Proyek Roket Australia Terhenti: Dewan Vegetasi Tolak Ubah Perjanjian Habitat Burung Langka
Baca dalam 60 detik
- Dewan Vegetasi Asli Australia Selatan menolak permohonan Southern Launch untuk mengubah perjanjian konservasi di Whalers Way, yang dapat membatalkan proyek kompleks peluncuran orbital.
- Keputusan ini melindungi habitat kritis bagi burung southern emu-wren dan mallee whipbird yang terancam punah, namun menuai reaksi dari industri antariksa yang menginginkan lokasi strategis.
- Pemerintah negara bagian memberi ruang bagi pengembang untuk mengajukan ulang, sementara kelompok konservasi mendesak pencarian lokasi alternatif yang tidak mengorbankan keanekaragaman hayati.

Dewan Vegetasi Asli (Native Vegetation Council) Australia Selatan menolak permohonan perusahaan antariksa Southern Launch untuk mengubah perjanjian warisan di Whalers Way, Semenanjung Eyre, yang selama ini melindungi habitat burung langka. Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi rencana pembangunan kompleks peluncuran orbital yang telah mendapat persetujuan federal dan negara bagian, namun kini terancam batal karena status kawasan konservasi.
Whalers Way, yang terletak sekitar 32 kilometer dari Port Lincoln, telah dilindungi oleh perjanjian warisan sejak lama—sebuah kovenan pada lahan pribadi yang bertujuan menjaga satwa dan habitat asli secara permanen. Southern Launch berupaya mengamendemen perjanjian tersebut agar proyek dapat berjalan, tetapi dewan menolak permohonan itu awal bulan ini. Penolakan ini menegaskan bahwa integritas perjanjian lingkungan tidak bisa diganggu gugat hanya demi kepentingan komersial.
Kawasan seluas 23 hektare itu merupakan benteng terakhir bagi burung southern emu-wren subspesies Semenanjung Eyre yang terancam punah, serta rumah bagi 80% populasi mallee whipbird yang juga dilindungi. Kate Millar, CEO BirdLife Australia, menyambut baik keputusan dewan dan menyebut lokasi tersebut sebagai “salah satu habitat paling berharga dan penting di negara bagian.” Menurutnya, tempat itu adalah “lokasi terburuk” untuk fasilitas peluncuran roket.
“Burung-burung ini bertahan hidup di ujung tanduk. Sudah menjadi kewajiban pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha untuk memulihkan habitat mereka dan memberi peluang sebesar mungkin agar terhindar dari kepunahan,” ujar Millar.
Millar menambahkan bahwa lingkungan alam Australia Selatan sedang menghadapi tekanan bertubi-tubi: ledakan alga berbahaya, kedatangan virus flu burung H5, dan ancaman musim kebakaran hutan yang ekstrem. Pembangunan yang salah di lokasi yang salah, katanya, akan menjadi “satu paku lagi di peti mati” bagi spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia.
Kirsty Bevan, CEO Conservation Council of SA, memuji keputusan dewan dan mendesak pemerintah negara bagian serta pengembang untuk menghormati hasil tersebut dan mencari lokasi alternatif. “Kami mengapresiasi keahlian dan ketelitian dewan dalam menjaga integritas proses perjanjian warisan yang melindungi tempat-tempat seperti Whalers Way,” ujarnya.
Juru bicara pemerintah negara bagian menyatakan bahwa Southern Launch telah diberi tahu tentang penolakan tersebut, namun masih ada kemungkinan bagi perusahaan untuk mengajukan permohonan yang direvisi dan mengembalikan masalah ini ke dewan untuk dipertimbangkan ulang. Sementara itu, Southern Launch belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan konfirmasi dari media.
Menurut situs web perusahaan, lokasi Whalers Way dipilih karena kondisi peluncuran yang menguntungkan: letaknya di pesisir, cuaca stabil, serta lalu lintas kapal dan pesawat yang rendah. Juru bicara Australian Space Agency menambahkan bahwa Australia memiliki beberapa fasilitas peluncuran lain yang beroperasi, seperti Bowen Orbital Spaceport di Queensland dan Koonibba Test Range di Australia Selatan, serta beberapa lainnya dalam tahap pengembangan. “Keunggulan geografis Australia menjadikannya tujuan menarik untuk aktivitas peluncuran dan pengembalian antariksa, dengan area terbuka luas, akses ke berbagai orbit target, dan lingkungan politik serta regulasi yang stabil,” ujarnya.
Keputusan ini menyoroti ketegangan antara ambisi ekspansi industri antariksa dan komitmen pelestarian lingkungan di Australia. Meskipun proyek antariksa menjanjikan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi, dampak terhadap ekosistem rapuh menjadi pertimbangan yang tidak bisa diabaikan. Bagi Indonesia, yang juga tengah mengembangkan sektor antariksa melalui LAPAN dan kini BRIN, kasus ini menjadi cermin penting: perlukah regulasi lingkungan yang lebih ketat sebelum membuka lahan untuk peluncuran roket? Akankah pemerintah dan pengembang di Indonesia belajar dari pengalaman Australia dalam menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan konservasi?



