Rano Karno: Guruh Soekarnoputra Membangun Jalan Kebudayaan, Bukan Sekadar Mewarisi Nama Besar
Baca dalam 60 detik
- Guruh Soekarnoputra, putra bungsu Presiden RI pertama, meninggal dunia pada Sabtu (26/9/2026) di usia 73 tahun dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta, bersebelahan dengan makam ibunya, Fatmawati.
- Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno menilai Guruh memilih menempuh jalur seni dan budaya alih-alih mengandalkan status sebagai anak Bung Karno, dengan warisan karya seperti 'Melati Suci' dan 'Untukmu, Indonesiaku'.
- Kepergian Guruh menutup babak penting dalam sejarah keluarga Soekarno sekaligus membuka pertanyaan tentang siapa yang akan melanjutkan visi kebudayaan yang ia bangun selama puluhan tahun.

Guruh Soekarnoputra, putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno, meninggal dunia pada Sabtu (26/9/2026) pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, pada usia 73 tahun. Jenazahnya dimakamkan siang itu juga di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, tepat di sisi pusara ibundanya, Fatmawati. Kepergiannya bukan sekadar berita duka keluarga, melainkan penanda berakhirnya satu generasi yang menjadikan seni sebagai jalan politik dan pengabdian.
Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno, yang membacakan sambutan saat pemakaman, menyoroti pilihan hidup Guruh yang tidak mau berlindung di balik bayang-bayang nama besar orang tuanya. Menurut Rano, Guruh menempuh rute yang berbeda dari saudara-saudaranya yang berkecimpung di dunia politik praktis. "Ia tidak memilih hanya hidup di bawah kebesaran nama orang tuanya. Dia memilih menciptakan jalannya sendiri, dan jalan itu bernama kebudayaan," ujar Rano di hadapan pelayat.
Dalam pandangan Rano, kecintaan Guruh terhadap Indonesia tidak diwujudkan lewat pidato atau jabatan, melainkan melalui karya. Ia menyebut "Melati Suci" sebagai contoh kelembutan sekaligus kedalaman rasa, sementara "Untukmu, Indonesiaku" digambarkan sebagai semacam ikrar cinta kepada tanah air. "Dia tidak hanya berbicara tentang Indonesia, ia menyanyikannya, ia menciptakan panggung untuknya, ia menggali kekayaan tradisinya," kata Rano.
"Karya itu seperti sebuah sumpah cinta kepada tanah air, tentang jiwa, raga, dan karya yang dipersembahkan untuk Indonesia." — Rano Karno, Wakil Gubernur Jakarta
Bagi publik Indonesia, sosok Guruh sering dipandang sebagai bagian dari dinasti politik Soekarno yang kompleks. Namun jejak artistiknya menunjukkan arah berbeda: ia menekuni tari, musik, dan pertunjukan rakyat sebagai medium diplomasi budaya. Pilihan itu relevan di tengah perdebatan hari ini tentang seberapa besar ruang bagi seni dan budaya dalam agenda pembangunan nasional, terutama ketika anggaran kebudayaan sering kalah prioritas dibanding sektor infrastruktur dan ekonomi.
Kepergian Guruh juga memunculkan pertanyaan tentang regenerasi. Selama puluhan tahun, ia menjadi penghubung antara warisan Bung Karno dan ekspresi budaya kontemporer. Tanpa figur yang secara konsisten menggarap ranah ini, ada risiko visi kebudayaan yang ia rintis kehilangan penopang kelembagaan. Pemerintah dan pelaku seni perlu memikirkan bagaimana menerjemahkan semangat itu ke dalam kebijakan yang konkret, bukan sekadar seremoni peringatan.
Dari kacamata investor dan profesional, sosok seperti Guruh mengingatkan bahwa nilai budaya dapat menjadi daya tarik ekonomi, mulai dari pariwisata berbasis seni hingga industri kreatif. Jakarta, tempat ia dimakamkan, memiliki peluang menjadikan warisan budayanya sebagai bagian dari identitas kota yang lebih kuat. Namun tanpa dukungan ekosistem—ruang pertunjukan, pendanaan, dan perlindungan hak cipta—potensi itu bisa berhenti sebagai nostalgia.
Ke depan, publik menunggu apakah keluarga Soekarno, pemerintah, dan komunitas seni akan bersinergi merawat jejak Guruh. Ataukah warisannya akan menguap bersama waktu, seperti banyak tokoh budaya lain yang baru dihargai setelah tiada?



