China Mempercepat Perlombaan AI untuk Ramal Cuaca Ekstrem, Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Model AI buatan China, seperti Fengwu dan Pangu, mampu memprediksi jalur topan dengan akurasi tinggi dan kecepatan jauh melampaui metode konvensional.
- Keunggulan AI dalam kecepatan dan biaya komputasi menjadikannya pelengkap penting, namun belum mampu menggantikan model tradisional untuk prediksi intensitas badai dan perubahan iklim jangka panjang.
- Perkembangan ini berpotensi meningkatkan sistem peringatan dini di Indonesia, yang rawan bencana hidrometeorologi, namun membutuhkan adaptasi dan kepercayaan publik.

Saat Topan Dolphin mendekati daratan China pekan ini, para meteorolog tidak hanya mengandalkan superkomputer raksasa yang mensimulasikan fisika atmosfer. Di balik layar, sederet model kecerdasan buatan (AI) buatan negeri Tirai Bambu—seperti Fengwu dari Shanghai AI Laboratory, Pangu dari Huawei, dan Fuxi dari Universitas Fudan—turut bekerja, menandai babak baru dalam perlombaan global memprediksi cuaca ekstrem.
Selama puluhan tahun, prakiraan cuaca bertumpu pada model numerik yang berjalan di superkomputer. Kini, AI menawarkan pendekatan berbeda: belajar dari arsip data historis yang sangat besar dan menghasilkan prakiraan dalam hitungan menit, bukan jam. Kecepatan ini menjadi krusial saat badai tropis mengancam, karena selisih waktu sedikit saja dapat menentukan kesiapan evakuasi dan mitigasi banjir.
Fengwu, misalnya, menarik perhatian setelah pengembangnya melaporkan kemampuan mengungguli GraphCast—model besutan Google—pada sekitar 80 persen variabel cuaca yang dievaluasi, sekaligus memperpanjang prakiraan global yang andal hingga lebih dari 10 hari. Dalam uji coba untuk Topan Dolphin, Fengwu memprediksi waktu dan lokasi pendaratan di daratan China dengan akurasi 30 menit dan 30 kilometer, lima hari sebelum kejadian. Angka ini menunjukkan lompatan besar dibanding metode konvensional.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa AI belum sepenuhnya menggantikan model tradisional. Sun Zhi, CTO Techwind yang menangani aplikasi industri Fengwu, mengakui bahwa AI masih tertinggal dalam memprediksi intensitas badai dan belum teruji untuk fenomena iklim jangka panjang. "Jika kami memprediksi perubahan iklim 18 bulan ke depan, orang tidak akan percaya. Mereka butuh kepastian. Kami perlu riset bertahun-tahun sebelum publik mempercayai prediksi El Nino atau perubahan suhu laut yang memengaruhi siklus reproduksi ikan," ujarnya.
Konteks Indonesia menjadi relevan. Sebagai negara kepulauan yang rawan topan, banjir, dan kekeringan, akurasi prakiraan cuaca adalah soal hidup-mati. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) selama ini mengandalkan model global dan regional. Adopsi AI seperti Fengwu atau Pangu berpotensi mempercepat peringatan dini dan menekan kerugian ekonomi. Namun, tantangannya bukan hanya teknis, melainkan juga kepercayaan publik dan integrasi dengan infrastruktur data yang ada.
Persaingan AI cuaca kini melibatkan raksasa global: Google dengan GraphCast dan GenCast, Nvidia dengan FourCastNet, serta Pusat Prakiraan Cuaca Jarak Menengah Eropa (ECMWF) dengan AIFS. China, dengan dukungan negara dan institusi riset, muncul sebagai pemain kunci. Bagi Indonesia, ini membuka peluang kolaborasi dan transfer teknologi, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang ketergantungan pada sistem asing.
Ke depan, integrasi AI dan model konvensional tampaknya akan berjalan paralel. Pertanyaannya, akankah Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat ketahanan iklimnya, atau justru tertinggal dalam pemanfaatan teknologi yang semakin menentukan keselamatan warganya?



