Man United Diminta Tinggalkan Rencana Mason Mount demi Rekrut Eduardo Camavinga
Baca dalam 60 detik
- Cedera anyar Mason Mount memaksa INEOS meninjau ulang strategi lini tengah Manchester United.
- Eduardo Camavinga muncul sebagai target utama setelah The Athletic mengonfirmasi ketertarikan klub.
- Keputusan transfer ini akan menentukan daya saing Setan Merah melawan Arsenal dan Tottenham musim depan.

Manchester United kembali dihadapkan pada dilema transfer yang sudah akrab: apakah tetap bertahan dengan rencana yang ada atau berbelok menuju opsi yang lebih menjanjikan. Setelah Mason Mount kembali mengalami cedera, tekanan kepada INEOS untuk mendatangkan gelandang baru kian menguat, dengan nama Eduardo Camavinga dari Real Madrid kini menjadi sorotan utama.
Mount, yang direkrut dari Chelsea pada 2023 dengan banderol 60 juta poundsterling, belum pernah konsisten tampil di Old Trafford. Cedera yang dialaminya saat melawan Paris Saint-Germain baru-baru ini menjadi pukulan telak, terutama setelah ia menunjukkan performa impresif di pramusim. Alih-alih menjadi solusi, Mount justru menjadi simbol kerentanan skuad asuhan Michael Carrick.
Keputusan untuk merekrut Mount kala itu sempat dipertanyakan, terutama karena United memilihnya ketimbang Declan Rice yang kemudian membawa Arsenal bersaing memperebutkan gelar. Kini, dengan Mount yang tak bisa diandalkan, United butuh gelandang bertahan yang mumpuni. Laporan Laurie Whitwell dari The Athletic menyebut United telah melirik Camavinga, pemain yang oleh analis Harvey Diamonds dijuluki sebagai salah satu gelandang bertahan terbaik dunia.
Camavinga, yang juga bisa bermain sebagai bek kiri, menawarkan fleksibilitas yang dibutuhkan Carrick. Dengan akurasi umpan mencapai 92 persen di La Liga musim lalu serta rata-rata 2,7 tekel dan intersep per pertandingan, ia jauh lebih unggul dibanding Mount yang hanya mencatat 82 persen akurasi umpan dan 1,4 tekel per laga. Kehadirannya akan melengkapi kuartet impian bersama Kobbie Mainoo, Andrey Santos, dan Youri Tielemans.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, dinamika ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub besar Eropa berhati-hati dalam belanja pemain. Keputusan United bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Asia Tenggara yang kerap tergoda membeli pemain mahal tanpa mempertimbangkan risiko cedera. Di sisi lain, ketertarikan pada Camavinga menunjukkan pentingnya perencanaan jangka panjang dalam membangun skuad.
Dengan Arsenal yang sudah merekrut Bruno Guimaraes dan Tottenham yang mengeluarkan dana besar untuk Sandro Tonali serta Mateus Fernandes, United tidak punya banyak waktu. Jika gagal mendatangkan Camavinga, mereka berisiko tertinggal dalam persaingan memperebutkan gelar. Pertanyaannya, akankah INEOS berani mengambil langkah berani ini, atau kembali terjebak dalam pola lama yang justru memperlemah tim?



