Elmo Ingatkan Pentingnya Empati di Tengah Krisis Iklim pada Climate Week New York
Baca dalam 60 detik
- Elmo dari Sesame Street tampil di Climate Week New York untuk menyoroti dampak krisis iklim pada anak-anak.
- Sesame Workshop mengungkap studi global tentang bagaimana anak-anak memahami cuaca ekstrem dan peran orang tua.
- Para ahli menekankan pentingnya berbagi pesan bahwa ada orang lain yang peduli dan solusi nyata untuk menghadapi perubahan iklim.

Pada Selasa, di tengah gelaran Climate Week di New York City, perhatian publik justru tertuju pada sosok berbulu merah berusia tiga setengah tahun: Elmo. Muppet ikonik dari Sesame Street itu naik panggung untuk membahas bagaimana krisis iklim memengaruhi anak-anak, dalam acara bertajuk “Big Storms, Big Feelings”. Kehadirannya menyoroti pergeseran narasi iklim yang kian menyentuh ranah psikologis dan sosial, bukan sekadar data suhu dan emisi.
Elmo menceritakan pengalamannya saat badai menerjang Sesame Street, sebuah kisah yang pernah ditayangkan dalam episode bersama penyanyi Post Malone. “Kita semua kadang merasa takut, tapi keberanian adalah saat kita takut namun tetap menolong orang lain,” ujarnya. Ia mengaku sempat panik, tetapi berusaha menghibur warga dengan pelukan dan memainkan xilofon. Setelah badai berlalu, lingkungan Sesame Street porak-poranda oleh sampah dan dahan pohon. Elmo juga mengungkapkan bahwa ia menyiapkan tas siaga bencana, dan warga Sesame Street bergotong royong membersihkan lingkungan. “Rumah adalah orang-orang yang membuat tempat itu istimewa. Selama bersama orang yang kita cintai, kita akan selalu di rumah. Itu berlaku dalam cuaca apa pun,” tambahnya.
Pesan Elmo disambut hangat oleh audiens New York, yang tampaknya sudah melupakan dukungannya yang ambigu terhadap New York Knicks di final playoff NBA musim lalu. Namun, di balik penampilan ceria itu, ada kekhawatiran serius: perhatian media dan politik terhadap krisis iklim kian menurun, meski bencana terus terjadi. Kim Foulds, wakil presiden riset dan wawasan di Sesame Workshop, mengungkapkan bahwa pihaknya melakukan studi untuk memahami bagaimana anak-anak memaknai cuaca ekstrem dan bagaimana orang tua menghadapinya dalam konteks global yang beragam.
Dari studi tersebut, para orang tua menyampaikan kecemasan terhadap peristiwa cuaca ekstrem, dan anak-anak melaporkan pengalaman panas menyengat, banjir, serta bencana lainnya. Menurut Foulds, dampak fisik dan gangguan rutinitas menjadi masalah utama. “Gangguan terbesar bagi anak kecil adalah terganggunya rutinitas mereka. Mereka tidak bisa sekolah, kehilangan waktu bermain di luar bersama teman dan orang tua. Meski jenis cuaca ekstremnya berbeda, di semua wilayah kami mendengar pengalaman panas ekstrem yang bervariasi,” jelasnya.
Para ahli yang hadir, termasuk ilmuwan iklim, pejabat Unicef, dan aktivis iklim muda, sepakat bahwa meskipun orang tua sering kesulitan membicarakan krisis iklim dengan anak, anak-anak mampu memahami konsep tersebut dengan cara yang mengejutkan. Mereka bahkan bisa terlibat dalam aksi kecil seperti menanam pohon. Katharine Hayhoe, ilmuwan iklim, menekankan pentingnya berbagi pesan bahwa ada orang lain yang peduli dan solusi yang berhasil. “Hal terpenting yang perlu disampaikan, dan ini didukung sains, adalah bahwa orang lain peduli dan ada solusi yang berhasil. Dua hal itu penting untuk semua orang berusia lima hingga 95 tahun. Anak-anak lebih cepat menangkapnya daripada orang dewasa,” ujarnya.
Bagi Indonesia, pesan ini relevan mengingat kerentanan anak-anak terhadap dampak krisis iklim, seperti banjir, kekeringan, dan gelombang panas yang semakin sering terjadi. Program edukasi iklim untuk anak usia dini masih jarang, padahal mereka adalah kelompok paling rentan secara fisik dan psikologis. Pendekatan yang digunakan Sesame Street—mengemas isu rumit menjadi cerita sederhana dan empatik—bisa menjadi contoh bagi pembuat kebijakan dan lembaga pendidikan di tanah air. Misalnya, memasukkan materi kesiapsiagaan bencana dan perubahan iklim ke dalam kurikulum PAUD atau melalui media kreatif seperti boneka dan lagu.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah pesan seperti yang dibawa Elmo mampu mendorong tindakan nyata dari para pemimpin dunia, atau hanya menjadi hiburan sesaat di tengah konferensi iklim. Yang jelas, anak-anak telah menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi agen perubahan jika diberi ruang dan bahasa yang tepat.



