Nikki Sixx Tutup Pintu Album Panjang: 'Saya Tak Lagi Percaya pada Full-Length Record'
Baca dalam 60 detik
- Bassis Motley Crue menyatakan berhenti merilis album studio berdurasi penuh karena industri musik kini berorientasi pada singel.
- Ia menilai proses produksi 10 lagu terlalu berat dan tidak efisien, sementara pendengar hanya menikmati satu atau dua trek.
- Keputusan ini menandai pergeseran strategi rilis musik yang kian populer di kalangan musisi senior, termasuk di Indonesia.

Nikki Sixx, bassis legendaris Motley Crue, secara terbuka menyatakan tidak akan pernah lagi merilis album studio berdurasi penuh. Dalam wawancara terbaru, ia mengaku sudah tidak percaya pada format full-length record di tengah perubahan perilaku konsumsi musik yang kian mengarah pada singel.
Pernyataan itu disampaikan Sixx saat menjadi bintang tamu dalam program Joann Butler In Studio With... Ia menegaskan bahwa era album 10 lagu sudah usai. Menurutnya, proses kreatif untuk menghasilkan satu album utuh memakan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sebanding dengan apresiasi pendengar. "Kalau kamu bikin 10 lagu, kamu harus menulis 20. Dan kamu harus berharap lima di antaranya benar-benar bagus," ujarnya.
Lebih jauh, Sixx menyoroti ironi industri musik modern: meski musisi merekam belasan lagu, publik hanya mendengarkan satu atau dua trek favorit. "Radio sudah berubah, streaming terus berevolusi. Jadi saya sangat tertarik pada ide 'sambaran petir'—ketika inspirasi datang, saya langsung menghubungi personel band," jelasnya. Ia mencontohkan pendekatan serupa yang sudah dilakukan Motley Crue lewat soundtrack film The Dirt pada 2019 dan EP Cancelled pada 2024.
Keputusan Sixx bukan sekadar preferensi pribadi, melainkan cermin pergeseran besar dalam industri musik global. Platform streaming seperti Spotify dan Apple Music telah mengubah cara pendengar mengonsumsi musik, dari album utuh menjadi daftar putar berbasis singel. Fenomena ini juga terasa di Indonesia, di mana musisi lokal semakin sering merilis singel atau EP pendek untuk menjaga relevansi di tengah algoritma platform digital.
Bagi musisi Indonesia, pernyataan Sixx bisa menjadi bahan refleksi. Pasar musik dalam negeri yang didominasi singel viral di TikTok dan YouTube membuat banyak label dan artis memilih strategi rilis bertahap. Namun, ada pula yang tetap mempertahankan album sebagai karya utuh, seperti yang dilakukan beberapa band rock tanah air. Pertanyaannya, apakah format album masih relevan di tengah gempuran budaya singel? Atau justru musisi harus beradaptasi seperti Sixx?
Sixx sendiri mengaku sudah berdiskusi dengan Tommy Lee mengenai perubahan strategi ini. Ia bahkan menyebut ada ide lagu yang sudah disimpan sejak 25 tahun lalu dan akan segera diselesaikan. "Saya suka gagasan memiliki satu lagu dengan tim di belakangnya, dan penggemar benar-benar memahami maknanya," katanya. Ia menambahkan bahwa setiap emosi—patah hati, kegembiraan, atau pemberontakan—bisa langsung dituangkan ke dalam satu trek tanpa harus menunggu materi cukup untuk satu album.
Langkah Sixx sejalan dengan tren global yang juga diikuti musisi besar lain, seperti Beyoncé yang merilis album secara mengejutkan, atau Taylor Swift yang memanfaatkan platform digital untuk merilis ulang karya lamanya. Namun, ada juga yang tetap setia pada format album, seperti Foo Fighters atau Metallica. Perbedaan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu formula sukses di industri musik modern.
Ke depan, keputusan Sixx bisa menjadi preseden bagi musisi lain untuk lebih fleksibel dalam merilis karya. Apakah ini akan mempercepat matinya format album? Atau justru album akan menjadi barang mewah yang hanya dirilis oleh segelintir seniman? Yang jelas, pernyataan Sixx menambah daftar panjang musisi yang mulai meninggalkan pakem lama industri musik.



