Ruby Evans: Dari Remaja Tanpa Kenal Olimpiade Menuju Panggung Emas
Baca dalam 60 detik
- Atlet senam Wales, Ruby Evans, berhasil meraih emas di Commonwealth Games 2026 setelah sebelumnya gagal di all-around.
- Fenomena media sosial membawa popularitas besar bagi Evans, namun juga tantangan berupa komentar negatif yang ia hadapi dengan bijak.
- Dengan fokus pada pengembangan diri, Evans membidik kesuksesan di Olimpiade Los Angeles 2028.

Ruby Evans, pesenam asal Wales, membuktikan bahwa kegagalan bukan akhir segalanya. Hanya berselang dua hari setelah menangis kecewa di Glasgow, ia bangkit dan mempersembahkan medali emas bersejarah bagi Wales pada nomor lantai Commonwealth Games 2026. Momen ini menegaskan posisinya sebagai salah satu bintang muda olahraga Inggris yang patut diperhitungkan.
Perjalanan Evans menuju puncak tidaklah mudah. Pada Olimpiade Paris 2024, saat usianya baru 17 tahun, ia tampil memukau dan langsung mencuri perhatian publik. Dalam waktu singkat, pengikut Instagramnya melonjak hingga 127.000 dan video-videonya di TikTok meraih hampir dua juta suka. "Saya tidak menyangka akan mendapat banyak pengikut setelah Olimpiade," ujarnya. "Saya terlalu muda dan tidak pernah benar-benar menonton Olimpiade. Saya tidak sadar berapa banyak orang yang menontonnya."
Popularitas di media sosial, bagaimanapun, membawa sisi gelap. Evans mengaku tidak asing dengan komentar negatif, tetapi ia memilih untuk tidak terpengaruh. "Tidak peduli siapa Anda, pasti ada komentar jahat. Tapi jika mereka tidak melakukan hal yang lebih baik dan hanya bisa mengomentari kehidupan orang lain, maka Anda sudah menang," katanya. Ia menambahkan bahwa menunjukkan rasa tersinggung hanya akan memancing pelaku untuk terus melakukannya.
Keberhasilan Evans di Glasgow menjadi titik balik. Setelah menempati posisi keenam di all-around, ia mengaku mengubah kemarahan menjadi motivasi. "Naga saya benar-benar menyala," katanya setelah memenangkan emas. Kini, ia mengalihkan perhatiannya ke Kejuaraan Eropa di Zagreb, Kroasia, yang akan disiarkan langsung oleh BBC mulai Sabtu. Timnya menargetkan performa kuat di final beregu putri, yang menjadi batu loncatan menuju Kejuaraan Dunia Oktober dan kualifikasi Olimpiade.
Bagi Indonesia, kisah Evans menyiratkan pelajaran tentang ketangguhan mental dan pengelolaan tekanan di era digital. Atlet-atlet muda Indonesia, terutama di cabang olahraga yang sedang naik daun seperti bulu tangkis atau panjat tebing, dapat mengambil inspirasi dari cara Evans menyikapi kritik dan membangun fokus jangka panjang. Fenomena media sosial juga relevan, mengingat banyak atlet Tanah Air yang mulai memanfaatkan platform digital untuk membangun personal branding, namun harus waspada terhadap dampak psikologisnya.
Evans menegaskan bahwa ia tidak terdorong oleh medali, melainkan oleh keinginan untuk terus berkembang. Saat ditanya tentang target emas di Olimpiade Los Angeles 2028, ia tersenyum. Untuk sukses di level individu, ia perlu menguasai dua lompatan dengan awalan berbeda. "Mungkin jika saya bisa melakukan lompat kedua, saya punya peluang bagus. Tapi sekarang masih gigi dua, harus naik ke gigi lima," ujarnya. Dengan sikap rendah hati dan kerja keras, Evans menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang layak dinantikan aksinya di panggung dunia.



