Kebakaran Bromo Terkendali, Titik Panas Tersisa Dua: Helikopter Water Bombing Siap Dialihkan
Baca dalam 60 detik
- Petugas berhasil mengendalikan kebakaran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dengan luasan terdampak mencapai 900 hektare.
- Dua titik panas tersisa di Puncak 30 dan Dengklek ditargetkan padam pada Jumat, memungkinkan relokasi helikopter pemadam.
- Kabut asap lintas batas dari Kalimantan Barat memicu penurunan kualitas udara di Sarawak, Malaysia, dan mengganggu aktivitas sekolah.

Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menunjukkan progres signifikan. Otoritas setempat menyatakan api telah berhasil dikendalikan, meski dua titik panas masih tersisa dan menjadi fokus utama tim gabungan. Keberhasilan ini menjadi angin segar bagi sektor pariwisata Jawa Timur yang sempat terancam gangguan operasional.
Kebakaran yang mulai terjadi pekan lalu telah menghanguskan hampir 900 hektare lahan di taman nasional tersebut hingga Selasa (13/8). Kepala TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, mengungkapkan bahwa api melalap padang rumput kering, vegetasi, serta bunga edelweis yang dilindungi, dengan total 36 titik panas terdeteksi. Luasan ini setara dengan lebih dari 1.200 lapangan sepak bola, menunjukkan besarnya skala bencana yang sempat mengancam ekosistem khas pegunungan bromo.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, dalam kunjungannya ke lokasi pada Selasa, menyatakan dua titik panas yang masih aktif berada di Puncak 30, area favorit wisatawan untuk menikmati lanskap vulkanik Bromo, dan Dengklek, lokasi pos pemantau gunung api. "Kami menargetkan kedua titik ini padam pada Jumat," ujarnya. Jika target tercapai, dua dari tiga helikopter water bombing yang dikerahkan dapat dialihkan untuk memadamkan kebakaran di wilayah lain yang juga dilanda karhutla.
Fenomena karhutla tahun ini tidak hanya melanda Jawa Timur. Pemerintah telah mengintensifkan operasi pemadaman di Sumatra dan Kalimantan dengan mengerahkan lebih dari 35 pesawat, termasuk helikopter pembom air dan pesawat patroli. Di Pontianak, Kalimantan Barat, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat telah memerintahkan sekolah untuk meliburkan kegiatan tatap muka sejak Senin (12/8) menyusul memburuknya kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat serta meningkatnya kasus gangguan pernapasan di masyarakat.
Dampak lintas batas mulai terasa. Citra satelit BNPB menunjukkan kepulan asap dari Kalimantan Barat telah mencapai Malaysia pada beberapa hari di bulan ini. Indeks polutan udara di Sarawak, negara bagian yang berbatasan langsung dengan Kalimantan, mencatat 11 wilayah dengan kualitas udara tidak sehat pada Selasa pagi. Pemerintah Sarawak pun menginstruksikan sekolah-sekolah di area terdampak untuk menghentikan aktivitas di luar ruangan.
Bagi Indonesia, karhutla bukan sekadar bencana ekologis, tetapi juga isu diplomatik. Ketegangan dengan negara tetangga kerap muncul akibat kabut asap yang melewati batas. Pengamat lingkungan menilai pemerintah perlu memperkuat pencegahan berbasis data, seperti pemantauan titik panas secara real-time dan penegakan hukum terhadap pembakar lahan. Langkah ini penting mengingat musim kemarau diprediksi masih berlanjut hingga September mendatang.
Keberhasilan mengendalikan api di Bromo menjadi ujian bagi kesiapsiagaan nasional. Pertanyaannya, apakah pemerintah mampu mencegah meluasnya karhutla di wilayah lain sebelum musim hujan tiba? Dengan alokasi sumber daya yang terbatas, prioritas pemadaman harus cermat agar dampak kesehatan dan ekonomi dapat diminimalkan.



