Eddie Jones Pakai Video Formasi Angsa untuk Perbaiki Dukungan Jepang Jelang Uji Coba Kedua Lawan Australia
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Jepang, Eddie Jones, menggunakan video formasi terbang angsa sebagai alat visual untuk memperbaiki permainan dukungan timnya.
- Jepang harus mengejar ketertinggalan 35-32 dari Australia pada laga pertama, dan Jones melakukan lima perubahan pemain untuk laga kedua.
- Pendekatan non-konvensional ini menegaskan fokus Jepang pada kerja sama tim dan respons cepat terhadap pembawa bola.

Pelatih tim nasional rugby Jepang, Eddie Jones, kembali menunjukkan gaya kepelatihannya yang tidak lazim dengan menggunakan video formasi terbang angsa sebagai alat untuk memperbaiki performa timnya. Jepang akan menghadapi Australia dalam laga kedua dari dua pertandingan uji coba yang berlangsung di Townsville, Australia, Sabtu ini. Kekalahan tipis 35-32 di Osaka pekan lalu menjadi modal evaluasi yang serius bagi skuad "Brave Blossoms".
Jones, yang sebelumnya menukangi Jepang pada periode 2012-2015 dan kemudian menangani Inggris, mengaku tidak puas dengan ketajaman permainan dukungan (support play) anak asuhnya pada laga pembuka. Untuk menyampaikan pesan tersebut, ia memutar rekaman angsa yang terbang dalam formasi V kepada para pemain. Menurut Jones, pemimpin kawanan angsa adalah analogi dari pembawa bola dalam rugby, dan seluruh pemain lain harus mengikuti pergerakannya.
"Pembawa bola adalah raja, dan semua orang harus mengikuti setelahnya. Angsa terbang ratusan hingga ribuan mil dalam formasi, dan mereka mengikuti satu angsa di depan. Tanggung jawab pemain pendukung adalah merespons apa yang dilakukan pembawa bola," ujar Jones, seperti dikutip BBC Sport.
Pendekatan visual ini bukan sekadar gimmick. Jones dikenal sebagai pelatih yang kerap mencari cara kreatif untuk membangun pemahaman taktis. Dalam pertandingan sebelumnya, Australia justru tampil lebih efektif meski harus bermain dengan 14 pemain setelah kartu merah yang diterima Miles Amatosero. Kemenangan itu menjadi yang pertama bagi pelatih baru Australia, Les Kiss, yang menggantikan Joe Schmidt awal tahun ini.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, pendekatan Jones ini memberikan pelajaran tentang pentingnya adaptasi dan komunikasi dalam tim. Meski rugby belum sepopuler sepak bola di Tanah Air, perkembangan tim Asia seperti Jepang menjadi inspirasi bahwa dengan strategi yang tepat, tim non-tradisional bisa bersaing di level tertinggi. Jepang sendiri pernah mengejutkan dunia dengan kemenangan atas Afrika Selatan di Piala Dunia 2015, dan kini berusaha membangun konsistensi.
Jones menegaskan bahwa timnya telah menetapkan target untuk tampil lebih agresif dan menguasai pertandingan. "Kami sangat kecewa kalah di laga terakhir, jadi yang terpenting sekarang adalah bagaimana kami menghadapi pertandingan ini," tambahnya. Dengan lima perubahan susunan pemain, Jepang jelas ingin memperbaiki kelemahan di lini belakang dan meningkatkan koordinasi antarpemain.
Pertandingan kedua ini akan menjadi ujian nyata bagi efektivitas metode pelatihan Jones. Apakah video angsa mampu mengubah pola pikir dan permainan Jepang? Atau justru Australia akan kembali menunjukkan superioritasnya di kandang sendiri? Jawabannya akan terlihat di Townsville, dan publik rugby Asia tentu berharap Jepang mampu memberikan perlawanan sengit.



