Brad Pitt: AI Bisa Selamatkan Film Anggaran Menengah, tapi Jangan Sentuh Aktor
Baca dalam 60 detik
- Brad Pitt menilai AI dapat menjadi penyelamat bagi film berbiaya menengah, dengan kisaran produksi 40–90 juta dolar AS, terutama dalam menekan biaya efek visual yang selama ini membebani produksi.
- Meski terbuka pada pemanfaatan AI sebagai alat bantu teknis, Pitt menolak penggunaannya untuk menggantikan akting manusia, karena hasilnya dinilai tidak akan pernah sesuai dengan visi artistik aktor.
- Pengalaman Pitt selama 20 tahun menjalani body scanning memunculkan kekhawatiran soal hak kepemilikan data biologis aktor, sebuah isu yang relevan dengan perkembangan industri kreatif Indonesia yang mulai mengadopsi teknologi serupa.

Brad Pitt, salah satu aktor paling berpengaruh di Hollywood, membuka suara mengenai kecerdasan buatan (AI) dalam industri film. Dalam wawancara dengan majalah Esquire yang dikutip Variety, ia menyebut AI berpotensi menjadi penyelamat bagi produksi film beranggaran menengah—sebuah segmen yang selama ini paling tertekan oleh biaya efek visual yang melonjak.
Pitt menggarisbawahi bahwa film dengan anggaran 40 hingga 90 juta dolar AS sering kali kesulitan bersaing dengan produksi raksasa yang mengandalkan efek visual mahal. Menurutnya, AI dapat menjadi alat yang efisien untuk menekan biaya tersebut tanpa harus mengorbankan kualitas visual. Namun, ia menegaskan bahwa teknologi ini harus diposisikan sebagai pendukung, bukan pengganti peran kreatif manusia.
Sikap Pitt terhadap AI tidak seragam. Ia memberikan lampu hijau untuk penggunaan AI dalam aspek teknis seperti efek visual, tetapi menolak keras ketika teknologi tersebut digunakan untuk meniru penampilan atau emosi seorang aktor. Pitt menilai hasil yang dihasilkan AI tidak akan pernah mencerminkan proses kreatif yang ia bangun selama bertahun-tahun. "Mereka bisa melakukannya, tetapi hasil akhirnya bukan pilihan saya," ujarnya, menegaskan bahwa sentuhan manusia tetap tak tergantikan.
Kekhawatiran Pitt juga menyentuh praktik body scanning yang telah ia jalani selama dua dekade. Ia mengaku selalu meminta hasil pemindaian tubuhnya untuk dihancurkan setelah digunakan, karena khawatir data tersebut disalahgunakan di masa depan. "Seharusnya saya menyimpannya!" katanya dengan nada menyesal, menyoroti pentingnya kontrol aktor atas data biologis mereka.
Pernyataan Pitt hadir di tengah perdebatan global tentang etika AI di industri kreatif. Di Hollywood, serikat aktor SAG-AFTRA telah memperjuangkan perlindungan hak digital aktor, sementara studio-studio besar mulai melirik AI untuk menekan biaya produksi. Google bahkan baru-baru ini menginvestasikan 75 juta dolar AS di A24, studio independen yang dikenal dengan film-film arthouse, untuk mengembangkan teknologi AI pembuat film—sebuah sinyal bahwa AI semakin diterima sebagai bagian dari rantai produksi.
Bagi Indonesia, wacana ini relevan dengan perkembangan industri film nasional yang mulai mengadopsi teknologi AI. Beberapa rumah produksi lokal telah menggunakan AI untuk keperluan efek visual dan pascaproduksi, namun belum ada regulasi yang jelas mengenai hak data pemain. Pengalaman Pitt menjadi pengingat bahwa perlindungan data aktor harus menjadi prioritas, terutama ketika teknologi pemindaian tubuh mulai digunakan di dalam negeri.
Pitt menyebut penggunaan AI dalam film sebagai "eksperimen yang sangat menarik," namun ia tetap menekankan pentingnya kontrol manusia. Pertanyaannya, akankah industri film Indonesia—yang masih bergulat dengan keterbatasan anggaran—mampu memanfaatkan AI tanpa mengorbankan hak kreatif para sineas dan aktornya? Regulasi yang matang dan kesadaran kolektif menjadi kunci agar teknologi ini menjadi berkah, bukan kutukan.



