Gauff Melaju ke Semifinal Toronto Tanpa Bertanding, Bencic Mundur karena Cedera Pinggul
Baca dalam 60 detik
- Coco Gauff melaju ke semifinal Canadian Open setelah Belinda Bencic mengundurkan diri akibat cedera pinggul, memberi keuntungan bagi petenis Amerika itu dalam persiapan menuju US Open.
- Kemenangan walkover ini membawa Gauff ke semifinal WTA 1000 ke-16 dalam kariernya, sekaligus memperpanjang tren positifnya di Toronto tanpa kehilangan satu set pun.
- Lawan Gauff di semifinal akan ditentukan dari duel Naomi Osaka melawan Elena Rybakina, yang berpotensi menjadi ujian berat bagi sang juara US Open 2023.

Coco Gauff memastikan tempat di semifinal Canadian Open tanpa perlu mengayunkan raketnya setelah Belinda Bencic memutuskan mundur dari perempat final karena cedera pinggul. Keputusan ini memberi keuntungan ganda bagi petenis Amerika Serikat itu: selain melaju mulus, ia punya waktu ekstra untuk mengasah strategi menjelang US Open yang tinggal menghitung pekan.
Unggulan keempat yang juga juara bertahan US Open 2023 ini akan berhadapan dengan pemenang antara Naomi Osaka (unggulan 11) dan Elena Rybakina (unggulan kedua) untuk memperebutkan tiket final. Laga tersebut dijadwalkan berlangsung di Toronto, dan hasilnya akan menentukan siapa yang layak melaju ke partai puncak turnamen WTA 1000 tersebut.
Bagi Gauff, walkover ini menjadi pencapaian tersendiri: ia mencatatkan semifinal WTA 1000 ke-16 sepanjang kariernya. Namun, di balik catatan impresif itu, ada kegelisahan yang tak bisa disembunyikanโia belum meraih gelar juara dalam setahun terakhir. Beberapa kali ia nyaris menang, tetapi selalu gagal di momen penentu. Runner-up di Miami dan Roma, lalu tersingkir di semifinal Wimbledon, menjadi rangkaian kekecewaan yang ingin ia hapus di Toronto.
Musim ini, Gauff memang tengah bereksperimen dengan elemen taktik baru dalam permainannya. Hasilnya mulai terlihat di Toronto, di mana ia tampil dominan dan belum kehilangan satu set pun. Ketajaman servis dan variasi pukulannya menjadi senjata utama yang membuat lawan-lawannya kesulitan. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah konsistensi ini bisa dipertahankan saat menghadapi lawan sekaliber Osaka atau Rybakina?
Konteks Indonesia: Meski tidak ada wakil Indonesia di turnamen ini, perkembangan Gauff tetap relevan bagi penggemar tenis Tanah Air yang mengikuti WTA Tour. Dengan semakin dekatnya US Open, performa para petenis top dunia selalu menjadi sorotan, termasuk bagaimana mereka mengelola cedera dan tekanan. Bagi petenis muda Indonesia, konsistensi dan adaptasi taktik seperti yang dilakukan Gauff bisa menjadi pelajaran berharga untuk menembus level internasional.
Menarik untuk disimak bagaimana Gauff memanfaatkan waktu istirahat ekstra ini. Apakah ia akan semakin percaya diri atau justru kehilangan ritme permainan? Sejarah menunjukkan bahwa walkover bisa menjadi berkah tersembunyi, tetapi juga bisa mengganggu konsentrasi. Gauff sendiri mengaku telah bekerja keras memperbaiki kelemahan teknisnya, dan Toronto menjadi ajang pembuktian bahwa perubahan tersebut membuahkan hasil.
Di sisi lain, Bencic pasti kecewa harus menghentikan langkahnya di Toronto. Cedera pinggul yang dialaminya menjadi pengingat betapa rapuhnya kondisi fisik atlet profesional. Keputusan mundur diambil demi menjaga peluang tampil di turnamen-turnamen berikutnya, termasuk US Open. Ini menunjukkan kedewasaan Bencic dalam mengelola risiko cedera, sebuah sikap yang patut dicontoh oleh atlet muda.
Dengan semifinal yang menanti, Gauff berada di posisi yang menguntungkan. Namun, jalan menuju gelar masih panjang. Jika ia berhasil melewati semifinal, maka final akan menjadi ujian mental dan fisik yang sesungguhnya. Publik tenis dunia, termasuk Indonesia, akan menyaksikan apakah Gauff mampu mengakhiri puasa gelarnya dan kembali ke puncak performa seperti saat menjuarai US Open dua tahun lalu.
Pertanyaan yang menggantung: akankah Gauff memanfaatkan momen ini untuk merebut gelar pertamanya dalam setahun, atau justru kembali gagal di ambang kemenangan? Semua akan terjawab dalam beberapa hari ke depan di Toronto.



