Djokovic Tersingkir di Cincinnati: Panas dan Fisik Jadi Ancaman Jelang AS Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Novak Djokovic menelan kekalahan mengejutkan dari petenis peringkat 50 dunia, Thiago Tirante, pada putaran kedua Cincinnati Open.
- Kondisi panas dan lembap memaksa Djokovic meminta time-out medis, memunculkan pertanyaan tentang kesiapannya menghadapi AS Terbuka.
- Kekalahan ini menjadi sinyal bahwa persaingan menuju Grand Slam terakhir tahun ini semakin terbuka, dengan Djokovic masih mengejar gelar ke-25.

Petenis Serbia, Novak Djokovic, harus mengakui keunggulan petenis Argentina, Thiago Tirante, pada putaran kedua Cincinnati Open, Sabtu (15/8) waktu setempat. Djokovic kalah dengan skor 2-6, 6-4, 6-4 setelah berjuang keras melawan lawan sekaligus kondisi cuaca ekstrem. Ini menjadi kekalahan perdananya sejak tampil di semifinal Wimbledon, sekaligus alarm menjelang AS Terbuka yang akan bergulir akhir bulan ini.
Pertandingan yang berlangsung di lapangan keras ini memperlihatkan dominasi awal Djokovic. Ia melesat di set pertama dengan permainan agresif, seolah tak terbendung. Namun, memasuki set kedua, kelembapan tinggi mulai menggerogoti fisiknya. Pada game ketiga yang berlangsung 18 menit dengan sembilan kali deuce, Djokovic tampak kelelahan dan bahkan berlutut di lapangan. Ia sempat meminta perawatan medis untuk menurunkan suhu tubuhnya.
Kondisi fisik yang menurun membuat permainan Djokovic di set kedua dan ketiga jauh dari kata konsisten. Ia kehilangan fokus dan banyak melakukan kesalahan sendiri, termasuk saat menghadapi match point. Tirante, yang berada di peringkat 50 dunia, tampil tenang dan memanfaatkan peluang dengan baik. Kemenangan ini menjadi yang terbesar dalam karier Tirante, dan ia berhak melaju ke putaran ketiga untuk bertemu petenis Spanyol, Martin Landaluce.
Bagi Djokovic, kekalahan ini menjadi sorotan karena ia sebelumnya tampil impresif di Wimbledon, meski akhirnya kalah dari Jannik Sinner. Masalah fisik yang muncul di Cincinnati menjadi pertanyaan besar: apakah tubuhnya siap menghadapi turnamen Grand Slam yang menuntut ketahanan ekstra? Apalagi, ia menargetkan gelar ke-25 yang akan memecahkan rekor sepanjang masa.
Kekalahan ini juga membuka ruang bagi petenis lain untuk percaya diri. Tirante, yang sebelumnya jarang menjadi sorotan, kini mendapat perhatian internasional. Ia mengaku terharu dan mendedikasikan kemenangan ini untuk keluarga dan teman-temannya di Argentina. "Mereka mungkin berada di Argentina, tetapi mereka selalu di hati saya," ujarnya setelah pertandingan.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, kekalahan Djokovic ini menjadi pengingat bahwa kondisi fisik adalah faktor krusial dalam olahraga yang mengandalkan kecepatan dan stamina. Di tengah cuaca tropis yang kerap panas, para petenis Indonesia pun harus memperhatikan manajemen hidrasi dan pemulihan. Selain itu, hasil ini menunjukkan bahwa persaingan menuju AS Terbuka semakin ketat, dengan nama-nama seperti Sinner, Carlos Alcaraz, dan lainnya siap memberikan kejutan.
Djokovic sendiri dipastikan akan berusaha bangkit. Jadwalnya ke depan akan difokuskan untuk pemulihan dan persiapan menuju New York. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah ia mampu menjaga performa terbaiknya di usia 39 tahun? Atau justru generasi muda seperti Tirante akan semakin sering menjadi batu sandungan? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: Djokovic tidak akan menyerah begitu saja.



