Banjir Muson Landa Myanmar: 390.000 Jiwa Terdampak, Krisis Kemanusiaan Kian Dalam
Baca dalam 60 detik
- Hujan muson ekstrem sejak Juli memicu banjir di empat negara bagian Myanmar, menggenangi permukiman dan lahan pertanian.
- Banjir memperparah penderitaan warga yang sudah terdampak konflik pasca-kudeta 2021, dengan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.
- OCHA memperkirakan dampak banjir akan berlanjut, sementara perubahan iklim membuat pola muson semakin tidak menentu.

Banjir muson yang melanda Myanmar sejak pertengahan tahun ini telah menenggelamkan puluhan desa dan hamparan sawah di wilayah tengah negara itu, memaksa ribuan warga mengungsi—termasuk mereka yang sebelumnya sudah terusir akibat perang saudara. Badan PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat sedikitnya 390.000 orang terdampak di empat negara bagian, dengan Sagaing menjadi wilayah terparah.
Di Kotapraja Wetlet, Sagaing, warga setempat menuturkan betapa dahsyatnya bencana ini. Cho Myint, seorang perempuan berusia 53 tahun, berdiri di samping perahu terbalik sambil menahan tangis. "Penderitaan yang kami hadapi, saya tidak bisa mengungkapkan betapa sakitnya," ujarnya kepada AFP, Jumat (15/8). Keluarganya terpaksa meninggalkan rumah saat air mulai naik dan kini "tidak punya apa-apa lagi".
Banjir ini bukan sekadar bencana alam biasa. Di Sagaing, yang juga menjadi salah satu episentrum perlawanan terhadap junta militer, banjir memperparah kondisi warga yang sudah hidup dalam ketidakpastian akibat konflik. U Sint, warga lain di Wetlet, menuturkan bahwa para pengungsi perang yang tinggal di shelter darurat kini harus menghadapi kenyataan pahit: tempat tinggal mereka "terendam sepenuhnya". "Mereka tidak bisa menyelamatkan apa pun. Ini benar-benar mengerikan," katanya.
Dampak ekonomi pun tak terelakkan. U Sint menjelaskan bahwa bibit padi yang baru ditanam telah hanyut terbawa arus. "Di area ini, mustahil lagi menanam padi. Bahkan jika kami menabur benih lagi, tanahnya belum muncul," tuturnya. Kementerian Kesejahteraan Sosial Myanmar melaporkan bahwa per 11 Agustus, lebih dari 11.400 orang dari 3.220 rumah tangga telah mengungsi ke pusat-pusat evakuasi di Sagaing. Sementara itu, Aung Ko, yang memilih bertahan di rumahnya untuk menjaga sapi, mengaku hanya sekitar 10–14 orang yang tersisa di desanya. Mereka hidup di lantai atas rumah beratap terpal, mengandalkan mi instan dan air kemasan dari relawan yang datang menggunakan perahu.
Juru bicara OCHA, Pierre Peron, mengungkapkan bahwa pihaknya belum memiliki angka pasti jumlah pengungsi akibat hujan lebat ini. Namun, ia memperingatkan, "dengan curah hujan muson yang terus berlanjut dan beberapa sungai besar berada di atau di atas tingkat bahaya, kami memperkirakan dampak banjir akan terus berlanjut dalam beberapa hari dan minggu ke depan." Kerusakan pada rumah, tempat tinggal, infrastruktur, dan lahan pertanian, menurutnya, telah memperparah kebutuhan kemanusiaan, terutama pangan, layanan kesehatan, air bersih, dan dukungan mata pencaharian.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan Asia Tenggara terhadap perubahan iklim. Pola muson yang semakin tidak menentu tidak hanya mengancam Myanmar, tetapi juga negara-negara tetangga, termasuk Indonesia yang kerap dilanda banjir dan tanah longsor. Kerja sama regional dalam penanggulangan bencana dan adaptasi iklim menjadi semakin mendesak, mengingat dampak lintas batas yang mungkin timbul, seperti gangguan rantai pasok pangan dan migrasi iklim.
Di tengah situasi yang memprihatinkan ini, pertanyaan besarnya adalah: mampukah komunitas internasional merespons dengan cepat dan memadai? Atau akankah krisis kemanusiaan di Myanmar semakin dalam, meninggalkan jutaan orang dalam penderitaan yang berkepanjangan?



