Dragon Ball Land di Pinggir Paris: Investasi Arab Saudi Rp 18 Triliun untuk Anime Jepang
Baca dalam 60 detik
- Prancis tengah merancang taman hiburan bertema Dragon Ball di barat laut Paris dengan pendanaan dari Qiddiya Investment Co (QIC) milik Arab Saudi.
- Investasi proyek ini diperkirakan menembus 1 miliar euro, menandai ekspansi besar-besaran Arab Saudi di industri hiburan Eropa.
- Langkah ini memperkuat rivalitas global dalam atraksi bertema anime, seiring Saudi juga membangun taman Dragon Ball di Riyadh.

Pemerintah Prancis dikabarkan tengah menjajaki pembangunan taman hiburan bertema Dragon Ball di kawasan pinggiran Paris, dengan pendanaan utama dari perusahaan investasi milik Arab Saudi, Qiddiya Investment Co. (QIC). Rencana ini muncul di tengah gencarnya diplomasi budaya dan ekonomi antara Paris dan Riyadh, sekaligus menegaskan posisi anime Jepang sebagai aset strategis dalam industri hiburan global.
Menurut laporan Politico edisi Eropa yang mengutip enam sumber dari kalangan diplomatik dan bisnis, negosiasi antara pemerintah Prancis dan pihak-pihak terkait QIC telah berlangsung intensif dalam beberapa bulan terakhir. Lokasi yang diincar adalah lahan seluas sekitar 30 kilometer di barat laut Paris, yang terbengkalai sejak 1991 setelah taman hiburan terbesar Prancis saat itu gulung tikar akibat kesulitan finansial. Kini, lahan tersebut direncanakan dihidupkan kembali dengan suntikan dana asing.
Nilai investasi proyek ini diperkirakan melampaui 1 miliar euro, atau setara dengan Rp 18 triliun. QIC, yang baru saja membuka kantor perwakilan di Paris, disebut-sebut akan menjadi motor utama pendanaan. Langkah ini sejalan dengan strategi Arab Saudi yang tengah agresif mengembangkan sektor pariwisata dan hiburan sebagai bagian dari Visi 2030, program ambisius untuk mengurangi ketergantungan ekonomi pada minyak.
Menariknya, rencana taman hiburan Dragon Ball di Prancis bukanlah yang pertama. Arab Saudi sendiri telah memulai pembangunan taman serupa di pinggiran Riyadh, yang digadang-gadang sebagai yang pertama di dunia. Dengan demikian, kehadiran dua taman bertema anime ikonik ini di dua benua berbeda menunjukkan persaingan sengit dalam merebut pasar penggemar anime global, yang diperkirakan bernilai miliaran dolar.
Popularitas anime Jepang di Eropa, khususnya Prancis, memang tidak perlu diragukan. Negeri ini dikenal sebagai salah satu pasar anime terbesar di benua biru, dengan komunitas penggemar yang sangat aktif. Bahkan, Presiden Prancis Emmanuel Macron sendiri diketahui sebagai penggemar Dragon Ball, sementara Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dikabarkan menggemari One Piece. Kedekatan para pemimpin dengan budaya pop Jepang ini dinilai menjadi faktor yang memperlancar negosiasi.
Bagi Indonesia, fenomena ini memberikan pelajaran penting tentang bagaimana kekuatan budaya pop dapat menjadi instrumen diplomasi dan investasi. Indonesia, dengan pasar anime yang besar dan komunitas penggemar yang loyal, sebenarnya memiliki potensi serupa untuk mengembangkan ekosistem kreatif berbasis anime. Namun, tanpa dukungan regulasi dan infrastruktur yang memadai, peluang tersebut bisa saja dimanfaatkan oleh negara lain.
Menurut analis ekonomi kreatif, langkah Prancis dan Arab Saudi menunjukkan bahwa anime bukan sekadar tontonan, melainkan aset ekonomi yang mampu menarik investasi lintas negara. Ke depannya, persaingan untuk menguasai pasar ini akan semakin ketat.
Pertanyaannya, apakah Indonesia akan ikut ambil bagian dalam perlombaan ini, atau hanya menjadi penonton di tengah gempuran taman hiburan bertema anime yang mulai menjamur di berbagai belahan dunia? Dengan potensi pasar yang besar, keputusan untuk berinvestasi di sektor ini bisa menjadi langkah strategis yang menguntungkan dalam jangka panjang.



