Nebius Cetak Rekor Pendapatan Kuartal II, Saham Melonjak 12%: Pertanda Puncak Bisnis Infrastruktur AI?
Baca dalam 60 detik
- Nebius Group membukukan pendapatan US$582,3 juta pada kuartal II, melampaui estimasi analis, dengan bisnis AI cloud tumbuh lebih dari 500%.
- Perusahaan meneken empat kontrak senilai masing-masing lebih dari US$1 miliar, menandakan pergeseran ke arah komputasi AI skala besar yang menguntungkan.
- Kinerja ini menjadi sinyal bagi pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, bahwa persaingan infrastruktur AI kian memanas dan membutuhkan investasi besar.

Nebius Group, perusahaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang berbasis di Amsterdam, mencatatkan pendapatan kuartal kedua yang melampaui perkiraan analis, didorong oleh permintaan komputasi AI yang melonjak. Kabar ini langsung mendongkrak harga sahamnya sebesar 12% dalam perdagangan pramarket, mengindikasikan keyakinan investor terhadap prospek perusahaan di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Pada kuartal yang berakhir Juni, Nebius membukukan pendapatan total US$582,3 juta, lebih tinggi dari perkiraan rata-rata analis yang dihimpun LSEG sebesar US$572,75 juta. Yang lebih mencengangkan, pendapatan dari bisnis inti AI cloud yang menyumbang sekitar 98% dari total pendapatan grup, tumbuh lebih dari 500% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini menegaskan bahwa permintaan terhadap kapasitas komputasi AI, terutama untuk melatih model bahasa besar dan aplikasi generatif, masih berada dalam fase ekspansi yang agresif.
Pencapaian ini tidak lepas dari strategi Nebius dalam mengamankan kontrak-kontrak raksasa. Perusahaan mengumumkan telah menutup empat kesepakatan AI cloud dengan nilai kontrak rata-rata masing-masing lebih dari US$1 miliar. Total nilai kontrak yang diperoleh pada kuartal ini tumbuh hampir empat kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya. Pendiri sekaligus CEO Nebius, Arkady Volozh, dalam suratnya kepada pemegang saham menegaskan, "Semua yang kami targetkan pada kuartal ini, kami capai. Bahkan, dalam banyak kasus, kami melampauinya." Pernyataan ini mencerminkan optimisme manajemen di tengah persaingan ketat dengan pemain besar seperti Amazon Web Services, Microsoft Azure, dan Google Cloud.
Nebius, yang menyediakan akses ke unit pemrosesan grafis (GPU) Nvidia dan layanan AI cloud, termasuk dalam kelompok perusahaan yang disebut "neocloud". Model bisnis mereka adalah menyewakan kapasitas komputasi kepada perusahaan yang mengembangkan dan menerapkan aplikasi AI. Keunggulan Nebius terletak pada kemampuannya menawarkan harga yang kompetitif dan fleksibilitas kontrak, yang menarik minat perusahaan rintisan AI dan perusahaan teknologi besar yang membutuhkan sumber daya komputasi dalam jumlah besar tanpa harus berinvestasi pada infrastruktur sendiri.
Salah satu faktor pendorong pertumbuhan Nebius adalah penguatan harga sewa GPU, terutama untuk chip generasi terbaru. Permintaan yang tinggi terhadap chip AI canggih, seperti Nvidia H100 dan H200, telah mendorong tarif sewa naik. Menariknya, sekitar 70% dari kesepakatan yang ditandatangani pada kuartal tersebut melibatkan pembayaran di muka dari pelanggan, yang mencakup 50% hingga 60% dari belanja modal terkait. Ini menunjukkan bahwa pelanggan bersedia membayar lebih untuk memastikan ketersediaan kapasitas komputasi di tengah kelangkaan pasokan.
Kinerja gemilang ini juga berdampak pada pasar saham. Sepanjang tahun ini, saham Nebius telah melonjak lebih dari 130%, mencerminkan kepercayaan investor terhadap pertumbuhan jangka panjang infrastruktur AI. Namun, di balik euforia tersebut, ada pertanyaan besar: apakah pertumbuhan ini berkelanjutan atau hanya gelembung sementara? Beberapa analis mengingatkan bahwa investasi besar-besaran di bidang AI dapat menghadapi koreksi jika permintaan tidak tumbuh secepat yang diharapkan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi yang signifikan. Pasar AI di Indonesia masih dalam tahap awal, tetapi potensinya sangat besar. Pemerintah Indonesia tengah mendorong adopsi AI di berbagai sektor, mulai dari layanan publik hingga industri kreatif. Namun, infrastruktur komputasi yang memadai masih menjadi tantangan utama. Kehadiran perusahaan seperti Nebius yang menawarkan solusi neocloud dapat menjadi alternatif bagi perusahaan Indonesia yang ingin mengembangkan aplikasi AI tanpa harus membangun pusat data sendiri. Di sisi lain, persaingan global yang semakin ketat juga mendorong negara-negara seperti Indonesia untuk mempercepat pengembangan ekosistem AI lokal agar tidak tertinggal.
Ke depan, Nebius berkomitmen untuk terus memperluas kapasitas dan meningkatkan layanan. Perusahaan menegaskan kembali panduan pendapatan untuk tahun 2026, yang mengindikasikan manajemen yakin dengan momentum pertumbuhan. Namun, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana perusahaan akan menghadapi potensi perlambatan ekonomi global atau perubahan regulasi di negara-negara tempat mereka beroperasi. Akankah permintaan AI tetap setinggi ini, atau akan ada titik jenuh? Hanya waktu yang akan membuktikan, tetapi untuk saat ini, Nebius telah menunjukkan bahwa bisnis infrastruktur AI adalah ladang emas yang menggiurkan.



