Bangladesh Guncang Australia: Tuan Rumah Terpuruk 183-8 di Hari Pertama
Baca dalam 60 detik
- Tim tamu memanfaatkan kondisi lapangan hijau di Darwin untuk membongkar pertahanan Australia, menutup sesi kedua dengan keunggulan telak.
- Steve Smith menjadi satu-satunya harapan tuan rumah dengan 67 run tak terkalahkan, sementara lini tengah dan bawah gagal memberikan dukungan berarti.
- Kekalahan ini menempatkan Australia dalam tekanan besar untuk menghindari kekalahan di kandang, sekaligus membuka peluang Bangladesh meraih kemenangan bersejarah.

Darwin, 13 Agustus โ Tim kriket Bangladesh tampil mengejutkan dengan menjungkirbalikkan Australia pada hari pertama pertandingan pertama seri Tes di Stadion Marrara, Kamis. Hingga jeda minum teh, tuan rumah hanya mampu mengumpulkan 183 run dengan kehilangan delapan wicket, sebuah posisi yang sangat tidak nyaman bagi tim yang bermain di kandang sendiri.
Keputusan kapten Australia, Pat Cummins, untuk memilih batting lebih dulu setelah memenangkan lemparan koin ternyata menjadi bumerang. Lapangan yang ditumbuhi rumput tebal dan cuaca panas di ibu kota Northern Territory itu memberi keuntungan besar bagi para pelempar Bangladesh. Mereka memanfaatkan kondisi tersebut dengan disiplin, membongkar pertahanan Australia sejak sesi pagi.
Paceman Hasan Mahmud menjadi mimpi buruk bagi Australia. Ia berhasil menyingkirkan kedua pembuka Australia di sesi pagi, kemudian kembali menyerang pada sesi kedua dengan memecahkan kemitraan ekor. Pat Cummins (9) dan Mitchell Starc (1) menjadi korban berikutnya dalam waktu singkat, membuat Australia kehilangan tiga wicket hanya dalam beberapa over. Sementara itu, Ebadot Hossain turut menyumbang dua wicket, termasuk wicket penting Alex Carey yang gagal membaca bola sehingga bola mengenai stumps-nya sendiri. Carey yang baru mencetak 19 run, mengakhiri kemitraan 55 run bersama Steve Smith.
Steve Smith, yang tampil sebagai satu-satunya pemain Australia yang mampu bertahan, mencatatkan half-century ke-37 dalam karier Tes-nya. Ia berada di 67 run tak terkalahkan saat jeda, tetapi tanpa dukungan dari rekan-rekannya, ia seperti berjuang sendirian. Jake Weatherald yang sedang dalam tekanan tampil gugup dan hanya mampu membuat 23 run sebelum tertangkap di slips akibat pukulan longgar. Cameron Green, yang posisinya di tim juga dipertanyakan, hanya mampu menyumbang 13 run sebelum tertangkap oleh short midwicket. Marnus Labuschagne, yang biasanya menjadi andalan, bahkan hanya mencetak satu run sebelum tertangkap oleh Ebadot.
Bagi Bangladesh, ini adalah seri Tes pertama mereka di Australia sejak 2003. Kedatangan mereka kali ini tidak dianggap sebagai ancaman serius, tetapi penampilan mereka di hari pertama membuktikan sebaliknya. Para pelempar Bangladesh, yang datang tanpa beberapa pemain kunci karena cedera, justru tampil lebih agresif dan efektif. Taskin Ahmed, yang juga mengambil dua wicket, menunjukkan akurasi dan kecepatan yang menyulitkan para batsman Australia.
Konteks bagi Indonesia: meskipun kriket bukan olahraga utama di Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati karena menunjukkan bagaimana tim yang dianggap underdog mampu tampil dominan di kandang lawan. Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi tim-tim olahraga Indonesia yang sering menghadapi tekanan saat bertanding di luar negeri. Selain itu, dengan semakin populernya kriket di Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang mulai mengembangkan tim kriketnya, hasil ini bisa menjadi inspirasi bahwa peringkat dan reputasi bukanlah segalanya di lapangan.
Pertandingan masih panjang. Australia masih memiliki dua wicket di tangan, dan Bangladesh akan berusaha menuntaskan inning tuan rumah secepat mungkin untuk membangun keunggulan besar. Pertanyaan besarnya: dapatkah Australia bangkit dari keterpurukan ini, atau justru Bangladesh akan mencatatkan kemenangan bersejarah di tanah Australia? Sesi berikutnya akan menjadi penentu arah pertandingan.



