Gempa Kolombia: Presiden Baru Janjikan Dana Rekonstruksi, 265 Tewas dan 500 Hilang
Baca dalam 60 detik
- Presiden Kolombia mengumumkan darurat ekonomi dan dana rekonstruksi pasca gempa 7,4 SR yang menewaskan 265 orang.
- Tim penyelamat berlomba melawan waktu dalam 72 jam kritis untuk menemukan korban selamat di reruntuhan.
- Bencana ini menjadi ujian pertama bagi pemerintahan baru yang berencana memangkas anggaran penanggulangan bencana.

Kolombia masih bergulat dengan duka dan kekacauan setelah gempa bumi berkekuatan 7,4 skala Richter mengguncang wilayah barat negara itu pada Senin (10/8) pagi. Pemerintah baru yang dipimpin Presiden Abelardo De La Espriella bergerak cepat menjanjikan dana darurat untuk membangun kembali rumah sakit, sekolah, dan infrastruktur yang hancur, sementara tim penyelamat berjuang mencari korban selamat di tengah reruntuhan.
Dalam pidato nasional, De La Espriella yang baru dilantik tiga hari sebelum bencana, menyebut tragedi ini sebagai “bencana dengan proporsi yang sangat besar”. Ia mengumumkan status darurat ekonomi untuk menangani kerusakan, namun belum merinci langkah konkret yang akan diambil. Sementara itu, Wali Kota Cali, Alejandro Eder, memperingatkan bahwa waktu semakin sempit karena jendela 72 jam untuk menemukan korban selamat segera berakhir.
Data resmi mencatat sedikitnya 265 orang tewas, sekitar 500 orang masih hilang, dan lebih dari 3.770 orang luka-luka. Sebanyak 9.550 rumah dilaporkan hancur. Kota Pereira di kawasan kopi mencatat 83 korban jiwa, sementara Cali, kota terbesar ketiga di Kolombia, kehilangan 74 warganya. Upaya pencarian di Cali difokuskan pada tujuh gedung yang diduga masih menyimpan korban selamat, salah satunya kompleks Torres del Limonar di selatan kota.
Di lokasi tersebut, warga bergotong royong membentuk rantai manusia bersama tentara dan pegawai pemerintah untuk memindahkan puing-puing. Camilo Cano, pejabat pemadam kebakaran dari Bogota, mengatakan upaya penyelamatan menjadi lebih terorganisir setelah polisi membatasi jumlah relawan. Langkah ini mengurangi getaran dan kebisingan, sehingga sensor pendeteksi gerakan di bawah reruntuhan dapat bekerja lebih efektif. Namun, ia juga mengingatkan risiko gempa susulan yang dapat membahayakan kerumunan besar.
Di Palmira, sekitar 30 kilometer timur laut Cali, keluarga korban menunggu di luar kamar mayat dengan cemas. Seorang petugas memanggil nama-nama jenazah yang telah teridentifikasi melalui pengeras suara. Santiago Lloreda, 31 tahun, kehilangan ibu dan putrinya yang baru berusia 13 bulan. Karena bayi tersebut belum memiliki sidik jari, identifikasi harus dilakukan melalui tes DNA di Bogota. “Putri saya adalah mimpi yang menjadi kenyataan,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. “Ibu saya adalah pilar keluarga, dia merawat semua orang dan selalu membuat kami tertawa.”
Ricardo, yang menolak menyebut nama lengkapnya, terbang dari Miami untuk memulihkan jenazah saudarinya. Ia memuji kerja para dokter dan solidaritas warga. Keponakannya yang selamat harus menjalani operasi akibat patah tulang tengkorak, rahang, kaki, dan paru-paru yang kolaps. “Dia hidup. Kami tahu dia akan sembuh,” katanya penuh harap.
Di sektor ekonomi, gempa juga mengguncang industri kopi Kolombia, produsen terbesar ketiga di dunia. German Bahamon, kepala federasi kopi Kolombia, mengatakan pelabuhan Buenaventura sempat berhenti beroperasi untuk evaluasi dampak tanah longsor, namun ekspor tetap berjalan melalui pelabuhan Karibia. Ratusan ribu keluarga menggantungkan hidup pada sektor ini, sehingga gangguan distribusi dapat memicu gejolak harga global.
Bencana ini menjadi ujian politik pertama bagi De La Espriella, yang memenangkan pemilu dengan platform penghematan anggaran dan keamanan yang lebih ketat. Tiziano Breda, analis senior untuk Amerika Latin di ACLED, menilai gempa ini akan menguji kemampuan presiden baru. “De La Espriella berjanji memangkas belanja publik, termasuk membekukan unit manajemen risiko negara—unit yang justru berada di garis depan respons darurat saat ini,” ujarnya. Ironi ini menjadi sorotan tajam di tengah kebutuhan dana rekonstruksi yang sangat besar.
Pemerintah Kolombia membantah menolak bantuan internasional. Menteri Luar Negeri Omar Bula mengatakan koordinasi pengiriman bantuan dari Peru, Meksiko, dan El Salvador sedang berjalan. Tim penyelamat Topos Azteca dari Meksiko bahkan datang langsung dari Venezuela, yang baru saja dilanda gempa kembar pada akhir Juni. Sementara itu, Indira Meneses, seorang perawat di Pereira, kehilangan lima tetangganya. Rumahnya hancur dan keluarganya terjebak, namun hingga kini belum ada bantuan resmi yang datang. “Kami menunggu pejabat membantu kami membangun kembali, tetapi belum ada yang datang,” keluhnya.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dan anggaran penanggulangan bencana yang memadai. Sebagai negara yang juga rawan gempa, pelajaran dari Kolombia menunjukkan bahwa pemangkasan dana mitigasi dapat berakibat fatal saat krisis melanda. Pertanyaannya, apakah pemerintah baru Kolombia akan mengubah prioritas anggarannya setelah tragedi ini, atau justru berpegang pada rencana penghematan yang kontroversial?



