Sunderland Amankan Enzo Le Fee, tapi Granit Xhaka Justru Layak Diprioritaskan
Baca dalam 60 detik
- Sunderland resmi mengikat Enzo Le Fee hingga 2031, mengunci gelandang kreatif yang menyumbang 20% peluang emas tim musim lalu.
- Granit Xhaka, yang kontraknya habis 2028, tampil lebih tajam di usia 33 dan menjadi motor lini tengah dengan bayaran ยฃ100 ribu per pekan.
- Manajemen diminta segera membuka negosiasi perpanjangan sebelum jendela transfer berikutnya, demi menjaga stabilitas proyek jangka panjang Le Bris.

Sunderland bergerak cepat mengamankan salah satu aset paling berharga mereka. Gelandang serang asal Prancis, Enzo Le Fee, menandatangani kontrak baru yang mengikatnya di Stadium of Light hingga 2031, sebuah langkah yang menegaskan ambisi klub untuk bersaing di papan atas Premier League dalam beberapa musim ke depan.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Le Fee, yang didatangkan dari AS Roma pada Juli 2025 setelah sempat dipinjamkan ke Championship, langsung menjelma menjadi motor kreativitas The Black Cats. Data menunjukkan ia menciptakan 13 peluang emas di Premier League musim lalu, atau setara 20% dari total 64 peluang yang dibuat Sunderland. Angka itu menempatkannya sebagai pemain paling produktif dalam membuka ruang bagi rekan-rekannya.
Namun, di balik kepastian masa depan Le Fee, muncul pertanyaan strategis yang tak kalah krusial: bagaimana dengan Granit Xhaka? Mantan kapten Arsenal itu memasuki tahun kedua dari kontraknya yang berakhir pada 2028. Usianya memang tidak lagi muda, 33 tahun, tetapi performanya justru menunjukkan tren menanjak. Sejak dibeli dari Bayer Leverkusen seharga ยฃ17 juta setahun lalu, Xhaka telah menjadi jenderal di lini tengah dengan bayaran ยฃ100 ribu per pekan.
Sejumlah pengamat menilai manajemen Sunderland, yang dipimpin direktur teknik Florent Ghisolfi, perlu segera membuka pembicaraan perpanjangan kontrak untuk Xhaka. Pasalnya, kehilangan pemain sekaliber dia di akhir musim depan berpotensi menjadi pukulan telak bagi stabilitas tim. Peran Xhaka tidak sekadar sebagai pengatur tempo, tetapi juga pemimpin di ruang ganti yang mampu menjaga mentalitas skuad muda.
"Xhaka adalah pemimpin generasional. Melepasnya begitu saja saat kontrak habis akan menjadi kesalahan besar," ujar seorang analis Premier League yang mengikuti perkembangan Sunderland, seperti dikutip dari diskusi sepak bola Inggris.
Musim ini, Sunderland memang belum sepenuhnya mulus. Dua kekalahan beruntun dari Arsenal dan Manchester City sempat menghentikan laju mereka sebelum jeda internasional. Meski demikian, performa Xhaka di lima laga awal tetap menjadi sorotan. Ia terlihat lebih bugar, lebih agresif, dan lebih tajam dalam mendistribusikan bola. Bahkan, ada anggapan bahwa ia tampil lebih dominan dibanding musim 2025/26 lalu.
Ketertarikan Chelsea dan Xabi Alonso terhadap Xhaka pada bursa transfer musim panas lalu menjadi bukti nyata bahwa kualitasnya masih diakui di level tertinggi. Sunderland saat itu bersikap tegas menolak segala pendekatan. Namun, sikap itu harus diikuti dengan langkah konkret: memperpanjang kontraknya sebelum harga dirinya sebagai pemain bebas transfer membuat klub lain bergerak.
Konteks Indonesia
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, dinamika di Sunderland ini menjadi cerminan bagaimana klub promosi di Premier League mengelola transisi dari tim kuda hitam menjadi kekuatan mapan. Langkah memperpanjang pemain kunci seperti Le Fee dan potensi negosiasi Xhaka menunjukkan pentingnya perencanaan kontrak jangka panjang, sesuatu yang kerap menjadi kelemahan klub-klub Liga 1. Manajemen yang jeli tidak hanya berburu pemain bintang, tetapi juga memastikan aset yang sudah terbukti tidak hilang tanpa kompensasi.
Selain itu, kisah Xhaka yang tetap bersinar di usia 33 tahun bisa menjadi pelajaran bagi klub Indonesia dalam menilai pemain senior. Pengalaman dan kepemimpinan sering kali tidak ternilai, terutama dalam kompetisi sepanjang musim yang menuntut konsistensi mental. Jika Sunderland mampu mempertahankan Xhaka hingga 2029 atau 2030, mereka tidak hanya menjaga kualitas di lapangan, tetapi juga membangun budaya profesional yang diwariskan ke generasi berikutnya.
Ke depan, mata akan tertuju pada langkah Florent Ghisolfi. Apakah ia akan segera menyodorkan proposal perpanjangan kepada Xhaka, atau justru membiarkan kontraknya menuju tahun terakhir? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan arah Sunderland dalam dua hingga tiga musim mendatang, apakah mereka siap menembus kompetisi Eropa secara reguler atau kembali terjebak di papan tengah.



