Mykolenko Bangkit, Everton Bergantung pada Pemain yang Dulu Dihujat
Baca dalam 60 detik
- Vitalii Mykolenko menjelma menjadi pilar penting Everton di awal musim 2026/27 setelah sebelumnya kerap dikritik karena performa inkonsisten.
- Krisis di lini depan dan minimnya kedalaman skuad membuat Moyes sangat bergantung pada pemain yang sempat dianggap surplus.
- Jika tren positif ini berlanjut, Mykolenko berpeluang mengubah narasi kariernya dan menjadi kunci perburuan tiket Eropa Everton.

Vitalii Mykolenko menjelma menjadi sosok tak tergantikan di skuad Everton pada awal musim 2026/27, sebuah transformasi mengejutkan dari bek sayap yang selama bertahun-tahun menjadi sasaran kritik karena dianggap lambat dan minim kontribusi ofensif. Performa impresifnya belakangan ini menjadi oase di tengah badai cedera dan keterbatasan skuad yang menerpa klub asuhan David Moyes tersebut.
Everton memang tengah menghadapi situasi pelik. Manajemen di bawah kendali The Friedkin Group dinilai gagal memenuhi kebutuhan Moyes di bursa transfer musim panas lalu. Alih-alih mendatangkan penyerang baru, mereka justru melepas Beto ke Fiorentina dan Iliman Ndiaye, meninggalkan Thierno Barry sebagai satu-satunya ujung tombak murni. Kondisi ini memaksa Moyes mengandalkan pemain seperti Tyrique George atau Brennan Johnson sebagai penyerang palsu, yang jelas bukan solusi ideal untuk ambisi finis di zona Eropa.
Di tengah keterbatasan itu, Mykolenko tampil sebagai salah satu pemain paling konsisten. Bek asal Ukraina tersebut mencatatkan 60% duel sukses dan belum melakukan kesalahan fatal sejauh musim ini. Penampilan terbaiknya terlihat saat melawan Tottenham Hotspur, di mana ia memenangkan seluruh tujuh tekel dan menciptakan satu peluang. Statistik itu kontras dengan musim-musim sebelumnya, di mana ia sering dikritik karena kelalaian posisi dan kurangnya kontribusi dalam menyerang.
Keputusan Everton meminjamkan Adam Aznou tanpa mendatangkan pengganti di posisi bek kiri menjadi bumerang. Mykolenko kini menjadi satu-satunya opsi mumpuni di sisi kiri pertahanan, memaksanya tampil di hampir setiap pertandingan. Situasi ini mirip dengan yang dialami Barry di lini depan: keduanya menjadi pemain yang tidak bisa dirotasi karena tidak ada pelapis sepadan. Namun, berbeda dengan Barry yang masih muda dan naif, Mykolenko menunjukkan kedewasaan dan ketenangan yang jarang terlihat sebelumnya.
Perubahan performa Mykolenko tidak lepas dari peran Moyes yang dikenal mampu memaksimalkan potensi pemain bertahan. Manajer asal Skotlandia itu sukses membangun Everton menjadi tim yang solid pada periode pertamanya, dan kini ia mencoba mengulang kesuksesan serupa dengan materi yang terbatas. Mykolenko, yang kini berusia 27 tahun dan memasuki musim keenamnya di Goodison Park, tampaknya mulai memahami ekspektasi taktis Moyes dan mengubah kelemahannya menjadi kekuatan.
"Grup ini sangat bagus," ujar Mykolenko dalam sebuah wawancara, mencerminkan kepercayaan diri yang tengah menanjak.
Bagi Everton, kebangkitan Mykolenko menjadi berkah tersembunyi. Dengan ketidakpastian di posisi bek kanan dan minimnya kedalaman skuad, fleksibilitas dan konsistensi Mykolenko memberikan stabilitas yang selama ini hilang. Jika ia mampu mempertahankan level permainannya, bukan tidak mungkin ia menjadi salah satu bek kiri terbaik di Premier League musim ini, sekaligus mengubah persepsi publik yang dulu meragukannya.
Konteks Indonesia: Kisah Mykolenko menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub Liga Indonesia yang sering terjebak dalam siklus belanja pemain tanpa perencanaan matang. Everton, dengan segala keterbatasannya, justru memaksa pemain yang ada untuk berkembang melampaui ekspektasi. Tim seperti Persija Jakarta atau Persib Bandung bisa belajar bahwa stabilitas skuad dan kepercayaan pada pemain yang ada kadang lebih efektif daripada mendatangkan banyak pemain baru yang belum tentu cocok. Selain itu, ketangguhan mental Mykolenko dalam menghadapi tekanan publik bisa menjadi inspirasi bagi pesepakbola Indonesia yang kerap mendapat kritik tajam dari suporter.
Ke depan, tantangan terbesar Mykolenko adalah menjaga konsistensi. Premier League adalah liga yang kejam, dan satu penampilan buruk bisa dengan cepat mengembalikan stigma negatif. Namun, jika ia terus menunjukkan performa seperti saat melawan Tottenham, bukan tidak mungkin Everton akan mengamankan tiket ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade. Pertanyaannya, apakah Mykolenko mampu menjadi fondasi kesuksesan itu, ataukah ini hanya ilusi sebelum badai cedera kembali menghantam?



