Pilot Air India Jalani Tes Narkoba Ulang Usai Penerbangan Anjlok 91 Meter
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Penerbangan India memerintahkan tes konfirmasi zat psikoaktif terhadap kapten Air India setelah pesawat kehilangan ketinggian drastis.
- Insiden pada 4 Agustus itu melukai 17 orang dan memicu investigasi Biro Investigasi Kecelakaan Penerbangan (AAIB).
- Maskapai di bawah Tata Group ini tengah berupaya memulihkan citra setelah kecelakaan fatal Boeing 787 pada Juni 2025.

Kementerian Penerbangan Sipil India mengumumkan pada Minggu (9/8) bahwa kapten Air India yang pesawatnya mengalami penurunan drastis akibat turbulensi tengah menjalani tes lanjutan untuk deteksi zat psikoaktif. Hasil skrining awal terhadap pilot-in-command menunjukkan indikasi yang memerlukan pemeriksaan lebih mendalam di laboratorium rujukan.
Insiden yang terjadi pada 4 Agustus lalu itu melibatkan Airbus A320 yang mengangkut 137 penumpang dan delapan awak. Pesawat yang terbang dari Phuket, Thailand, menuju New Delhi kehilangan ketinggian sekitar 91 meter sebelum akhirnya berhasil distabilkan dan mendarat dengan selamat. Sebanyak 17 orang, termasuk delapan penumpang dan empat awak kabin, dilaporkan mengalami luka-luka dan sempat dirawat di rumah sakit setelah pendaratan.
Kementerian mengklasifikasikan peristiwa ini sebagai "insiden serius" dan telah menyerahkan penyelidikan kepada Biro Investigasi Kecelakaan Penerbangan (AAIB). Kedua pilot untuk sementara dicabut dari jadwal terbang hingga investigasi dan hasil tes konfirmasi keluar. "Tindakan lanjutan akan diambil berdasarkan hasil investigasi dan tes konfirmasi," demikian pernyataan resmi kementerian.
Air India sendiri membenarkan bahwa tes skrining pasca-penerbangan telah dilakukan terhadap para pilotnya, namun hasilnya belum diserahkan kepada manajemen perusahaan. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan barang-barang berserakan di lorong kabin dan sejumlah penumpang dievakuasi dengan tandu.
Peristiwa ini menjadi pukulan baru bagi Air India yang tengah berjuang memperbaiki citra. Sejak diakuisisi Tata Group pada 2022, maskapai ini memang gencar melakukan modernisasi armada dan memesan ratusan pesawat baru. Namun, berbagai kendala menghadang, mulai dari keterlambatan pengiriman pesawat hingga penutupan wilayah udara akibat konflik India-Pakistan pada 2025.
Yang lebih memberatkan, pada Juni 2025 lalu, Air India Flight 171 yang mengoperasikan Boeing 787 Dreamliner jatuh tak lama setelah lepas landas dari Ahmedabad. Kecelakaan itu menewaskan 241 dari 242 orang di dalam pesawat serta 19 orang di darat. Peristiwa tragis tersebut menjadi noda terbesar dalam sejarah maskapai dan memicu pertanyaan serius tentang standar keselamatan.
Untuk memulihkan kepercayaan publik, Air India baru saja menunjuk Tewolde Gebremariam, mantan CEO Ethiopian Airlines, sebagai pimpinan baru. Gebremariam dikenal sebagai veteran industri yang dianggap mampu membawa perubahan. Namun, tantangan yang dihadapinya tidak ringan: bagaimana membuktikan bahwa keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama di tengah tekanan komersial dan operasional.
"Keselamatan penerbangan adalah fondasi kepercayaan penumpang. Insiden seperti ini, meski tidak fatal, dapat menggerus reputasi maskapai dalam sekejap," ujar seorang analis penerbangan yang enggan disebut namanya.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap maskapai, terutama yang sedang dalam masa transformasi. Regulator penerbangan di Tanah Air perlu memastikan bahwa standar keselamatan tidak dikorbankan demi efisiensi bisnis. Pertanyaannya, apakah langkah Air India untuk memperkuat tata kelola keselamatan akan cukup memulihkan kepercayaan penumpang internasional, termasuk dari pasar Asia Tenggara yang menjadi salah satu rute utama maskapai tersebut?



