dari sebelas starter saat melawan PSG 18 bulan lalu yang kemungkinan akan tampil. Lima pemain pengganti malam itu juga sudah tidak lagi di klub.
Kapten John McGinn, yang telah delapan tahun membela Villa, mengakui banyak perubahan terjadi. "Banyak yang berubah dalam delapan tahun saya di sini. Ketika Anda merekrut talenta muda Inggris terbaik dan pemain tampil di level tertinggi, pasti akan ada minat dari klub lain. Kami memiliki struktur, standar, dan aturan yang membuat kami sukses. Saya sangat antusias dengan Aston Villa yang baru," tuturnya. McGinn juga menepis anggapan bahwa timnya sudah mencapai batas kemampuan. "Banyak orang mengira kami mencapai langit-langit beberapa musim lalu, dan kami membuktikan mereka salah."
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, laga ini menarik untuk disimak karena menunjukkan bagaimana klub-klub Eropa beradaptasi dengan perubahan skuad yang masif. Aston Villa, yang kini memiliki pemain naturalisasi asal Indonesia, Elkan Baggott, di skuad muda mereka, menjadi contoh bagaimana klub berinvestasi pada pemain muda. Meski Baggott tidak masuk dalam skuad utama untuk laga ini, perkembangannya di akademi Villa bisa menjadi inspirasi bagi pesepak bola Indonesia untuk menembus level tertinggi Eropa.
Pertandingan ini juga menjadi ajang pembuktian bagi Emery, yang sering dianggap sebagai "raja Liga Europa" namun belum pernah menjuarai Piala Super. Jika berhasil menaklukkan PSG, ia akan menambah koleksi trofinya dan sekaligus menjawab kritik yang selama ini dialamatkan padanya. Namun, jika kembali gagal, pertanyaan tentang signifikansi trofi ini akan kembali mengemuka.
Dengan segala dinamika yang ada, laga di Salzburg diprediksi berjalan ketat. PSG diunggulkan, namun Villa memiliki motivasi berlipat untuk membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tim kejutan. Satu hal yang pasti: bagi Emery, laga ini bukan sekadar pemanasan. Ini adalah kesempatan untuk menulis ulang sejarah, dan sekaligus menunjukkan bahwa ia layak disebut sebagai pelatih papan atas Eropa.



