Rod Stewart Batalkan Tur "One Last Time" Usai Jalani Operasi Jantung: Ini Dampaknya bagi Penggemar di Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Legenda rock 81 tahun itu memutuskan menghentikan sisa jadwal tur dunia setelah menjalani pemasangan stent koroner, dengan masa pemulihan empat minggu.
- Keputusan ini memicu kekecewaan luas, terutama setelah sebelumnya ia sempat dikritik karena tetap menonton Piala Dunia 2026 sehari setelah membatalkan konser.
- Bagi penggemar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pembatalan ini menegaskan risiko kesehatan yang dihadapi musisi senior dan ketidakpastian jadwal tur internasional.

Sir Rod Stewart, penyanyi legendaris asal Inggris, secara resmi membatalkan seluruh rangkaian konser tur dunianya yang bertajuk "One Last Time" setelah menjalani prosedur pemasangan stent jantung. Keputusan ini diumumkan pada Selasa (11/08) waktu setempat, hanya beberapa hari setelah ia batal tampil di Cincinnati, Ohio, pada 9 Agustus karena harus menjalani tindakan medis darurat. Bagi para penggemar setianya di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, kabar ini menjadi pukulan telak, mengingat tur tersebut digadang-gadang sebagai perpisahan sang musisi dengan panggung.
Menurut pernyataan resmi dari juru bicaranya, prosedur yang dijalani Stewart adalah pemasangan stent koroner rutin, sebuah tindakan untuk melebarkan pembuluh darah jantung yang menyempit. Meski operasi berjalan lancar dan Stewart dikabarkan telah kembali beraktivitas normal, para dokter menyarankan agar ia menjalani pemulihan selama empat minggu penuh sebelum kembali bernyanyi. "Dokter sangat puas dengan perkembangannya, dan Rod dalam kondisi sangat baik serta telah kembali ke aktivitas sehari-harinya," demikian bunyi pernyataan tersebut. "Namun, atas saran dokter, ia akan mengambil waktu empat minggu ke depan untuk memulihkan diri dan mengembalikan kebugaran penuh sebelum kembali ke panggung. Sayangnya, ini berarti ia tidak dapat melanjutkan jadwal tur saat ini."
Stewart, yang dikenal lewat hits seperti "Maggie May" dan "Young Turks", menyampaikan permintaan maaf mendalam kepada para penggemar yang telah membeli tiket. Dalam pernyataannya, ia mengucapkan terima kasih kepada tim medis dan semua pihak yang merawatnya. "Saya sangat kecewa harus melewatkan pertunjukan ini dan minta maaf telah mengecewakan penggemar, tetapi saya berharap segera kembali ke panggung dan bersenang-senang bersama kalian semua lagi," ujarnya. Namun, di balik nada optimis tersebut, pembatalan ini menambah daftar panjang masalah kesehatan yang dihadapi pelantun "Sailing" itu sepanjang tahun ini.
Sejak memulai tur pada Maret lalu, Stewart telah beberapa kali memundurkan jadwal. Pada Juni, ia terpaksa membatalkan sejumlah konser karena infeksi saluran pernapasan akut, radang tenggorokan, dan ketegangan vokal. Yang paling kontroversial, ia sempat menuai kritik tajam setelah terlihat menonton pertandingan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat hanya sehari setelah membatalkan konser di California karena sakit. Saat itu, ia terbang dengan jet pribadi bersama kedua putranya, Liam dan Alistair, ke Boston untuk mendukung tim favoritnya, Skotlandia, yang bertanding melawan Haiti. Dalam wawancara dengan talkSport, Stewart mengakui bahwa penampilannya itu bukan keputusan yang bijak, tetapi ia tidak tega mengingkari janji kepada anak-anaknya. "Saya berjanji sejak mereka lahir bahwa kami akan pergi ke Piala Dunia. Ini yang pertama, dan saya tidak ingin mengecewakan mereka. Saya akui ini bukan penampilan yang baik, tetapi saya melakukannya untuk anak-anak," katanya.
Konteks Indonesia: Bagi penggemar musik rock di Indonesia, pembatalan tur ini menjadi pengingat bahwa konser internasional berskala besar selalu memiliki risiko pembatalan mendadak, terutama ketika menyangkut kesehatan artis senior. Meski Stewart tidak pernah memasukkan Indonesia dalam daftar tur "One Last Time", banyak penggemar yang berharap ia akan mengunjungi Asia Tenggara. Pembatalan ini juga menyoroti pentingnya asuransi perjalanan dan perlindungan konsumen bagi pembeli tiket konser, mengingat tidak semua promotor memberikan pengembalian dana penuh dalam situasi seperti ini. Selain itu, insiden ini memperkuat tren di industri musik global di mana para musisi generasi baby boomer mulai mengurangi aktivitas panggung mereka karena faktor usia dan kesehatan, membuka peluang bagi generasi baru untuk mengisi kekosongan tersebut.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Stewart akan mampu melanjutkan tur perpisahannya setelah masa pemulihan, atau apakah ini akan menjadi akhir yang sesungguhnya dari karier panggungnya. Dengan usia yang tak lagi muda dan riwayat kesehatan yang fluktuatif, para penggemar mungkin harus bersiap menghadapi kemungkinan bahwa "One Last Time" benar-benar menjadi tur terakhirnya. Namun, semangat Stewart yang tinggi dan dukungan dari keluarga serta penggemar setianya bisa menjadi modal kuat untuk kembali menghibur dunia, setidaknya untuk satu babak terakhir.



