Kaia Gerber Akui Kariernya Tak Lepas dari Status Anak Selebriti: 'Saya Hanya Nepo Baby'
Baca dalam 60 detik
- Putri Cindy Crawford itu blak-blakan mengakui keuntungan besar dari koneksi orang tuanya di industri mode dan akting.
- Ia justru menilai sikap kritisnya terhadap sesama 'nepo baby' menjadi pendorong untuk membuktikan kapasitas di luar nama besar keluarga.
- Pengakuan ini memicu diskusi tentang transparansi hak istimewa di industri kreatif, relevan dengan fenomena serupa di industri hiburan Indonesia.

Kaia Gerber, model dan aktris berusia 24 tahun, secara terbuka mengakui bahwa kariernya tidak lepas dari bayang-bayang nama besar orang tuanya, Cindy Crawford dan Rande Gerber. Dalam wawancara terbaru dengan majalah Vogue, ia menyebut dirinya sebagai "nepo baby" yang telah menuai banyak keuntungan berkat koneksi keluarga. Pernyataan ini menjadi pengakuan langka di tengah industri yang kerap menutupi peran privilege dalam kesuksesan seseorang.
Putri dari supermodel legendaris itu tidak hanya berhenti pada pengakuan. Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya kerap bersikap kritis terhadap sesama "nepo baby" lain, menuntut mereka menunjukkan kapasitas di luar nama besar yang mereka bawa. "Saya hanya pernah menjadi nepo baby, dan saya selalu diuntungkan olehnya. Tapi saya juga mendapati diri saya melakukan hal yang sama kepada nepo baby lain, berpikir, 'Oke, tunjukkan mengapa kamu layak mendapat pekerjaan ini'," ujarnya.
Pernyataan ini muncul di tengah promosi serial terbarunya, The Shards, sebuah thriller remaja yang juga dibintangi Homer Gere, putra Richard Gere dan Carey Lowell. Kaia mengaku dirinya sempat berbagi pengalaman dengan Homer yang merasa konsep "nepo baby" begitu menakutkan karena baru mengalaminya di usia dewasa. "Saya bilang ke Homer, sayangnya dengan acara ini, kamu tidak akan dinilai sebagai aktor biasa. Tapi justru itu yang membuat saya ingin bekerja lebih keras," tuturnya.
Di sisi lain, Kaia juga membuka diri tentang perjuangannya melawan kritik diri saat menonton aktingnya. Dalam wawancara dengan Interview magazine bersama lawan mainnya, Hayes Warner, ia mengaku sering kali menghancurkan penampilannya sendiri hingga berujung pada spiral negatif. "Saya menonton hal-hal yang saya bintangi sendirian, dan saya mulai merobek-robek diri saya sendiri," katanya. Namun, ia menemukan pelarian dengan menganggap pekerjaan sebagai sebuah kolektif, bukan sekadar penampilan individu.
Fenomena "nepo baby" memang bukan hal baru, tetapi pengakuan jujur seperti yang dilakukan Kaia jarang terdengar. Di Indonesia, diskusi serupa kerap muncul ketika anak selebriti atau politisi memasuki industri hiburan. Publik kerap mempertanyakan kredibilitas mereka, seperti yang terjadi pada beberapa figur publik muda yang mengawali karier dari jalur keluarga. Namun, tidak sedikit yang berhasil membuktikan diri dengan karya, meski harus melewati skeptisisme yang lebih besar.
Pengakuan Kaia ini juga menyoroti pentingnya transparansi tentang hak istimewa di industri kreatif. Di tengah tuntutan akan kesetaraan dan meritokrasi, sikap jujur seperti ini bisa menjadi langkah awal untuk membuka ruang diskusi yang lebih sehat. Namun, pertanyaannya, apakah pengakuan semacam ini cukup untuk mengubah persepsi publik, atau justru semakin mengukuhkan stereotip bahwa kesuksesan anak selebriti selalu bergantung pada koneksi?



