Liverpool Kembali Tergelincir di Pramusim: As Monaco Comeback di Anfield
Baca dalam 60 detik
- The Reds memimpin dua gol lebih dulu, namun kebobolan tiga gol balasan dari tim tamu.
- Ini kekalahan beruntun kedua Liverpool di pramusim, menyusul hasil buruk melawan Leeds United.
- Jelang laga pembuka Premier League, performa lini belakang menjadi sorotan utama.

Liverpool kembali menelan kekalahan dalam laga uji coba pramusim. Bertanding di hadapan pendukung sendiri di Stadion Anfield, Minggu (9/8) malam WIB, The Reds dipaksa menyerah 2-3 dari AS Monaco setelah sempat unggul dua gol. Hasil ini menjadi alarm kedua bagi skuad asuhan Andoni Iraola menjelang dimulainya Premier League 2026/27.
Jalannya pertandingan memperlihatkan dua wajah berbeda dari Liverpool. Pada babak pertama, permainan agresif dan efektif membuat mereka mendominasi. Alexander Isak membuka keunggulan pada menit ke-16 memanfaatkan umpan-umpan pendek khas dari lini tengah. Florian Wirtz kemudian menggandakan skor lewat penyelesaian di tengah kemelut, membuat publik Anfield optimistis.
Namun, keunggulan dua gol justru membuat tim tuan rumah lengah. Menjelang turun minum, pelanggaran Virgil van Dijk di kotak terlarang memberi hadiah penalti bagi Monaco. Aleksandr Golovin menjalankan tugas sebagai eksekutor dengan sempurna, memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2. Babak kedua menjadi babak yang berbeda; tekanan demi tekanan dilancarkan tim tamu.
Gol penyama kedudukan datang di menit ke-56 melalui Mika Biereth, yang memanfaatkan bola muntah hasil tepisan kiper pengganti Giorgi Mamardashvili. Momentum terus mengalir ke arah Monaco, hingga akhirnya Paris Brunner memastikan kemenangan lewat sundulan pada menit ke-88 menyambut sepak pojok Anis Soubeir. Liverpool gagal membalas dan harus mengakui keunggulan lawan.
Kekalahan ini menjadi yang kedua secara beruntun di pramusim, setelah sebelumnya dibantai Leeds United dengan skor 2-4. Catatan tersebut tentu menjadi pekerjaan rumah besar bagi Iraola, terutama soal soliditas pertahanan yang tampak rapuh saat menghadapi tekanan. Statistik menunjukkan, dari dua laga terakhir, gawang Liverpool sudah kebobolan tujuh gol.
Bagi pengamat sepak bola, hasil ini bukan sekadar masalah skor. Ada indikasi bahwa lini belakang Liverpool masih mencari ritme terbaiknya, terutama dengan rotasi pemain yang masif. Andoni Iraola, yang dikenal dengan pendekatan menekan, tampaknya masih perlu menyempurnakan transisi bertahan saat kehilangan bola. Pertanyaan besarnya, apakah ini hanya masalah kebugaran atau ada celah taktis yang lebih dalam?
Menariknya, bagi penggemar sepak bola di Indonesia, hasil ini menjadi bahan evaluasi menarik. Banyak suporter Liverpool di Tanah Air yang mengikuti setiap laga pramusim dengan harapan tinggi. Kekalahan beruntun tentu memicu kekhawatiran, tetapi perlu diingat bahwa pramusim adalah ajang eksperimen. Para pemain muda dan skema baru diuji, dan hasil akhir bukanlah prioritas utama.
Liverpool masih memiliki satu laga uji coba tersisa melawan Como sebelum memulai musim resmi. Pertandingan pembuka Premier League melawan Newcastle United di St James' Park pada 23 Agustus akan menjadi ujian sesungguhnya. Jika performa melawan Monaco terulang, maka perjalanan The Reds di musim baru bisa menjadi terjal. Akankah Iraola menemukan formula yang tepat dalam waktu seminggu?



