Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis di New Delhi: Panitia Rekrut 'Pembisik Monyet' untuk Usir Gangguan Satwa
Baca dalam 60 detik
- Panitia Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis di New Delhi mempekerjakan peniru suara lutung untuk mengusir monyet yang kerap mengganggu jalannya pertandingan.
- Langkah ini diambil setelah insiden monyet berkeliaran di tribun saat India Open, serta masalah merpati yang sempat menghentikan pertandingan.
- Kejuaraan ini menjadi ujian bagi India dalam menunjukkan kapasitasnya sebagai tuan rumah event olahraga besar, termasuk Olimpiade 2036.

New Delhi, 10 Agustus — Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis BWF yang akan digelar di Indira Gandhi Indoor Stadium pekan depan tidak hanya disibukkan oleh persiapan teknis pertandingan. Panitia pelaksana juga merekrut sejumlah pria dengan keahlian unik: menirukan suara lutung (langur), primata berwajah hitam yang menjadi musuh alami monyet ekor panjang. Langkah ini diambil untuk mencegah gangguan satwa liar yang kerap menghantui venue-venue olahraga di ibu kota India.
Monyet rhesus memang telah lama menjadi masalah di New Delhi. Mereka kerap masuk ke gedung perkantoran, menyerang pejalan kaki, dan mengganggu aktivitas warga. Kehadiran lutung, yang berukuran lebih besar, dianggap sebagai solusi efektif karena monyet-monyet tersebut sangat takut pada lutung. Namun, alih-alih menerjunkan lutung sungguhan, panitia memilih mempekerjakan peniru suaranya—sebuah profesi yang sudah turun-temurun di India.
Keputusan ini tidak lepas dari insiden memalukan pada ajang India Open beberapa bulan lalu, ketika seekor monyet terlihat berkeliaran di tribun penonton. Kejadian serupa juga pernah menghentikan pertandingan dua kali akibat kotoran burung merpati yang mengotori lapangan, memicu keluhan pemain soal kebersihan. Untuk mengatasi masalah merpati, panitia telah menyebarkan gel non-beracun di atap dan saluran udara stadion—bahan yang biasa digunakan untuk melindungi kabel kereta api.
Salah satu peniru suara lutung, Zafar, yang merupakan generasi ketiga dari keluarga 'pembisik monyet', mendemonstrasikan kemampuannya di hadapan media. "Monyet sangat ketakutan pada lutung, itulah mengapa tiruan suara ini efektif," ujarnya. "Saya sudah bertugas di berbagai kantor pemerintah. Tujuannya bukan menyakiti monyet, hanya memastikan mereka tidak datang."
Sekretaris Jenderal Asosiasi Bulu Tangkis India (BAI), Sanjay Mishra, menegaskan bahwa seluruh masalah yang muncul pada India Open telah diatasi. "Kementerian olahraga telah banyak meningkatkan fasilitas, dan BWF 100 persen puas dengan pengaturan di sini," katanya. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa India serius dalam memoles citra sebagai tuan rumah yang andal, terutama di mata federasi internasional.
Bagi Indonesia, yang juga memiliki tradisi kuat dalam bulu tangkis, persiapan India ini patut dicermati. Keberhasilan India dalam menggelar turnamen besar akan mempengaruhi peta persaingan regional dalam perebutan hak tuan rumah event olahraga. Selain itu, pendekatan non-letal dalam penanganan satwa liar bisa menjadi referensi bagi pengelola venue di Indonesia, yang kerap menghadapi tantangan serupa di beberapa stadion.
Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis ini bukan sekadar ajang olahraga, melainkan panggung uji coba bagi India. Dengan segala persiapan yang dilakukan—mulai dari peniru suara lutung hingga gel anti-merpati—pertanyaannya kini: akankah India mampu tampil mulus tanpa insiden, atau justru gangguan satwa kembali mencuri perhatian? Jawabannya akan menentukan seberapa besar kepercayaan dunia terhadap kapasitas India sebagai tuan rumah masa depan.



