Joe Root Hapus Jam Malam Tim Inggris: Kepercayaan Penuh atau Risiko Baru?
Baca dalam 60 detik
- Kapten anyar Inggris, Joe Root, memutuskan tidak memberlakukan jam malam selama seri melawan Pakistan, menekankan tanggung jawab pribadi pemain.
- Keputusan ini muncul setelah serangkaian insiden di luar lapangan yang memicu kritik terhadap budaya tim, termasuk skorsing Ben Stokes dan Gus Atkinson.
- Langkah ini menjadi ujian bagi era kepemimpinan Root-Fleming untuk menyeimbangkan kebebasan pemain dengan tuntutan profesionalisme.

Joe Root, kapten baru tim kriket Inggris, dengan tegas menolak menerapkan jam malam bagi para pemainnya selama seri kandang melawan Pakistan pekan depan. Sikap ini diambil di tengah sorotan tajam terhadap budaya tim yang belakangan kerap diwarnai insiden di luar lapangan. Root menilai para pemain adalah profesional dewasa yang mampu bertanggung jawab, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Keputusan ini merupakan pembalikan arah dari kebijakan sebelumnya yang sempat digagas oleh CEO ECB, Richard Gould, yang pada Januari lalu mengisyaratkan akan memberlakukan jam malam tengah malam sebagai respons atas serangkaian pelanggaran. Namun, Root yang baru kembali memegang ban kapten setelah pensiunnya Ben Stokes pada Juni lalu, justru memilih pendekatan berbeda: kepercayaan penuh kepada pemain.
Langkah Root ini tidak lepas dari konteks yang lebih luas. Sepanjang tahun lalu, budaya ruang ganti Inggris menjadi sorotan setelah kekalahan telak 4-1 dari Australia di Ashes dan berbagai insiden di luar lapangan, termasuk keterlibatan Harry Brook dalam keributan dengan penjaga klub malam di Selandia Baru. Bahkan, Stokes dan Gus Atkinson sempat diskors dalam seri melawan Selandia Baru karena melanggar jam malam saat pesta di London.
Kini, dengan mundurnya pelatih Brendon McCullum setelah kekalahan 2-1 dari Selandia Baru, dan digantikan oleh Stephen Fleming, era baru kepemimpinan dimulai. Root menegaskan bahwa tim harus mampu mengatur diri sendiri dan saling mengawasi, dengan dukungan Fleming. "Jika pemain diharapkan bertanggung jawab di lapangan, mereka juga harus dipercaya sebagai orang dewasa untuk membuat keputusan baik di luar lapangan," ujarnya dalam podcast Sky Sports Cricket, Rabu (12/8).
Konteks ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Meski kriket bukan olahraga utama di Tanah Air, perkembangan ini memberikan pelajaran tentang manajemen tim profesional. Di Indonesia, kita sering melihat kasus serupa dalam sepak bola atau bulu tangkis, di mana atlet muda menghadapi tekanan besar dan godaan di luar lapangan. Keputusan Root untuk tidak memberlakukan jam malam bisa menjadi studi kasus tentang keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab, sebuah dilema yang juga relevan bagi pengelola tim nasional Indonesia.
Para pengamat menilai pendekatan Root ini berisiko. Di satu sisi, ini bisa meningkatkan moral dan rasa memiliki pemain. Namun, di sisi lain, tanpa pengawasan ketat, insiden serupa bisa terulang. Apalagi, Inggris sedang dalam posisi kurang menguntungkan di klasemen Kejuaraan Tes Dunia. Tekanan untuk meraih hasil positif melawan Pakistan tentu besar, dan gangguan di luar lapangan bisa menjadi faktor yang merugikan.
Menariknya, Root justru melihat ini sebagai peluang untuk membangun budaya tim yang lebih matang. Ia menekankan pentingnya manajemen diri dan saling mengingatkan antar pemain. Ini adalah sinyal bahwa ia ingin mengubah pendekatan dari kontrol eksternal menjadi disiplin internal. Pertanyaannya, apakah para pemain Inggris siap dengan kepercayaan sebesar ini? Atau justru ini akan menjadi bumerang bagi Root di awal kepemimpinannya?
"Saya tidak berpikir ini perlu menjadi masalah besar. Jika pemain diharapkan bertanggung jawab di lapangan, mereka harus dipercaya sebagai orang dewasa untuk membuat keputusan baik di luar lapangan." โ Joe Root
Ke depan, semua mata akan tertuju pada bagaimana Inggris menjalani seri melawan Pakistan. Keberhasilan tanpa insiden akan membuktikan bahwa pendekatan Root tepat. Namun, jika terjadi pelanggaran lagi, kritik akan kembali menghujam dan bisa menggoyahkan posisinya. Ini adalah ujian pertama dari era baru yang dipimpin Root dan Fleming, dan hasilnya akan menentukan arah budaya tim Inggris dalam beberapa tahun ke depan.



