TNI AL Tegaskan Passex dengan China di Timur Taiwan Bagian dari Diplomasi Maritim
Baca dalam 60 detik
- KRI I Gusti Ngurah Rai-332 menggelar latihan lintas laut dengan Angkatan Laut China di perairan timur Taiwan saat perjalanan pulang dari Vladivostok.
- TNI AL menyebut kegiatan ini sebagai praktik umum 'naval brotherhood' yang sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif Indonesia.
- Latihan tersebut berpotensi mempengaruhi dinamika keamanan regional dan persepsi internasional terhadap posisi Indonesia di tengah ketegangan Selat Taiwan.

Angkatan Laut Indonesia menegaskan bahwa latihan lintas laut (Passing Exercise/Passex) dengan kapal perang China di perairan timur Taiwan, yang berlangsung saat KRI I Gusti Ngurah Rai-332 dalam perjalanan pulang ke tanah air, merupakan wujud diplomasi maritim yang lazim dilakukan antarnegara. Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama Tunggul, menyebut kegiatan ini sebagai "goodwill engagement" yang mencerminkan persaudaraan antarmaritim serta membuka ruang kerja sama yang saling menguntungkan.
Passex tersebut bukanlah agenda yang berdiri sendiri. KRI I Gusti Ngurah Rai-332 baru saja menyelesaikan latihan bersama dengan Angkatan Laut Rusia di Vladivostok sebelum melanjutkan pelayaran pulang. Dalam rute yang dilalui, kapal perang Indonesia itu menyempatkan diri untuk berlatih dengan sejumlah negara, termasuk China, sebagai bagian dari rutinitas yang memperkuat jaringan diplomasi pertahanan.
Kementerian Pertahanan China sebelumnya mengonfirmasi bahwa fregat Indonesia dan kapal Honghe akan melakukan latihan navigasi bersama di perairan timur Taiwan pada pertengahan Agustus. Materi latihan mencakup komunikasi dan pengisian perbekalan di laut, yang dirancang untuk meningkatkan interoperabilitas dan kerja sama operasional kedua angkatan laut. Perairan timur Taiwan sendiri menghadap Samudra Pasifik dan Laut Filipina, berada di luar kawasan Laut China Selatan yang kerap menjadi sorotan.
Bagi Indonesia, langkah ini menegaskan komitmen politik luar negeri bebas aktif yang selama ini dijunjung. Meski berada di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China, Jakarta menunjukkan kemampuannya untuk menjalin kerja sama pertahanan dengan berbagai kekuatan besar tanpa harus terjebak dalam salah satu blok. Namun, keputusan ini juga memunculkan pertanyaan mengenai persepsi internasional, terutama di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Taiwan.
Para pengamat menilai bahwa Passex dengan China di area yang sensitif secara geopolitik dapat dibaca sebagai sinyal dukungan terhadap stabilitas kawasan, tetapi juga berisiko memicu kekhawatiran dari negara-negara yang berseberangan dengan Beijing. Meski TNI AL menekankan aspek diplomasi, langkah ini tetap menjadi perhatian bagi mitra-mitra tradisional Indonesia, termasuk Amerika Serikat dan Australia, yang kerap melakukan latihan serupa di kawasan Indo-Pasifik.
Ke depan, langkah TNI AL ini akan terus dipantau oleh berbagai pihak, terutama bagaimana Indonesia menjaga keseimbangan hubungan dengan kekuatan-kekuatan besar. Apakah Passex semacam ini akan menjadi agenda rutin dalam setiap pelayaran jarak jauh, atau hanya bersifat insidental? Yang jelas, diplomasi maritim Indonesia semakin aktif, dan setiap gerak kapal perangnya kini menjadi perhatian dunia.



