Rekor Baru: Los Angeles Lakers Dijual Rp200 Triliun, Josh Kushner dan Bob Iger Ambil Alih
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan senilai $12,5 miliar menandai valuasi tertinggi dalam sejarah kepemilikan klub NBA.
- Kushner, adik ipar presiden AS, dan mantan bos Disney, Bob Iger, resmi menguasai saham mayoritas Lakers.
- Transaksi ini berpotensi menggeser peta investasi olahraga global dan memicu minat investor Asia, termasuk Indonesia.

Los Angeles Lakers, salah satu waralaba paling bernilai di dunia olahraga, resmi berganti kepemilikan. Josh Kushner, pengusaha teknologi sekaligus adik ipar presiden Amerika Serikat, bersama Bob Iger, mantan CEO Disney, dilaporkan mengakuisisi saham mayoritas klub dengan nilai fantastis 12,5 miliar dolar AS atau setara Rp200 triliun. Angka ini memecahkan rekor sebagai transaksi termahal dalam sejarah NBA, bahkan melampaui nilai jual klub-klub besar Eropa sekalipun.
Kesepakatan ini hanya berselang beberapa bulan setelah Mark Walter, pemilik mayoritas sebelumnya, mengakuisisi saham dari keluarga Buss pada Oktober 2025 lalu dengan nilai sekitar 10 miliar dolar AS. Kini, Walter melepas kendali klub yang identik dengan ikon global seperti LeBron James dan Kobe Bryant itu. Langkah ini mengejutkan banyak pihak, mengingat Lakers selama puluhan tahun identik dengan keluarga Buss yang diwariskan secara turun-temurun.
Bagi Kushner dan Iger, akuisisi ini bukan sekadar investasi biasa. Keduanya dikenal sebagai figur dengan koneksi politik dan bisnis yang luas. Kushner, melalui perusahaannya Thrive Capital, telah lama berkecimpung di dunia teknologi dan media. Sementara Iger membawa pengalaman panjang dalam mengelola perusahaan hiburan raksasa Disney. Kombinasi keduanya dinilai akan membawa dimensi baru dalam pengelolaan Lakers, terutama dalam hal komersialisasi merek dan ekspansi pasar global.
Dalam pernyataan resminya, Kushner dan Iger menyatakan komitmen jangka panjang untuk membangun warisan Lakers, menghormati kepemimpinan Jerry dan Jeanie Buss, serta berkompetisi di level tertinggi. Mereka juga menekankan dedikasi terhadap para penggemar dan kota Los Angeles. Namun, pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana strategi mereka dalam menghadapi era baru NBA yang semakin kompetitif dan sarat dengan dinamika finansial.
Fenomena ini tidak hanya mengguncang industri olahraga Amerika, tetapi juga berpotensi memengaruhi pasar Asia, termasuk Indonesia. Nilai transaksi yang mencapai Rp200 triliun menunjukkan bahwa waralaba olahraga kini menjadi aset investasi yang sangat menggiurkan. Bagi investor Indonesia, ini bisa menjadi sinyal bahwa olahraga bukan lagi sekadar gengsi, melainkan instrumen bisnis yang serius. Apalagi, dengan semakin maraknya investasi asing di liga-liga Eropa dan Amerika, peluang serupa mungkin terbuka di kawasan Asia Tenggara.
Para analis memperkirakan bahwa langkah Kushner dan Iger akan memicu gelombang investasi baru di NBA, terutama dari kalangan teknokrat dan tokoh hiburan. Mereka menilai bahwa sinergi antara teknologi, media, dan olahraga akan menjadi kunci sukses di masa depan. Lakers, dengan basis penggemar yang besar dan loyal, menjadi panggung ideal untuk menguji model bisnis tersebut.
Namun, tantangan tetap ada. Tekanan untuk meraih gelar juara akan semakin besar, mengingat investasi yang ditanamkan begitu tinggi. Selain itu, dinamika ruang ganti pemain dan kebijakan liga yang terus berubah menuntut manajemen yang cermat. Pertanyaannya, akankah duo Kushner-Iger mampu membawa Lakers kembali ke puncak kejayaan, atau justru terjebak dalam pusaran bisnis yang kompleks? Hanya waktu yang akan membuktikan.



