Reuni 33 Tahun: Ritchie Blackmore Kembali ke Panggung Deep Purple di New York
Baca dalam 60 detik
- Gitaris legendaris Ritchie Blackmore akan tampil sebagai bintang tamu dalam encore konser Deep Purple di New York, menandai penampilan pertamanya bersama band sejak 1993.
- Keputusan ini muncul setelah Blackmore menghubungi vokalis Ian Gillan melalui 'merpati AI' untuk sekadar nostalgia, dan mendapat respons positif dari seluruh personel.
- Meski kondisi kesehatannya menurun, momen ini menjadi harapan bagi penggemar rock klasik yang ingin menyaksikan aksi panggung ikonik tersebut untuk terakhir kalinya.

Ritchie Blackmore, gitaris legendaris yang namanya identik dengan era keemasan rock, dipastikan akan kembali merasakan panggung bersama Deep Purple dalam konser di Northwell at Jones Beach Theater, Wantagh, New York, Rabu malam (12/08). Penampilan ini menjadi yang pertama bagi pria berusia 81 tahun tersebut sejak ia hengkang secara dramatis di tengah tur 1993.
Kabar ini tentu menjadi kejutan besar bagi para penggemar setia yang telah menantikan reuni selama lebih dari tiga dekade. Blackmore, yang dikenal dengan permainan gitar neoklasiknya, mengaku awalnya ingin merahasiakan aksi cameo ini. Namun, dalam sebuah sesi Instagram Live bersama istrinya, Candice Night, sehari sebelumnya, ia tak kuasa menahan untuk membocorkan rencana tersebut.
“Ada sesuatu yang ingin kami sampaikan tentang malam besok… Yah, ini rahasia dan saya tidak ingin ada yang tahu, tapi saya mungkin akan naik panggung untuk encore bersama Deep Purple. Tapi kalian tidak boleh memberi tahu siapa pun, dan saya tahu ini akan tetap menjadi rahasia. Dan akankah? Saya kira begitu,” ujarnya dengan nada bercanda, seperti dikutip dari wawancaranya.
Ide reuni ini berawal dari inisiatif Blackmore yang menghubungi Ian Gillan, vokalis Deep Purple yang kini tinggal di Portugal. Ia mengirimkan pesan melalui apa yang ia sebut sebagai “merpati AI” untuk menanyakan apakah ia bisa bergabung dalam satu lagu. “Saya bilang, 'Bagaimana perasaanmu jika saya naik panggung hanya untuk encore? Hanya satu lagu. Saya tidak ingin mengganggu.' Dan saya katakan, 'Tidak ada tekanan—hanya untuk nostalgia.' Saya sudah 81 tahun. Jadi dia tampak menyukai ide itu, menyampaikannya ke band, mendapat persetujuan, dan sepertinya kami akan melakukannya,” jelas Blackmore.
Meski hanya satu lagu, persiapan Blackmore terbilang serius. Ia telah menyiapkan amplifier kecil namun bertenaga dan bahkan mengganti senar gitar Stratocaster kesayangannya untuk pertama kalinya dalam 25 tahun terakhir. Namun, ada satu lagu yang dipastikan tidak akan dibawakan, yaitu “Highway Star”, karena band akan membuka konser dengan lagu tersebut.
Kesehatan menjadi perhatian tersendiri bagi Blackmore. Ia secara blak-blakan mengungkapkan kondisinya yang menurun, termasuk serangan vertigo parah pada akhir 2025 yang memaksanya membatalkan sejumlah konser, serta masalah asam urat, arthritis di jari dan kaki, serta riwayat penyakit jantung. Meski demikian, semangatnya untuk bertemu kembali dengan mantan rekan-rekannya tak surut. “Saya sudah tidak memainkan musik rock selama 25 tahun… akan menyenangkan bisa bertemu dengan orang-orang lama lagi,” tuturnya.
Keputusan Blackmore untuk mengumumkan penampilannya lebih awal didasari keinginannya agar para penggemar bisa menyaksikan momen bersejarah ini. “Banyak orang yang ingin melihat itu,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa reuni ini hanya akan berlangsung singkat. “Hanya satu lagu, saya pikir.”
Kembalinya Blackmore ke pangkuan Deep Purple mengingatkan kita pada hubungan yang rumit antara sang gitaris dan band yang membesarkan namanya. Ia pertama kali meninggalkan Deep Purple pada 1975, lalu hengkang untuk kedua kalinya di tengah tur 1993. Dalam wawancara dengan Ultimate Classic Rock, ia mengungkapkan alasannya: “Ketika saya meninggalkan Deep Purple, saya merasa band ini tidak lagi berjalan sebagai sebuah proyek musik. Ia menjadi sebuah komite. Seolah-olah jika ada jawaban, ada lima jawaban berbeda. Dan saya agak lelah dengan rapat komite itu. Tapi seperti yang dikatakan John Cleese tentang Monty Python, pada dasarnya saya berpikir saya akan mencari empat musisi lain yang tidak perlu rapat komite dan langsung bermain musik.”
Bagi penggemar musik rock di Indonesia, momen ini menjadi pengingat akan kekuatan musik yang melampaui waktu dan konflik personal. Konser Deep Purple di New York ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah reuni yang dinanti-nantikan, sebuah bukti bahwa legenda tak pernah benar-benar mati. Pertanyaannya, apakah ini akan menjadi penampilan terakhir Blackmore bersama Deep Purple, atau justru menjadi awal dari babak baru kolaborasi mereka? Hanya waktu yang bisa menjawab.



