Kiper Muda Bihina Jadi Pahlawan, Kamerun Singkirkan Maroko dan Lolos ke Final Wafcon 2026
Baca dalam 60 detik
- Penjaga gawang Kamerun, Michaely Bihina, menggagalkan penalti di masa perpanjangan waktu dan tiga tendangan penalti lainnya untuk mengantarkan timnya menang 3-1 atas Maroko di semifinal Piala Afrika Wanita.
- Kamerun, yang sebelumnya tersingkir di kualifikasi dan hanya lolos karena perluasan turnamen, kini berhadapan dengan Malawi di final, sebuah pencapaian yang mengejutkan banyak pihak.
- Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Maroko yang telah berinvestasi besar dalam sepak bola wanita, termasuk merekrut pelatih Jorge Vilda, namun kembali gagal meraih gelar juara.

Kiper muda Kamerun, Michaely Bihina, menjadi pahlawan setelah menggagalkan penalti di masa perpanjangan waktu dan tiga tendangan penalti lainnya dalam adu tos-tosan, membawa timnya melaju ke final Piala Afrika Wanita (Wafcon) 2026. Kemenangan dramatis 3-1 atas tuan rumah Maroko di Stadion Moulay Hassan, Rabat, pada Rabu (12/2/2025) ini mengantarkan Kamerun ke partai puncak untuk pertama kalinya sejak 2016.
Pertandingan berjalan ketat dan tanpa gol selama 120 menit. Peluang terbaik Maroko datang pada menit ke-118 ketika wasit memberikan hadiah penalti setelah tinjauan VAR. Namun, Bihina dengan gemilang menepis tendangan Fatima Tagnaout. Di babak adu penalti, kiper berusia 22 tahun itu kembali menjadi mimpi buruk bagi para eksekutor Maroko, menggagalkan upaya Kenza Chapelle, Maryame Atiq, dan Sakina Ouzraoui. Bek muda Kamerun, Maryam Nyadjou, yang masih berusia belasan, sukses menjalankan tugasnya sebagai penendang kelima dan memastikan kemenangan.
Perjalanan Kamerun ke final ini terbilang luar biasa. Mereka sempat tersingkir di babak kualifikasi dan hanya bisa melaju setelah Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) memutuskan memperluas turnamen menjadi 16 tim di tengah proses kualifikasi. Kini, mereka akan berhadapan dengan Malawi pada final yang digelar Minggu (16/2/2025) pukul 19.00 GMT. Malawi sendiri melaju setelah mengalahkan Aljazair 3-1 pada semifinal sebelumnya.
Bagi Maroko, kekalahan ini menjadi pukulan telak. Negeri itu telah berinvestasi besar dalam pengembangan sepak bola wanita, termasuk menunjuk pelatih asal Spanyol, Jorge Vilda, yang membawa timnas wanita Spanyol juara Piala Dunia 2023. Namun, ambisi meraih gelar pertama mereka kembali pupus. Sebelumnya, Maroko menjadi runner-up pada 2022 dan juga kalah di final Wafcon 2024 yang tertunda, setelah membuang keunggulan 2-0 di babak pertama melawan Nigeria.
Kamerun, yang dijuluki Singa Betina, telah tiga kali kalah di final sebelumnya. Pelatih Valentine Nguele, yang baru mengambil alih tim pada Juni lalu, kini dihadapkan pada tantangan meredam ancaman dari duet penyerang Malawi, Tabitha dan Temwa Chawinga. Kedua bersaudara ini menjadi andalan Malawi sepanjang turnamen.
Kemenangan ini juga membuka peluang bagi Kamerun untuk meraih gelar pertamanya di ajang Wafcon. Sementara itu, pada Kamis (13/2/2025), akan berlangsung play-off Afrika antara Pantai Gading melawan Ghana dan Nigeria bertemu Afrika Selatan, yang memperebutkan tiket ke kualifikasi antar-benua untuk Piala Dunia Wanita 2027.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Bihina menjadi inspirasi bahwa kerja keras dan ketenangan di bawah tekanan dapat mengubah jalannya pertandingan. Meski sepak bola wanita di Indonesia masih berkembang, pencapaian Kamerun menunjukkan bahwa dengan persiapan matang dan mental juara, tim yang dianggap underdog bisa tampil mengejutkan. Pertanyaan besarnya, akankah Indonesia mampu meniru jejak Kamerun dalam turnamen-turnamen internasional di masa depan?



