Eddie Jones Rombak Lima Posisi, Jepang Berburu Revans atas Australia di Townsville
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Jepang, Eddie Jones, melakukan lima perubahan starting lineup untuk uji coba kedua melawan Australia, termasuk mengganti kedua sayap dan memperkuat barisan kedua dengan Harry Hockings.
- Kekalahan tipis 35-32 di Osaka menjadi momentum bagi Brave Blossoms untuk membuktikan diri di hadapan publik Townsville, sekaligus menguji strategi baru di bawah arahan Jones.
- Pertandingan ini menjadi ajang pembuktian bagi pemain-pemain baru Jepang, sekaligus ujian konsistensi bagi Australia yang baru saja meraih kemenangan perdana di bawah pelatih Les Kiss.

Timnas rugby Jepang, Brave Blossoms, siap tampil beda saat menghadapi Australia pada uji coba kedua di Townsville, Sabtu (17/8). Pelatih Eddie Jones melakukan lima perubahan besar di susunan pemain inti, sebagai respons atas kekalahan tipis 35-32 di Osaka pekan lalu. Langkah ini menjadi sinyal bahwa Jepang tidak hanya ingin memperbaiki hasil, tetapi juga menguji kedalaman skuatnya di tengah persaingan ketat menuju Piala Dunia 2027.
Perubahan paling mencolok terjadi di lini sayap, di mana Haruto Kida dan Yoshitaka Yazaki dipercaya menggantikan Kazuma Ueda dan Taira Main. Keduanya diharapkan memberikan kecepatan dan kreativitas baru di sisi lapangan. Di sektor tengah, Samisoni Tua masuk menggantikan Shunsuke Uenobo, sementara Harry Hockings, pemain kelahiran Australia, dipasang di barisan kedua mendampingi kapten Warner Dearns. Jack Cornelsen harus rela duduk di bangku cadangan, dan Tiennan Costley mengisi posisi flanker menggantikan Kanji Shimokawa.
Keputusan Jones ini menunjukkan keberaniannya untuk merotasi tim, meski pertandingan kedua ini krusial. Seperti diketahui, Jepang sebenarnya tampil impresif di Osaka, nyaris mencuri kemenangan sebelum akhirnya menyerah. Namun, Jones menilai ada beberapa aspek yang perlu dievaluasi, terutama di sektor pertahanan dan penyelesaian peluang. Dengan wajah-wajah baru, ia berharap timnya lebih agresif dan mampu menekan Australia sejak menit awal.
Bagi Australia, pertandingan ini menjadi ujian kedua bagi pelatih baru mereka, Les Kiss, yang meraih kemenangan perdana di Osaka. Kemenangan tersebut tentu menjadi modal berharga, tetapi Kiss juga sadar bahwa Jepang akan tampil lebih garang di Townsville. Apalagi, dukungan penonton tuan rumah di Queensland biasanya menjadi energi tambahan bagi Wallabies. Namun, tekanan justru ada di pundak Australia yang diunggulkan, sementara Jepang bisa tampil lepas tanpa beban.
Dari perspektif Asia, performa Jepang selalu menjadi perhatian, termasuk di Indonesia yang mulai melirik olahraga rugby. Meski belum sepopuler sepak bola, perkembangan rugby di kawasan ini patut dicermati. Keberanian Jones merotasi pemain muda bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan bakat di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia yang tengah membangun fondasi olahraga ini.
Menariknya, Jepang tidak hanya mengandalkan pemain lokal. Kehadiran pemain keturunan seperti Hockings dan Tiennan Costley menunjukkan strategi Jepang dalam memperkuat tim melalui pemain berdarah asing. Ini sejalan dengan tren global di mana tim-tim rugby besar memanfaatkan pemain naturalisasi untuk meningkatkan kualitas. Bagi Indonesia, hal ini bisa menjadi pelajaran bahwa pengembangan bakat tidak selalu harus dimulai dari nol, tetapi juga bisa melalui program naturalisasi yang terencana.
Pertandingan di Townsville diprediksi berjalan sengit. Australia tentu ingin memastikan kemenangan beruntun, sementara Jepang berambisi membalas kekalahan. Dengan komposisi pemain baru, Jones tampaknya ingin melihat sejauh mana para pemain cadangannya mampu bersaing di level internasional. Jika berhasil, Jepang akan memiliki kedalaman skuat yang lebih baik untuk menghadapi turnamen-turnamen besar mendatang.
Lantas, mampukah Jepang mengejutkan Australia di kandangnya sendiri? Atau justru perubahan ini akan menjadi bumerang bagi Eddie Jones? Jawabannya akan terungkap di Townsville, dan publik rugby Asia, termasuk Indonesia, akan menyaksikan bagaimana sebuah tim bangkit dari keterpurukan.



