Tragedi Kebakaran Bar di Bangkok: Polisi Tuntut Pemilik dengan Enam Dakwaan
Baca dalam 60 detik
- Pemilik bar Rong Beer Na Lad Phrao di Bangkok akan dijerat enam pasal, termasuk kelalaian yang menyebabkan kematian, menyusul kebakaran yang menewaskan 37 orang pada 12 Juli lalu.
- Kebakaran yang dipicu korsleting listrik di plafon itu menyoroti lemahnya penegakan regulasi keselamatan di tempat hiburan malam Thailand, yang kerap menjadi sorotan setelah insiden serupa pada 2009.
- Proses hukum terhadap Suvicha Salaibatr masih tertunda karena kondisinya yang belum pulih, sementara publik menanti apakah kasus ini akan mendorong reformasi keselamatan yang lebih ketat di industri hiburan Thailand.

Polisi Thailand bersiap menjerat pemilik sebuah bar populer di Bangkok dengan enam dakwaan, termasuk kelalaian yang menyebabkan kematian, menyusul kebakaran hebat yang merenggut 37 nyawa pada pertengahan Juli lalu. Surat penangkapan telah diterbitkan pekan sebelumnya, namun pembacaan dakwaan masih menunggu kondisi kesehatan tersangka yang sempat dirawat intensif.
Kebakaran yang melanda Rong Beer Na Lad Phrao, sebuah restoran dan bar yang ramai dikunjungi, terjadi pada malam 12 Juli. Suvicha Salaibatr, sang pemilik, termasuk di antara puluhan orang yang dilarikan ke rumah sakit akibat luka bakar dan cedera lainnya. Menurut penyelidik utama, Isara Na Phatthalung, tersangka kini telah keluar dari unit perawatan intensif, tetapi dokter belum mengizinkan polisi untuk membacakan dakwaan secara resmi.
Enam pasal yang disiapkan mencakup kelalaian yang menyebabkan kematian, luka serius, dan kebakaran, serta perusakan kriminal dan pengoperasian tempat hiburan tanpa izin. Jika terbukti bersalah, Suvicha menghadapi hukuman penjara hingga 10 tahun untuk dakwaan kelalaian saja. Polisi menyebut korsleting listrik di plafon sebagai pemicu api, dan mayoritas korban meninggal akibat menghirup asap.
Insiden ini kembali membuka luka lama tentang lemahnya pengawasan keselamatan di tempat hiburan malam Thailand. Pada 2009, kebakaran di klub Santika saat perayaan Tahun Baru menewaskan 67 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya. Meski tragedi berulang, praktik keselamatan di banyak bar dan klub masih jauh dari standar, dengan banyak tempat beroperasi tanpa izin yang layak.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya penegakan regulasi keselamatan di sektor hiburan yang kerap abai. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, banyak tempat hiburan malam yang beroperasi tanpa memenuhi standar keselamatan kebakaran, seperti kurangnya jalur evakuasi dan alat pemadam yang tidak terawat. Kasus kebakaran di diskotek dan bar juga pernah terjadi di Indonesia, meski dengan skala yang lebih kecil.
Menurut pengamat kebijakan publik, kasus Bangkok menunjukkan bahwa sanksi hukum yang tegas terhadap pemilik usaha yang lalai dapat menjadi efek jera. Namun, tanpa pengawasan rutin dan sertifikasi keselamatan yang ketat, risiko serupa tetap mengintai. Pemerintah daerah di Indonesia seharusnya menjadikan insiden ini sebagai momentum untuk mengaudit tempat-tempat hiburan dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan.
Polisi Thailand berencana menetapkan Suvicha sebagai tersangka tunggal dalam beberapa hari ke depan, begitu dokter mengizinkan. Sementara itu, keluarga korban dan publik menanti proses hukum yang transparan. Pertanyaan yang menggantung: apakah kasus ini akan benar-benar mengubah cara Thailand—dan negara-negara tetangga—memperlakukan keselamatan di tempat hiburan, atau hanya akan menjadi catatan duka yang terlupakan?



