FIFA ASEAN Cup 2026: Indonesia Kalah Jumlah Pemain Naturalisasi dari Filipina, Strategi Heritage Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Filipina mendaftarkan 19 pemain keturunan, terbanyak di Divisi 1 FIFA ASEAN Cup 2026, disusul Indonesia dengan 18 pemain.
- Regulasi naturalisasi FIFA sejak 2004 mendorong negara ASEAN memaksimalkan jalur heritage dan domisili lima tahun.
- Persaingan Grup A diprediksi ketat; kedalaman skuad naturalisasi bisa jadi penentu lolos ke babak gugur.

FIFA ASEAN Cup 2026 akan menjadi panggung pertama bagi delapan negara Divisi 1 yang membawa total 80 pemain naturalisasi. Dari jumlah itu, Filipina mencatatkan koleksi terbanyak dengan 19 pemain, sementara Indonesia berada di posisi kedua dengan 18 pemain. Selisih satu pemain ini menjadi sorotan menjelang turnamen yang digelar di Jakarta dan Bandung pada 25 September hingga 5 Oktober mendatang.
Turnamen edisi perdana ini memakai format dua kasta: Divisi 1 (Premier Division) dan Divisi 2 (Challenge Division). Divisi 1 terbagi menjadi dua grup, masing-masing dihuni empat tim. Indonesia tergabung di Grup A bersama Singapura, Malaysia, dan Bangladesh. Sementara Grup B diisi Thailand, Vietnam, Filipina, dan Pakistan. Dua tim tamu dari Asia Selatan, Bangladesh dan Pakistan, melengkapi kuota peserta di luar ASEAN.
Menariknya, komposisi pemain naturalisasi tidak sekadar soal jumlah. Filipina seluruhnya mengandalkan jalur keturunan atau heritage, tanpa satu pun pemain yang berpindah kewarganegaraan karena domisili. Indonesia juga didominasi pemain diaspora yang berkarier di Eropa dan Super League, tetapi kehilangan Marc Klok yang memenuhi syarat domisili lima tahun namun tidak dipanggil pelatih John Herdman. Keputusan ini menimbulkan pertanyaan tentang prioritas seleksi: apakah murni berdasarkan kualitas, atau ada pertimbangan lain?
Malaysia menempati urutan ketiga dengan 12 pemain, terdiri dari sembilan heritage dan tiga naturalisasi domisili. Tiga pemain domisili Malaysia adalah Bergson da Silva (Brasil), Manuel Hidalgo (Argentina), dan Paulo Josue (Brasil). Pelatih Tan Cheng Ho memanggil kembali Paulo Josue untuk menggantikan Sergio Aguero yang cedera hamstring. Sementara Vietnam membawa delapan pemain, dengan lima heritage dan tiga domisili. Uniknya, tiga eks warga Brasil di skuad Vietnam harus mengadopsi nama lokal: Rafaelson menjadi Nguyen Xuan Son, Hendrio Araujo menjadi Do Hoang Hen, dan Geovane Magno menjadi Nguyen Tai Loc.
Bangladesh dan Pakistan, dua tim undangan, juga tidak mau ketinggalan. Bangladesh memboyong delapan pemain heritage, termasuk Hamza Choudhury (Sheffield United), Farhaan Ali Wahid (19 tahun, jebolan akademi Chelsea dan Fulham), serta Shamit Shome (eks New York Cosmos). Pakistan membawa tujuh pemain heritage. Di sisi lain, Singapura hanya menambah tiga pemain diaspora dan dua naturalisasi, sedangkan Thailand paling minim dengan tiga pemain heritage. Federasi Sepak Bola Thailand menerapkan kebijakan ketat: hanya menerima pemain dengan garis keturunan Thailand, tanpa jalur domisili.
"Regulasi naturalisasi FIFA sejak Januari 2004 dirancang untuk memastikan ada ikatan jelas antara pemain dan negara yang dibelanya," demikian penjelasan dalam sumber resmi.
Bagi Indonesia, turnamen ini menjadi ujian bagi strategi naturalisasi yang gencar dilakukan beberapa tahun terakhir. Dengan 18 pemain diaspora, Tim Garuda memiliki kedalaman skuad yang mumpuni, tetapi tetap harus membuktikan bahwa kuantitas berbanding lurus dengan prestasi. Grup A yang juga dihuni Singapura dan Malaysia akan menjadi ujian awal. Malaysia dengan 12 pemain naturalisasi bisa menjadi pesaing berat, sementara Singapura yang lebih konservatif mengandalkan pemain lokal.
Pertanyaan besarnya: apakah FIFA ASEAN Cup 2026 akan menjadi panggung bagi negara dengan pemain naturalisasi terbanyak, atau justru tim dengan pemain lokal yang solid? Jawabannya akan terlihat di lapangan, mulai 25 September nanti.



